
Zhou Bing kembali ke penginapannya setelah pertemuan dengan Patriark Sekte, namun saat beberapa langkah ia dari penginapan tercium aroma harum dari dalam.
Zhou Bing masuk untuk menemukan cucunya sedang memasak, aroma harum yang tercium sebelumnya adalah masakan dari Zhou Yuan.
"Kakek sudah kembali, aku sudah menyiapkan beberapa makanan. Kakek boleh mencobanya terlebih dahulu..." Kata Zhou Yuan saat sedang memasak.
Zhou Bing duduk di meja makan, ada beberapa makanan yang cucunya sudah dihidangkan. "Yuan'er, sejak kapan kau pandai memasak?"
"Sejak Ibu mengajarkanku, Kakek bagaimana pertemuan dengan Patriark Sekte?"
"Lumayan baik, diskusinya berjalan dengan sempurna." Zhou Bing mengangguk pelan.
Zhou Yuan kemudian menghidangkan masakan terakhirnya, ia duduk di meja makan tepat dihadapan Zhou Bing. Keduanya segera mengambil sumpit dan memulai makan.
"Bagaimana, apa kau sudah berjalan-jalan di sekte ini? Meski berbeda dengan kota, Sekte Bambu Hijau memiliki pemandangan yang menarik..."
Zhou Yuan mengangguk lalu mengatakan bahwa dirinya sudah berjalan-jalan menyusuri sekitar sekte beberapa jam yang lalu.
Zhou Yuan tidak menceritakan pertemuan ia dengan seorang gadis di air terjun itu, lebih memfokuskan menjelaskan keindahan serta kebersihan Sekte Bambu Hijau.
"Benar, Sekte ini juga terinspirasi dari kota Riva kita, meski bersisian dengan hutan bambu, kebersihan harus dijaga karena itu dapat membuat suatu tempat jadi lebih indah."
Zhou Bing menghentikan gerakan sumpitnya, teringat sesuatu. "Ngomong-ngomong Yuan'er, apa kau sudah siap dengan kompetisi nanti?"
Zhou Yuan mengangguk menjelaskan bahwa besok dirinya akan berlatih disini untuk memantapkan kemampuannya. Kompetisi akan dimulai lusa, Zhou Yuan punya banyak waktu untuk melakukan persiapan.
***
"Yuan'er, Kakek tidak mengharapkan kau menang dalam kompetisi ini, tapi berharap kau menggunakan seluruh kemampuan terbaikmu." Zhou Bing mengelus kepala cucunya diwaktu pagi ketiga mereka tinggal di sekte.
Hari ini adalah hari dimana kompetisi mencari Anggrek Bulan dilaksanakan, Sekte Bambu Hijau sudah selesai merekrut para pesertanya sekitar delapan ratusan orang.
Jumlah tersebut terbilang sangat sedikit untuk mencari Anggrek Bulan yang berada di gunung bambu, harus digaris bawahi, Gunung Bambu sangat luas untuk dijelajahi. Mencari Anggrek Bulan tidak berbeda jauh seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
"Kakek, Yuan mengerti. Kalau begitu Yuan pergi sekarang."
Kompetisi akan dimulai di lapangan sekte, para peserta akan berkumpul di sana sebelum pintu gerbang menuju Gunung Bambu akan dibuka.
Lapangan tersebut sudah banyak peserta yang lain. Zhou Yuan memegang gagang pedangnya, menyadari kompetisi ini akan berakhir sengit serta lama.
Menurut kakeknya, kompetisi mencari Anggrek Bulan memiliki batas waktu empat belas hari. Waktu tersebut sangat panjang untuk para peserta menemukan tanamannya.
Di gunung bambu ada banyak hewan buas dan siluman yang berada di dalamnya. Tidak terlalu berbahaya tetapi tetap harus waspada, kehilangan nyawa bisa saja terjadi kalau tidak hati-hati.
Jika para peserta ingin menyerah di tengah kompetisi ini atau mereka tersesat dan semacamnya, peserta bisa menyalakan kembang api yang diberikan panitia.
Kembang api yang dinyalakan ke atas langit akan mengundang panitia sekte untuk menuju ke sana, menyelamatkannya sekaligus membawanya kembali ke dalam sekte.
"Ah, bukankah dia yang berasal dari Keluarga Xi itu bukan?"
"Benar, dan ternyata rumor itu tidak salah, dia sudah mencapai tingkatan Alam Emas di usianya yang belum 20 tahun..."
Perhatian Zhou Yuan teralihkan ke arah Xi Yan, hampir semua perhatian peserta sebenarnya sedang tertuju ke sana.
