Legenda Buah Surgawi

Legenda Buah Surgawi
Eps. 57 — Yue Linxia


Saat Zhou Yuan masih berada di Kota Hana, di tempat Sekte Bambu Hijau, seorang perempuan sedang berlatih dengan pedangnya.


Perempuan itu berusia sekitar empat belas tahunan, memiliki tubuh ramping dengan rambut panjangnya sampai sepinggang. Dengan memakai gaun putihnya, gadis itu tampak anggun saat berlatih didekat air terjun.


Wajah perempuan itu terlihat manis, mempunyai kulit putih seputih salju di kala musim dingin. Meski masih muda, kecantikannya sudah terlihat sempurna seperti gadis dewasa pada umumnya.


Yue Linxia, itulah nama gadis itu, seorang perempuan yang memiliki sorot mata ketegasan dalam pandangannya.


Ketika gadis itu memainkan pedangnya, tiba-tiba ayunannya terhenti, sorot matanya berubah lalu menghunuskan pedangnya pada salah satu arah.


"Sampai kapan kalian mau bersembunyi?" Ucap Linxia dengan tajam.


Tak lama Yue Linxia berbicara, dibalik batu besar yang tak jauh dari gadis itu berlatih, ada dua perempuan yang muncul dibaliknya.


"Kakak Yue maafkan kelangcangan kami..." Kedua perempuan itu buru-buru menyatukan tangannya, takut ia terjadi kesalahpahaman. "Kami kesini hanya ingin menonton permainan pedangmu, hanya itu."


"Kalian lagi." Yue Linxia menggelengkan kepala pelan, jelas ia mengenali kedua perempuan itu sebagai adik seperguruannya.


Linxia menyarungkan pedangnya, kedua perempuan didepannya bisa dibilang orang paling dekat dengan dirinya di sekte Bambu Hijau.


"Apa yang ingin kalian lakukan disini sampai harus membututiku ke air terjun?" Linxia menyipitkan matanya.


"Eh?" Dua perempuan itu saling pandang, tidak menduga Linxia sudah menyadarinya sejak awal.


"Kenapa diam, aku yakin menonton permainan pedangku bukankah satu-satunya alasan kalian kesini bukan?"


Dua perempuan itu ragu sejenak sebelum akhirnya mengangguk jujur.


"Kakak Yue, apakah benar bahwa anda sudah bertunangan, katanya calon tunanganmu sedang menuju kesini sekarang dan ingin mengikuti kompetisi di sekte kita?"


Yue Linxia mengerutkan dahi, sedikit terkejut ketika mereka tiba-tiba membahas sesuatu yang sensitif baginya. "bagaimana kalian bisa mengetahui informasi itu?"


"Eh, se-sebenarnya berita ini tidak terlalu asing di telinga murid-murid sekarang, kami bisa mendengarnya di seluruh wilayah kawasan sekte." Jawab mereka dengan canggung.


Yue Linxia memijat dahinya pelan, tidak menduga berita tentangnya akan tersebar keseluruhan sekte. Pertunangan ia dengan seseorang sepertinya sudah tidak bisa disembunyikan lagi.


"Jadi benar tentang rumor itu Kakak Yue?"


Kedua perempuan itu bisa dibilang adalah wakil para murid sekte yang ingin kepastian berita tersebut benar atau tidak dari mulut yang bersangkutan.


Bagaimanapun Yue Linxia adalah wanita paling terkenal di seluruh murid Sekte Bambu Hijau, selain karena statusnya sebagai anak dari Ketua Sekte atau kecantikannya yang tidak tertandingi, Linxia juga merupakan murid paling berbakat di sektenya saat ini.


Diusianya yang masih muda, Yue Linxia sudah menduduki rangking nomor satu mengalahkan senior-senior mereka yang memiliki umur jauh di atasnya.


Dengan kedua hal tersebut, sudah cukup membuat gadis yang memiliki tatapan ketegasan itu disegani oleh kawan-kawannya termasuk laki-laki.


Sudah tak terhitung banyak kaum pria yang sudah jatuh hati pada Linxia, tidak berlebihan hampir semuanya pernah memendam perasaan padanya.


Mendengar berita Yue Linxia sudah mempunyai calon pasangan tentu saja membuat seluruh murid sekte gempar, hampir setiap orang membicarakannya karena siapapun orang yang bertunangan dengan gadis itu maka bisa dibilang dia adalah laki-laki paling beruntung di dunia.


"Benar, memang demikianlah yang terjadi. Sejak aku masih dalam kandungan, aku sudah mempunyai calon tunangan dari Keluarga Bangsawan..." Yue Linxia berpikir sudah terlambat ia menyembunyikan apapun dari dua perempuan di depannya.


