
Tetua Ketiga kaget bukan main saat melihat Jiang Qisha, ia melompat mundur cukup jauh dengan jantung yang berdetak lebih cepat.
Tetua Ketiga tidak merasakan hawa keberadaan Jiang Qisha saat tiba-tiba pria paruh baya itu muncul di depannya, hal itu membuatnya kaget setengah mati.
Ketika Tetua Ketiga melihat wajah Jiang Qisha lebih teliti saat itulah ia menyadari identitas orang didepannya.
"Tidak mungkin, kau, bagaimana bisa kau ada disini?!" Tetua Ketiga tidak mungkin salah mengenal orang, dia yakin orang dihadapannya adalah jagoan nomor satu di Kekaisaran Bulan.
Tetua Ketiga sudah hidup sangat lama, ia juga ikut serta dalam peperangan besar di Era Kehancuran antara pemerintah melawan para organisasi jadi dirinya tidak mungkin lupa dengan wajah Kaisar Bulan tersebut.
Jiang Qisha juga adalah salah satu faktor bagaimana pihak organisasi harus kalah dalam peperangan seratus tahun yang lalu, kekuatan pria paruh baya didepannya sangat kuat, membuat pihak organisasi kewalahan dibuatnya dan terpaksa harus mundur.
Jiang Qisha tampak tidak peduli dengan reaksi Tetua Ketiga, "Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, kenapa kelompok kalian ada disini? Seharusnya Salju Abadi telah bubar setelah peperangan besar itu..."
Tetua Ketiga merapatkan giginya, tidak salah lagi orang di depannya adalah sungguh Kaisar Bulan. Tanpa menjawab pertanyaannya, Tetua Ketiga langsung melemparkan rantai-rantainya pada Jiang Qisha.
Serangan tersebut di sambut Jiang Qisha dengan kepalan tangan yang kini sudah dibalut oleh api biru, keduanya beradu jurus yang menunjukkan pertarungan berat sebelah.
Tetua Ketiga sudah cukup kelelahan melawan Zhou Bing sebelumnya, ia memutar otaknya agar bisa melarikan diri namun sebelum ia berpikir lebih jauh, dua rantainya tiba-tiba hancur usai Jiang Qisha memukulnya dengan tinju apinya.
Jiang Qisha kemudian bergerak cepat sebelum Tetua Ketiga bereaksi, ia muncul di dekatnya lalu memberikan serangan tapak pada dada Tetua itu.
Seketika Tetua Ketiga terlempar beberapa meter dan memuntahkan darah, dadanya terasa panas serta tubuhnya mengalami luka dalam yang cukup serius.
Tetua Ketiga kemudian memandang Jiang Qisha sambil tersenyum sinis. Ia yakin nyawanya akan berakhir disini.
"Kau boleh menang hari ini tetapi suatu saat nanti kekaisaran yang kau bangun ini akan hancur..." Tetua Ketiga terbatuk-batuk, menyeka darahnya yang keluar, ia kemudian melanjutkan ucapannya.
"Kau mengenal Organisasi Kuil Awan Langit bukan, saat ini mereka sedang membentuk aliansi ke seluruh organisasi yang ada di Benua Daratan Utara. Mereka berniat menghancurkan pemerintah dan para sekte seperti kalian, bukan hanya Kekaisaran Bulan, tiga kekaisaran lain juga akan ikut kami hancurkan. Tidak ada yang bisa menghalangi tujuan kami..."
Tetua Ketiga tertawa keras meski sesekali terbatuk-batuk oleh darahnya sendiri. Pernyataannya membuat orang yang di lantai empat terkejut, termasuk Zhou Yuan yang baru datang beberapa menit lalu.
Mendengar kata Organisasi Kuil Awan Langit membuat perhatian Zhou Yuan langsung terfokus ke ucapan Tetua Ketiga.
Organisasi yang telah membunuhnya di kehidupan pertama itu tentu tidak akan pernah ia lupakan, mendengar ternyata organisasi itu masih ada dan bahkan semakin kuat membuat Zhou Yuan mengepalkan tangannya keras.
Jika perkataan Tetua Ketiga benar maka akan sulit bagi ia membalaskan dendam pada organisasi tersebut meski telah terlahir kembali sekalipun.
Zhou Yuan dikehidupan pertama memang telah mencapai pendekar tingkat tinggi, biarpun demikian pada akhirnya ia mati di kepung oleh mereka.