Xi Yan adalah orang yang menyerobot antrian beberapa hari kemarin serta dia juga merupakan pendekar paling jenius di generasi muda karena telah mencapai Alam Emas di bawah usia 20 tahun.
Ketika bisa melihatnya lebih jelas Zhou Yuan menyadari laki-laki yang berasal dari Keluarga bangsawan Xi itu memiliki wajah lebih tampan dari seingatnya.
Banyak para perempuan yang menjerit ketika melihat ketampanan Xi Yan, sementara laki-laki itu hanya tersenyum ramah menghadapi mereka.
Selain tampan, Xi Yan mempunyai aura kharisma yang terpancar di tubuhnya seperti layaknya seorang bangsawan, membuat orang-orang melihatnya merasa kagum serta hormat jika bertemu laki-laki tersebut.
Xi Yan tidak berjalan sendiri, ada beberapa orang di belakangnya.
Zhou Yuan mendengar dari peserta di dekatnya bahwa orang-orang itu adalah para peserta yang ingin bergabung dengan kelompok Xi Yan.
Meski kompetisi ini akan dimenangkan satu orang sebenarnya tidak ada aturan untuk para peserta membuat kelompok. Para peserta boleh bergerak secara individual maupun berkoloni sesuai dengan keinginan mereka.
Zhou Yuan bahkan hampir melihat semua peserta di lapangan ini sudah mempunyai kelompoknya sendiri. Memang jika seseorang berkelompok, kemungkinan menang mereka akan jauh lebih besar.
Zhou Yuan sendiri memilih bergerak secara individual, hal tersebut karena dirinya ingin leluasa bergerak nantinya.
Tidak lama dengan kedatangan Xi Yan dan orang-orangnya, seorang wanita yang memiliki paras luar biasa cantiknya memasuki lapangan.
Wanita itu sangat manis, memakai gaun putih dengan rambutnya yang menjuntai panjang sampai sepinggang. Sorot matanya menampakkan ketegasan.
Mata Zhou Yuan melebar, dia tentu mengenali gadis itu sebagai wanita yang dirinya temui di air terjun beberapa hari yang lalu.
"Ah, kau baru pertama melihat gadis itu ya..." Seorang peserta yang tidak dikenal menepuk pundak Zhou Yuan. "Dia adalah murid jenius di sekte ini, kau bukan orang pertama yang jatuh hati padanya dalam sekali pandangan."
Zhou Yuan tersenyum tipis, ia memandang gadis itu justru dengan emosi yang berbeda. "Apa kau mengenalnya?"
"Justru aneh kalau seseorang tidak mengenalnya." Kata peserta itu. "Namanya adalah Linxia, dia adalah putri dari Patriark Sekte Bambu Hijau."
"Linxia? Yue Linxia?" Tanya Zhou Yuan dengan nada sedikit terkejut.
Peserta itu mengangguk sebagai jawabannya.
Zhou Yuan menggaruk kepala, tidak salah lagi gadis yang bermasalah dengannya itu adalah calon tunangannya di kehidupan kedua ini.
"Nona Yue, kulihat anda masih sendiri, jika mau kau bisa ikut bergabung bersamaku?" Xi Yan tanpa basa-basi langsung mendekati Linxia dengan senyum ramahnya.
Para peserta yang menonton keduanya bereaksi, mereka terkejut ketika Xi Yan mengajak Linxia berbicara. Dalam sekali lihat saja mereka menyadari Xi Yan sangat tertarik dengan gadis itu.
Semua wanita yang mengagumi Xi Yan merasakan patah hati tetapi mereka tidak berbicara banyak karena mengetahui identitas Yue Linxia juga tak kalah besar dibandingkan Xi Yan.
"Maaf Saudara Xi, aku tidak bisa ikut denganmu..." Ketika Linxia menjawab demikian pandangannya tiba-tiba bertemu dengan Zhou Yuan, keduanya saling pandang. Linxia sedikit terkejut namun hanya sesaat sebelum gadis itu tersenyum penuh arti.
"Aku sudah mempunyai janji dengan seseorang..." Linxia berjalan mendekati Zhou Yuan sebelum berdiri di sebelahnya. "Dia adalah orang yang bersamaku nanti di kompetisi, bukankah begitu?"
Zhou Yuan mengumpat dalam hati, sedikit menyesal tidak segera menjauh dari gadis itu ketika sudah melihatnya. Kini semua perhatian peserta tertuju padanya sementara Linxia tertawa kecil menikmati permainannya.