Legenda Buah Surgawi

Legenda Buah Surgawi
Eps. 116 — Dua Pertikaian


"Senior Xiao, aku tidak yakin dengan itu..." Zhou Yuan menggaruk hidungnya dengan perasaan canggung, menolak permintaan Xiao Fan.


"Tidak perlu khawatir, kita hanya bertarung dengan mengandalkan fisik tanpa menggunakan tenaga dalam sedikitpun. Aku hanya ingin melihat kemampuan seseorang yang telah menjadi guru cucuku." Xiao Fan memasang senyum penuh harap.


Zhou Yuan semakin ragu, pertandingan seperti ini memang bukan hal asing dilakukan oleh seorang pendekar di dunia persilatan.


Biasanya pertandingan yang hanya mengandalkan kekuatan fisik bertujuan untuk mengukur kemampuan bertarung seseorang. Xiao Fan jelas ingin menguji kemampuan dirinya.


Saat Zhou Yuan masih berpikir dan berkemungkinan akan menolak, secara tiba-tiba Xiao Fan memberikan serangan tapaknya.


Zhou Yuan terkejut lalu buru-buru menyambut serangan tapak tersebut dengan tapaknya. Kedua serangan tapak beradu, menimbulkan suara keras seta getaran udara ke sekitarnya, Zhou Yuan maupun Xiao Fan sama-sama terdorong mundur akibat adu serangan tersebut.


"Tidak buruk, Yuan'er, kau mempunyai fisik yang kuat..." Xiao Fan memeriksa tangannya, serangan tapak itu menggunakan 70% kekuatan fisiknya tetapi Zhou Yuan dapat mengimbanginya dengan mudah.


"Senior Xiao, ini..." Zhou Yuan terkejut atas serangan Xiao Fan yang tiba-tiba.


"Kau tidak bisa menolaknya, kita akan bermain-main disini sebentar..." Setelah berucap demikian Xiao Fan kembali maju menyerang Zhou Yuan.


Zhou Yuan tidak mempunyai pilihan lain jadi menyambut serangan Kakek berambut merah itu.


Dua kasim yang melihat mereka dari jauh terkejut saat keduanya tiba-tiba saling menyerang, mereka akhirnya menonton pertandingan Zhou Yuan dan Xiao Fan yang saling bertukar serangan.


Jika tidak menggunakan tenaga dalamnya, kekuatan Xiao Fan tidak berbeda jauh dengan pendekar yang telah mencapai Alam Emas puncak.


Zhou Yuan dan Xiao Fan beradu serangan tapak dengan cepat namun dari keduanya menunjukkan kekuatan mereka hampir berimbang.


Setelah bertukar serangan lebih dari dua puluh jurus Xiao Fan kemudian menaikan kekuatan tenaganya lebih tinggi lagi, Xiao Fan berpikir di tingkat ini Zhou Yuan tidak akan sanggup menerima serangan tapaknya namun diluar dugaannya ternyata Zhou Yuan masih bisa tenang dan menyambut setiap serangan yang datang.


Xiao Fan mengerutkan dahi, tidak menduga Zhou Yuan memiliki kekuatan fisik yang istimewa.


Saat Xiao Fan terlihat berpikir, Zhou Yuan mengambil kesempatan untuk memutar tubuhnya dan melakukan tendangan yang kuat.


Xiao Fan menahan ayunan tendangan itu dengan kedua tangannya namun tidak menduga tubuhnya akan tetap terdorong mundur.


"Anak ini..."


Xiao Fan sulit menyembunyikan keterkejutan diwajahnya, ia tidak menduga Zhou Yuan memiliki kekuatan fisik sekuat ini. Kedua tangan yang menahan tendangan Zhou Yuan kini jadi terasa sakit.


"Yuan'er, kau membuat kakek tua ini hampir mati terkejut..." Xiao Fan tersenyum kecut.


Xiao Fan adalah pendekar yang telah mencapai Alam Cahaya, kekuatan tubuh fisiknya telah kuat dan kokoh, seharusnya pukulan biasa tidak akan menimbulkan rasa sakit baginya namun ternyata tidak bagi serangan Zhou Yuan.


Zhou Yuan tersenyum canggung, memang kekuatannya saat ini telah meningkat pesat sesudah menyempurnakan teknik penempaan fisik ketingkat seratus persen.