Kedua adik seperguruannya itu sangat terkejut mendengar Linxia mengkonfirmasinya sendiri.


"Lalu Kakak Yue, bagaimana jawabanmu mengenai pertunangan itu, apakah anda setuju?"


"Kalian ini, selalu saja penasaran dengan urusan orang lain..." Linxia memutar matanya dengan malas.


Jika itu orang lain mungkin Linxia akan merespon dengan cara berbeda namun karena dihadapannya kini adalah dua orang paling dekat dengannya, ia masih sabar dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.


"Kalau aku boleh jujur, jelas aku menentang perjodohan ini..." Linxia memandang air terjun di dekatnya, tersenyum tipis. "Sebenarnya aku sudah merencanakan untuk membatalkan pertunangan ini nanti kepada orang tuaku, hanya saja aku tidak terlalu yakin mereka akan meresponnya dengan baik."


Linxia yakin jika ia membicarakan tentang penolakannya pada pertunangan tersebut maka orang tuanya akan marah, tetapi tetap saja ia ingin mengutarakan rasa keberatannya kepada mereka.


"Bukankah itu terlalu cepat Kakak Yue, setidaknya anda harus melihat calon tunanganmu terlebih dahulu, siapa tahu mungkin anda akan berubah pikiran atau ia sangat tam-..."


Belum perempuan itu menyelesaikan ucapannya, Linxia langsung memberikan tatapan tajam yang membuat keduanya menelan ludah sekaligus berkeringat dingin.


"Kalau Kakak Yue tidak mau menjawabnya, tidak apa-apa, kami tidak memaksa atau lainnya. Kami hanya ingin tahu..." Perempuan itu segera menganulir pertanyaannya.


Linxia menghela nafas, tampak lebih berat dari sebelumnya. "Aku menolak pertunangan ini karena memang aku tidak menginginkannya, setampan apapun lelaki itu, sehebat dan sejenius apa tunanganku nanti, aku tetap menolaknya. Aku ingin fokus dulu berlatih."


Yue Linxia adalah seorang gadis itu yang memiliki sifat tegas, selain pada sikap dan perkataannya, ia juga tegas kepada pendiriannya sendiri.


Dua gadis itu tidak melanjutkan pertanyaan lagi, mungkin karena sadar suasana hati Linxia mulai memburuk jadi mereka langsung berbalik dan berpamitan pergi.


Linxia menatap dua adik seperguruannya dari jauh sebelum mereka hilang dari pandangan, kini yang tersisa antara ia dan air terjun di tempat itu.


Linxia menutup matanya beberapa saat, tampak menenangkan pikirannya yang mulai kacau. Linxia kemudian menarik pedangnya kembali sebelum melanjutkan latihannya.


Permainan pedang Linxia terkenal dengan teknik pedangnya yang tidak memiliki suara, setiap pergerakan tubuh maupun ayunan senjatanya seperti tidak bersentuhan dengan udara di sekitarnya.


Teknik Pedang Suara, adalah salah satu teknik dari pedang elemen yang melegenda di dunia persilatan, teknik yang sama yang saat ini digunakan Linxia.


Teknik Pedang Suara berasal dari Klan Yue, sama seperti klan Xiao yang mewarisi Teknik Pedang Air, klan Yue mewarisi teknik pedang elemen tipe suara.


Yang membedakan, klan Yue saat ini sudah hilang di dunia persilatan, klan mereka telah hancur beberapa ratus tahun yang lalu.


Beberapa anggota klan Yue yang selamat waktu itu memilih membubarkan diri ke seluruh penjuru yang membuat mereka kini berpencar dimana-mana, salah satunya adalah dari garis keturunan Yue Linxia.


Teknik Pedang Suara yang konon dikabarkan sudah hilang sebenarnya masih ada di dunia persilatan, Ayah dan Kakek Linxia mengajarkan padanya bagaimana kehebatan dari teknik pedang tersebut.


Linxia banyak diceritakan oleh orangtuanya tentang kehebatan klan Yue, ayahnya memimpikan agar suatu saat nanti bisa menghidupkan klan Yue kembali di dunia persilatan.


Alasan yang sama membuat Linxia ingin terus bertambah kuat sampai sekarang, ia ingin harapan ayahnya bisa terkabul oleh dirinya.


"Ini masih belum cukup, aku harus lebih menguasainya..." Linxia terus mengulangi gerakan teknik pedangnya, melatihnya hingga ke tingkat yang lebih sempurna.