Legenda Buah Surgawi

Legenda Buah Surgawi
Eps. 85 — Soal Pertunangan


"Xia'er, kenapa kau lambat datang. Kakek sudah menunggu sejak tadi." Yue Jian langsung menegur Linxia ketika baru sampai.


"Aku sedang berlatih Kakek, mana bisa aku-..." Perkataan Linxia terhenti saat pandangannya jatuh ke arah Zhou Yuan. "Kau, Kenapa bisa ada disini?"


Zhou Yuan tersenyum canggung. "Senang bisa bertemu kembali denganmu Nona Yue. Tempat ini adalah penginapanku saat di sekte..."


"Hm, kalian sudah saling kenal?" Yue Jian melirik Zhou Yuan dan Linxia bergantian.


"Bisa dibilang seperti itu Senior..." Zhou Yuan menceritakan sedikit tentang ia dan Linxia ketika di kompetisi.


"Jadi begitu, kenapa kau tidak bilang kalau Xiaxia sudah bertemu dengan cucumu?" Yue Jian menoleh ke arah Zhou Bing.


Zhou Bing mengangkat bahu, ia justru baru mengetahui cerita tersebut dari cucunya.


Nafas Linxia jadi tidak teratur, detak jantungnya berdebar cepat, sepertinya ia baru menyadari sesuatu.


Linxia teringat bahwa Kakeknya mengajak ia ke tempat penginapan calon tunangannya karena ada urusan sebab itu dirinya di ajak kesini. Jika kakeknya berhenti di penginapan ini serta tempat tinggal Zhou Yuan ada disini maka berarti calon tunangannya itu...


"Karena kalian sudah saling kenal jadi Kakek tidak perlu memperkenalkan kalian lagi bukan?" Yue Jian kemudian bangkit dari duduknya. "Xiaxia, ajak Yuan'er pergi ke air terjun itu mungkin dia akan suka, Kakek harus pergi, ada urusan mendesak yang harus Kakek urus terlebih dahulu..."


Yue Jian kemudian mengajak Zhou Bing ke tempat utama Sekte, mereka harus membahas tentang Organisasi Merak Putih lebih jauh di sana serta mendiskusikan hal ini dengan yang lain.


"Kau yakin ingin memberitahukan ini pada yang lain?" Zhou Bing mengerutkan dahi setelah mendengar rencana Yue Jian.


"Hanya mengetahui kita berdua tidak akan mendapatkan solusi, sebaiknya kita berdiskusi dengan orang yang lebih banyak." Yue Jian berpikir masalah Merak Putih harus melibatkan pihak lain terutama pihak pemerintahan.


***


"Sejak kapan kau mengetahui semua ini?"


Linxia berjalan di samping Zhou Yuan, keduanya menuju air terjun seperti yang diperintahkan Kakeknya. Linxia banyak terdiam ketika keduanya bersama sebelum akhirnya ia membuka suara.


Zhou Yuan tersenyum tipis. "Nona Yue, aku tidak bermaksud menyembunyikan ini darimu tetapi saat itu bukan waktunya kita membahas hal tersebut..."


Linxia terdiam, perasaannya masih campur aduk setelah mengetahui calon tunangannya itu adalah orang yang dekat dengannya selama ini sekaligus orang yang merebut hatinya.


Linxia awalnya berniat membatalkan pertunangan tersebut karena tidak setuju dengan keputusan keluarganya tetapi sekarang, setelah mengetahui Zhou Yuan adalah calon tunangannya, pikirannya menjadi bimbang namun di hati terkecilnya ia akui merasa senang.


"Saudara Yuan, bagaimana tanggapanmu mengenai hubungan pertunangan kita?" Linxia bertanya kembali. Dia ingin melihat jawaban Zhou Yuan akan seperti apa.


"Untuk masalah itu... Sejak awal aku tidak keberatan dengan pertunangannya hanya saja belum siap untuk membicarakannya..." Ada banyak hal yang harus Zhou Yuan urus di kehidupan keduanya ini terutama kekuatannya yang masih lemah. Zhou Yuan harus banyak berlatih demi tujuannya.


