
Pada akhirnya Yifei mendapatkan sebuah pedang di toko tersebut, pusaka kelas dua yang memiliki warna pink dari gagang hingga sarungnya.
Zhou Yuan sempat menyuruh gadis itu agar mencoba mengalirkan api biru pada pusaka tersebut, seperti yang diperkirakan, pusaka kelas dua mampu menahan suhu panas apinya.
Setelah membeli pedang untuk Yifei, Zhou Yuan meninggalkan Toko Terang Bulan, keduanya kemudian menuju lapangan yang disebutkan oleh Jiang Long sebagai tempat acara pelelangan nanti akan diadakan.
"Pedang ini bagus bukan?"
Di tengah perjalanan, Yifei menaruh pedang pinknya di pinggangnya lalu menunjukkan pada Zhou Yuan dengan sedikit gaya.
Zhou Yuan tersenyum, "Kau tampak cocok memakainya..."
Yifei merasa senang dengan pujian tersebut, gadis itu jadi lebih ceria. "Kau harus ajarkan aku banyak ilmu pedang nanti, aku tidak terlalu memahaminya."
Zhou Yuan mengangguk dan mengelus kepala gadis itu dengan lembut.
Zhou Yuan tidak mengetahui bahwa alasan lain Jiang Yifei ingin membeli pedang bukan karena ia memang membutuhkannya tetapi gadis itu ingin mempunyai alasan agar bisa bersama Zhou Yuan.
Gadis itu memahami ketika acara turnamen ini selesai dan mereka pulang, tidak menutup kemungkinan Zhou Yuan akan berpisah dengannya. Sebab hal tersebut ia ingin memaksimalkan waktunya agar bisa lebih dekat dengan Zhou Yuan.
Ketika Zhou Yuan dan Yifei masih menelusuri jalanan kota, langkah keduanya harus terhenti ketika di atas langit muncul sebuah ledakan kembang api. Tidak hanya satu tetapi ledakan kembang api tersebut terjadi berulang-ulang.
Bukan keduanya saja tetapi para penduduk disekitarnya juga menyaksikan kembang api tersebut. Yifei bahkan terpaku menatap kembang api yang mulai menghiasi langit malam.
Pertunjukkan kembang api itu pertanda bahwa perayaan panen yang dimaksud Jiang Long sudah dimulai.
"Sudah lama sekali aku tidak melihat sebuah perayaan kembang api seperti ini?" Zhou Yuan ikut melihat ke atas langit, yang terlintas pertama kali dibenaknya sekarang adalah kenangan di kehidupan pertamanya.
Sering kali saat ia berkelana ke berbagai kota, pertunjukkan kembang api adalah yang paling menghiburnya.
"Aku baru pertama kali melihat kembang api sedekat ini?" Gumam Yifei lalu melirik ke arah Zhou Yuan.
Zhou Yuan tersenyum dengan lembut. "Bukankah kau selalu ada di kota, pertunjukkan kembang api setidaknya terjadi setiap tahunnya di sana?"
Yifei menggelengkan kepala kemudian mengatakan bahwa selama ini ia menghabiskan waktunya di istana, ia hanya pernah beberapa kali jalan-jalan disekitar kota, itupun hanya sebentar karena alasan keamanan.
Kalau ada sebuah pertunjukkan kembang api seperti sekarang, Yifei hanya bisa melihatnya di menara istana yang jauh dari penduduk sekitar.
"Di istana terlalu sepi, tidak ada teman yang bisa aku ajak untuk mengobrol selain Kakek. Aku selalu mengharapkan bisa keluar dari istana atau berubah menjadi seekor burung yang bisa bebas terbang di atas langit..."
Zhou Yuan tersenyum canggung, bingung harus meresponnya seperti apa.
Memang seperti yang Yifei katakan, lahir di keluarga bangsawan tidak membuat seseorang bisa hidup dengan bahagia dan mendapatkan apa yang mereka inginkan, di kasus tertentu ada bayaran untuk mendapatkan semua itu yaitu dengan kehilangan kebebasan.
Zhou Yuan menghela nafas, perhatiannya kembali ke atas langit. Kembang api terus meletus selama belasan menit ke depan.
Zhou Yuan bisa melihat Yifei begitu menyukai kembang api, gadis itu bahkan sepertinya tidak berkedip ketika kembang api meledak di udara.
Saat Zhou Yuan ingin mengajak Yifei untuk meneruskan langkahnya, tiba-tiba ada seseorang yang memakai mantel putih dan bertudung menabrak pundaknya sehingga membuat orang itu terjatuh.