"Aku tidak tahu sekeras apa latihan yang kau jalani hingga sampai sekuat ini Yuan'er..." Xiao Fan tersenyum tipis lalu menarik pedangnya. "Kita cukup permanasannya sekarang, bagaimana kalau kita langsung ke pertunjukkan utama."


"Senior Xiao, bukankah lebih baik kita menggunakan pedang kayu?" Zhou Yuan cukup terkejut saat melihat pedang Xiao Fan adalah pusaka kelas awan, kualitas puasaku tingkat tinggi di dunia persilatan.


"Tidak perlu, tenang saja, seperti sebelumnya aku tidak akan menggunakan tenaga dalam. Kau bisa menggunakan pusakamu juga."


Zhou Yuan tersenyum tipis, menarik pusaka ayahnya.


Dalam latihan pertandingan ini, sebenarnya Zhou Yuan bisa saja pura-pura kalah dan menyembunyikan kekuatannya namun untuk beberapa alasan ia tidak mau melakukan itu.


Alasan yang paling utama adalah Zhou Yuan ingin melihat batas kemampuannya melawan Xiao Fan yang merupakan sosok jagoan di Kekaisaran Bulan, jadi ia tidak segan kali ini menyerangnya dengan serius.


Zhou Yuan yang pertama kali menyerang, memainkan pedangnya dengan lincah sementara Xiao Fan tersenyum sambil menangkis setiap serangan yang ada.


Senyuman Xiao Fan tidak bertahan lama saat menemukan gerakan pedang Zhou Yuan semakin cepat dan memiliki gerakan yang sulit di tebak apalagi Zhou Yuan tidak hanya mengayunkan pedangnya melainkan bersama ilmu tendangannya.


Jantung Xiao Fan berdetak lebih cepat saat serangan-serangan Zhou Yuan berhasil mendesaknya lebih jauh. Xiao Fan berniat menekan serangan Zhou Yuan dengan kemampuan pedangnya namun jangankan ingin melakukannya, Xiao Fan bahkan tidak memiliki waktu untuk menyerang balik.


'Anak ini, sampai berapa kali aku harus terkejut dengan kemampuan beladirinya...'


Setelah terus bertukar serangan Xiao Fan akhirnya mengerti kenapa Xiao Rou begitu cepat dalam belajar pedang. Dirinya harus akui ilmu pedang dirinya dan Zhou Yuan terlalu berbeda jauh.


Zhou Yuan terus memainkan pedangnya lebih cepat lagi sampai serangannya sulit dilihat oleh mata lawannya hingga di satu titik, pedang Xiao Fan terlepas dari tangannya.


Xiao Fan mematung di tempat saat pedangnya jatuh ke tanah, tidak percaya Zhou Yuan memiliki keahlian pedang setinggi ini.


Xiao Fan yang sudah mendalami ilmu pedang selama seratus tahun dan dicap sebagai pendekar pedang nomor 2 di Kekaisaran Bulan, sulit menerima seorang bocah yang usianya baru 15 tahun bisa mengalahkannya. Hal tersebut membuat kakek seratus tahun itu terguncang jiwanya.


Xiao Fan tersadar lalu mengusap wajahnya yang sedikit kusut. Xiao Fan kemudian memandang Zhou Yuan sambil berusaha untuk tersenyum.


"Yuan'er, kau adalah pendekar paling berbakat termuda yang pernah aku temui, sulit ada seseorang yang seperti dirimu." Xiao Fan menepuk pundak Zhou Yuan.


Xiao Fan yakin yang mengajari pedang pada Zhou Yuan bukanlah Zhou Bing, ia mengetahui benar kemampuan pedang sahabatnya itu.


Xiao Fan menduga ada seseorang yang telah melatih pedang pada Zhou Yuan secara diam-diam karena mustahil seseorang bisa memiliki kemampuan setingkat itu tanpa seorang guru.


Dugaan Xiao Fan memang tidak salah, kenyataannya Zhou Yuan memang digurui oleh seorang pendekar tingkat tinggi yang pernah menoreh sejarah di dunia persilatan beberapa ratus tahun yang lalu.


Guru Zhou Yuan adalah pendekar yang menciptakan Teknik Pedang Elemen, karena dialah teknik itu dibagi menjadi lima bagian dan diajarkan kelima klan yang berbeda.


"Yuan'er, Kakek tua ini ingin meminta sesuatu padamu dan kuharap bisa memenuhinya..." Xiao Fan kini berbicara lebih santai, menepuk pundak Zhou Yuan.


"Permintaan apa itu Senior?"