Melawan sendiri menghadapi organisasi sebesar Kuil Awan Langit memang mustahil dilakukan tetapi Zhou Yuan tidak akan menyerah dengan tujuannya.
Yang Zhou Yuan tidak sangka adalah organisasi tersebut memiliki ambisi lebih besar dari dugaannya, menghancurkan 4 Kekaisaran terkesan berlebihan namun mengingat kekuatan organisasi tersebut, bukan hal tidak mungkin kejadian itu bisa terjadi.
Di empat Kekaisaran, hampir ada ribuan organisasi kriminal yang ada di dunia persilatan.
Kekuatan mereka sangat kuat dan jika mereka semua bersatu seperti tujuan organisasi Kuil Awan Langit, kekuatannya akan mengimbangi kekuatan gabungan pemerintahan dan para sekte sekalipun bahkan boleh jadi lebih.
Jiang Qisha nyatanya tidak bereaksi seperti yang Zhou Yuan dan lainnya rasakan, sebagai kaisar ia lebih memahami konflik dunia persilatan lebih jauh dibandingkan orang lain.
Gejolak sebenarnya sudah muncul sejak belasan tahun terakhir antara organisasi dan pemerintah, tidak mengherankan jika suatu hari apa yang dikatakan Tetua Ketiga itu bisa terjadi, peperangan besar seratus tahun yang lalu mungkin akan kembali terulang dengan skala yang lebih besar.
Jiang Qisha mendengus lalu membuat pedang api di tangannya. "Aku tidak peduli, sejak awal aku tidak pernah takut pada kelompok kalian, kau pikir pemerintah selama ini diam saja? Kami juga mempunyai cara sendiri menghadapi kalian..."
Tanpa menunggu balasan Tetua Ketiga, Jiang Qisha mengayunkan pedang apinya dan memotong leher kepala pria itu.
Jiang Qisha sadar membiarkan Tetua Ketiga lebih banyak berbicara justru membuat yang lain khawatir, ia juga yakin tidak dapat mengorek informasi darinya sehingga ia langsung membunuhnya.
"Salam Yang Mulia!"
Tanpa mementingkan kepala Tetua Ketiga yang menggelinding di lantai, Walikota, Zhou Bing dan lainnya langsung segera berlutut untuk memberikan hormat pada Jiang Qisha.
Zhou Yuan yang melihat itu tidak punya pilihan lain selain berlutut juga lalu memberikan hormatnya.
Zhou Bing maupun walikota sama sekali tidak menduga dengan kedatangan Jiang Qisha, walaupun sulit dicerna tetapi kenyataannya di depan mereka adalah Kaisar Bulan sesungguhnya.
***
"Maafkan kedatanganku yang terlambat, aku tidak menduga mereka akan menyerang secepat ini..."
Setelah Jiang Qisha berbicara dengan Zhou Yuan mengenai Organisasi Salju Abadi yang diperkirakan ada di kota Hana, ia segera bergerak untuk menyelidikinya, namun baru Jiang Qisha mendapatkan petunjuk, organisasi itu ternyata sudah bergerak.
Jiang Qisha tidak menyangka Salju Abadi akan menyerang kota besar seperti kota Hana secepat ini, ia pikir organisasi tersebut akan membutuhkan persiapan yang lama dalam melakukannya sebelum mereka bertindak.
Nyatanya salju abadi lebih kuat seingat Jiang Qisha, mereka mampu melumpuhkan pemerintahan dalam waktu yang relatif cepat tanpa diketahui siapapun.
"Yang Mulia, seharusnya kami yang berterimakasih pada anda, jika bukan karena anda nyawa kami bisa berbeda nasib malam ini..."
Pandangan Walikota kemudian tertuju pada para tamu yang kini semuanya tertidur dan menyisakan ia dan keluarganya yang selamat. Kalau bukan ada Zhou Bing dan pengawalnya, ia tidak membayangkan akan seperti apa dirinya di tangan mereka.
Jiang Qisha menghela nafas, ia sudah menyelesaikan penyerangan ini dengan menghabisi seluruh anggota salju abadi tetapi masalahnya tidak cukup disini, dia harus menyelamatkan para tamu yang keracunan.
Jiang Qisha menoleh pada Zhou Yuan, menemukan anak muda itu memiliki banyak pemikiran.
"Yuan'er, apa kau mempunyai solusi untuk masalah ini?"