"Tentu saja aku tidak memaksa Nona Yue menerima pertunangan tersebut jika tidak bersedia. Kita bisa menolaknya bersama-sama." Zhou Yuan mengerti bahwa perjodohan ini bersifat paksaan jadi dia tidak terlalu berharap sejak awal.


Masalah dirinya mau bertunangan atau tidak dengan Zhou Yuan, ia masih bingung. Satu hal yang Linxia sadari, ketika Zhou Yuan merasa tidak keberatan dengan pertunangan ini entah kenapa hatinya menjadi lega.


Beberapa saat mereka bergerak, keduanya tiba di air terjun tempat dulu mereka terjadi kesalahpahaman. Zhou Yuan waktu itu tidak melihatnya lebih jelas tetapi kini ia bisa menyaksikan air terjun tersebut indah.


***


"Tidak sembarang orang boleh datang kesini, hanya murid khusus yang bisa berlatih di air terjun bambu..." Linxia menjelaskan air terjun di depannya.


"Berlatih? Kalian selalu berlatih di air terjun?" Zhou Yuan menaikan alisnya.


"Air yang ada di air terjun bukan air biasa, sulit mengatakannya tetapi kau akan mengerti jika mencoba meminumnya."


Mengikuti ucapan gadis itu, Zhou Yuan menyicip air yang ada dibawahnya. Rasanya sedikit manis dan tangan Zhou Yuan yang menyentuh air tersebut terasa begitu sejuk.


"Air di air terjun dapat diminum dan mempunyai khasiat tertentu, seseorang juga bisa berendam di sana untuk menjernihkan pikirannya jika sedang mencari pencerahan dalam belajar beladiri..."


Kata-kata Linxia terhenti ketika teringat pertemuannya dengan Zhou Yuan saat itu. Hal tersebut membuatnya sedikit malu.


Linxia mengatakan bahwa dirinya juga sering kesini untuk latihan teknik pedangnya, ada tempat pedang kayu tak jauh dari air terjun tersebut.


"Saudara Yuan, ada hal yang ingin aku lakukan ketika bertemu denganmu kembali..." Linxia melemparkan pedang kayu itu kepada Zhou Yuan. "Kalau berkenan, aku ingin berlatih tanding pedang denganmu!"


Zhou Yuan tersenyum tipis, ia menangkap pedang kayu itu lalu membiarkan gadis itu mengambil pedang kayu lainnya.


"Nona Yue, apa kau yakin melakukan ini disini?" Zhou Yuan melihat sekitanya.


"Aku ingin melihat batas kemampuan pedangku sampai mana, aku tidak peduli kalau ada murid lain yang akan datang." Linxia paham maksud Zhou Yuan, tentu akan sangat mengejutkan jika ada murid sekte yang melihat keduanya bersama.


Zhou Yuan mengangguk pelan setelah mendengar jawaban gadis itu, tidak menunggu lagi keduanya bergerak bersamaan dan beradu serangan tanpa menggunakan tenaga dalam.


Kemampuan pedang Linxia tidak kalah tinggi namun tetap saja bukan tandingan Zhou Yuan. Dalam waktu singkat saja Zhou Yuan telah berhasil mendesak gadis itu.


Tidak peduli Linxia menggunakan teknik dan pengalamannya selama ini semua itu serangannya bisa di tebak oleh Zhou Yuan. Menggunakan Teknik Pedang Suara pun tidak berarti karena Zhou Yuan lebih ahli daripada dirinya.


Zhou Yuan menghentikan ayunannya ketika nafas Linxia sudah tidak beraturan, dia membiarkan gadis itu beristirahat.


"Aku sudah menduganya, kemampuan berpedang kita terlalu berbeda jauh..." Linxia tersenyum tipis sambil menenangkan nafasnya.


"Nona Yue, kau terlalu fokus pada langkah kakimu yang ingin terdengar halus sampai akhirnya gerakanmu jadi lambat. Teknik Pedang Suara tidak hanya meminimalisir suara tetapi menyembunyikan suaranya di balik gerakan tubuhmu..." Zhou Yuan memberi masukan pada gadis itu.