"Hm tapi sebelum itu aku ingin kau berjanji dulu untuk bisa memenuhinya."


"Itu... Bukankah tidak bijak berjanji pada sesuatu yang tidak kita ketahui, aku tidak bisa melakukannya."


"Tenang saja, permintaan ini mudah, kau bisa memenuhinya kapan saja." Xiao Fan tertawa kecil.


Zhou Yuan terdiam beberapa saat sebelum berpikir dan menjawabnya. "Selama masih berada dalam jangkauan kemampuanku, mungkin aku bisa menjanjikan memenuhinya."


Xiao Fan tersenyum lebar. "Bagus, permintaanku tidak sulit dan mungkin kau akan menyukainya. Yuan'er, jadilah jodoh cucuku."


"Ini..." Zhou Yuan terkejut, tidak menduga Xiao Fan akan berkata seperti ini.


"Bagaimana, tidak sulit bukan untuk memenuhinya?"


"Senior Xiao, bukankah itu terlalu tiba-tiba." Zhou Yuan tersenyum kecut.


"Tidak juga, aku sudah mempertimbangkannya sejak tadi dan aku berpikir kau adalah orang cocok yang bisa menikah dengan Rou'er."


Zhou Yuan batuk pelan, bingung harus merespon seperti apa namun baru ia akan menjawabnya ada seseorang berkata lantang.


"Saudara Fan, apa kau sudah gila?!" Orang yang datang itu adalah seorang kakek yang lebih tua dari Xiao Fan.


Kakek itu terkejut bukan main ketika Xiao Fan berkata akan menjodohkan cucunya dengan Zhou Yuan.


"Saudara Jian, kenapa anda disini?" Xiao Fan menaikan alisnya. "Apa kau mengikuti sejak tadi?"


Orang yang baru datang tersebut adalah Yue Jian, sahabat Xiao Fan sekaligus pendekar pedang nomor 1 di Kekaisaran Bulan saat ini.


Dugaan Xiao Fan memang tidak sepenuhnya salah karena Yue Jian memang sedang mengikutinya.


Yue Jian sudah di taman ini sejak lama, menyaksikan pertarungan Zhou Yuan dan Xiao Fan. Laki-laki tua itu jelas terkejut dengan kemampuan Zhou Yuan apalagi keahlian pedangnya.


Setelah menyaksikan permainan pedang Zhou Yuan, Yue Jian yakin kemampuan pedangnya akan kalah jika bertanding langsung dengan pemuda itu. Yue Jian tentu tidak menduga, tunangan cucunya itu akan seberbakat ini.


"Fan, apa kau kehilangan akalmu, Yuan'er sudah memiliki tunangan dan dia adalah cucuku." Yue Jian tentu tidak akan tinggal diam Zhou Yuan akan diambil oleh lelaki berambut merah tersebut.


Yue Jian takut Zhou Yuan akan beralih dan membatalkan pertunangannya gara-gara Xiao Fan, setelah melihat bakat Zhou Yuan, Yue Jian tidak akan rela melepaskannya.


"Yuan'er, apa itu benar kau sudah mempunyai tunangan?" Xiao Fan melirik Zhou Yuan yang tersenyum canggung lalu menjawabnya dengan anggukan pelan.


"Bagaimana, dia yang mengatakannya, bukan aku!" Yue Jian tersenyum penuh kemenangan.


"Tidak masalah, Rou'er akan menjadi yang kedua." Xiao Fan tetap tidak mengubah keputusannya.


Yue Jian tersedak nafasnya sendiri, tidak menyangka sahabatnya akau mengambil keputusan tersebut. Dia kini sudah yakin sepenuhnya bahwa mahluk berambut merah didepannya itu sudah kehilangan akal sehatnya.


"Aku tidak akan membiarkannya, Yuan'er sudah dimiliki Xiaxia. Dia akan menjadi istri sah dan satu-satunya."


"Jian, kau harus sadar bahwa jaman telah berubah dibandingkan kita hidup dulu, Yuan'er adalah seorang yang berbakat, tampan, mempunyai lebih dari satu istri bukan hal yang tidak mungkin baginya..."


Yue Jian tetap tidak terima walau fakta tersebut tidak terbantahkan, pada akhirnya kedua kakek itu malah berdebat.


Zhou Yuan yang melihat keduanya bertengkar memijat kepalanya yang sakit, dia tidak mengerti kenapa kejadiannya ini bisa terjadi di kehidupan keduanya.