Orang itu jatuh terduduk dan sedikit meringis kesakitan ketika pantatnya dengan telak menyentuh tanah. Tudung yang dipakai untuk menutup wajahnya seketika terbuka.
Zhou Yuan mengulurkan tangannya berniat membantu orang itu namun sesaat tubuhnya mematung ketika wajah orang tersebut terekspos di depan matanya.
Orang itu adalah seorang perempuan berusia 20-an tahun, wajahnya cukup manis namun bukan itu yang membuat Zhou Yuan bereaksi melainkan penampilan fisik gadis tersebut yang terbilang cukup aneh.
Meskipun memiliki paras manis, gadis itu bukan sepenuhnya manusia. Dia mempunyai telinga seperti kucing serta ada ekor dibelakang tubuhnya, gadis itu tampak seperti manusia setengah kucing.
Gadis kucing itu masih merasa kesakitan lalu menatap tajam Zhou Yuan sesaat, tidak banyak bicara ia segera menutupi wajahnya dengan tudungnya kembali sebelum berdiri tanpa menerima uluran tangan Zhou Yuan. Tanpa sepatah katapun gadis itu kemudian berlalu pergi.
Zhou Yuan menatap punggung gadis itu, ia masih terkejut melihat penampilan fisiknya.
"Bagaimana bisa ras manusia binatang ada disini?!" Batin Zhou Yuan dalam hati.
Zhou Yuan bukan baru pertama kali melihat seorang memiliki penampilan seperti gadis itu, di Benua Daratan Utara memang ada ras lain selain manusia yaitu Ras Manusia Binatang.
Ras ini adalah ras minoritas di empat kekaisaran karena jumlah mereka yang lebih sedikit dibandingkan jumlah manusia yang menduduki benua utara.
Ras manusia binatang hampir sama dengan fisik manusia pada umumnya namun yang membedakan mereka memiliki semacam ekor atau telinga yang menyerupai hewan. Di kasus tertentu ada dari mereka yang memiliki sayap seperti elang dan bisa terbang.
Manusia binatang ini biasanya hidup di pegunungan, mereka hidup berkelompok di berbagai tempat wilayah 4 Kekaisaran, tidak ada yang mengetahui dimana tempat mereka berdiam diri karena mereka selalu bersembunyi dari manusia.
"Apa yang sedang kau pandang?" Yifei yang dari tadi terpaku menatap kembang api kini menemukan Zhou Yuan sedang memandang salah satu arah.
Pertanyaan Yifei menyadarkan Zhou Yuan dari lamunannya.
"Tidak ada..." Zhou Yuan tersadar, "Tadi aku hanya melihat sesuatu yang membuatku penasaran."
Yifei tampak tidak mengerti ucapan Zhou Yuan, ia kemudian mengajak pemuda itu meneruskan langkah mereka yang sempat terhenti.
Di perjalanan Zhou Yuan lebih banyak melamun, ia masih memikirkan gadis telinga kucing itu.
'Bagaimana mereka ada disini, seharusnya ras manusia binatang tidak mau berbaur dengan manusia...'
Zhou Yuan mengetahui sejarah kelam kehidupan manusia binatang karena gurunya menceritakan banyak hal tentang mereka.
Diceritakan, dulu ras mereka sama banyaknya dengan manusia biasa, memiliki wilayah yang luas dan kerajaannya sendiri hingga sampai di suatu era ada peperangan besar yang melibatkan manusia biasa berperang melawan ras manusia binatang.
Peperangan besar itu mengakibatkan ratusan ribu orang tewas dengan jutaan yang menjadi korban, pihak ras manusia binatang adalah yang paling mengalami banyak korban.
Peperangan besar itu terjadi selama beberapa bulan hingga akhirnya berakhir dengan ras manusia binatang yang mengalami kekalahan telak.
Akibat peperangan itu jumlah ras mereka menurun cukup drastis hingga membuat mereka harus melarikan diri ke berbagai tempat demi menghindari manusia yang memburu mereka.
Meski sudah ratusan tahun peperangan itu terjadi dan sebagian besar orang-orang telah melupakannya namun sampai sekarang, kebencian manusia pada manusia binatang tidak akan pernah lupa.
Ras manusia binatang sering dianggap sebagai kalangan hina oleh penduduk kebanyakan, tidak berlebihan ras manusia binatang mendapatkan diskriminasi ekstrem oleh manusia.
Banyak kasus seorang pendekar memburu ras manusia bintang untuk diculik dan dijadikan sebagai budak.
Karena sebab hal tersebut ras mereka memilih hidup di hutan dari pada turun ke kota dan berbaur, selain karena bakal dijauhi mereka juga akan langsung ditangkap oleh manusia.