
Jian Chen mulai terbang di udara dan mendekati tengkorak yang memeluk pedang tersebut sebelum mengambil pedangnya.
Ketika pedang itu ditarik dari sarungnya, terlihatlah sebuah mata pedang yang memiliki warna keemasan sesuai dengan sarungnya.
Zhou Yuan baru melihat sebuah pedang berwarna emas seperti itu, dalam sekali lihat saja dia merasakan bahwa pusaka yang dipegang Jian Chen merupakan pusaka tingkat tinggi yang sama dengan pedang kusanagi.
Jian Chen tersenyum puas sebelum menyarungkan pedangnya kembali dan menyimpannya ke dalam cincin ruang. Jian Chen kemudian turun perlahan mendekati Zhou Yuan.
"Pendekar Jian, terimakasih karena telah bekerjasama denganku, sesuai dengan perjanjian diantara kita, anda boleh mengambil semua harta ini."
Zhou Yuan tersenyum canggung, "Apa anda yakin, koin emas ini cukup untuk membiayai sebuah kota kecil selama beberapa tahun."
Jian Chen tertawa kecil sebelum menolaknya, Zhou Yuan tidak bisa membujuknya lebih jauh jadi dia menghisap gunungan koin emas itu ke dalam cincin ruangnya.
"Pendekar Yuan, ada yang aku berikan padamu juga sebagai imbalan, anggap saja bonus karena membantuku menulusuri makam ini..." Jian Chen kemudian mengeluarkan kantong kulit yang memiliki ukuran sedang. "Di dalamnya ada banyak batu roh, cukup membuat anda menerobos ke tingkatan selanjutnya."
Zhou Yuan menerima kantong kulit itu dan membuka isinya, terlihat banyak batu di dalamnya yang seperti berlian namun berwana kehijauan.
Zhou Yuan menggaruk kepalanya, ia tidak mengetahui tentang batu roh yang dimaksud bahkan tidak tahu cara untuk menggunakannya.
Seolah mengerti apa yang dipikirkan Zhou Yuan, Jian Chen kemudian menjelaskan batu roh adalah sumberdaya paling murni yang bisa digunakan seorang pendekar ketika berlatih.
Khasiat batu roh sangat tinggi dan dapat meningkatkan kekuatan seseorang, cara menggunakannya sama seperti cara ketika menyerap permata siluman.
Zhou Yuan berterimakasih pada Jian Chen meski ia tidak mengetahui sejauh mana khasiat tinggi yang dimaksud. Zhou Yuan kemudian menyimpannya di cincin ruang.
Karena harta rahasia yang di makam itu hanya koin emas dan pedang, maka tidak ada alasan lagi bagi keduanya tetap di makam tersebut.
Zhou Yuan dan Jian Chen mulai berbalik arah, di perjalanannya kembali Zhou Yuan sempat bertanya pada Jian Chen.
"Pendekar Jian, apa alasanmu mengumpulkan Pusaka Elemental Dunia, bukankah satu pedang saja cukup untuk digunakan?"
Jian Chen yang berjalan di samping Zhou Yuan kemudian tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu.
"Mungkin benar bahwa pada akhirnya hanya satu atau dua pedang yang dipakai, alasan aku mengumpulkan pusaka-pusaka ini bisa dibilang karena tidak mau ada pertumpahan darah."
Zhou Yuan mengerutkan dahi, ia tidak menduga alasan Jian Chen diluar perkiraannya.
"Seperti yang aku bilang, pedang Pusaka Elemental Dunia bukanlah senjata biasa melainkan pusaka tingkat tinggi yang pernah dibuat manusia, karena kekuatan yang terpendam dalam pusaka itu sangat hebat akan ada banyak orang yang menginginkannya, pedang ini jadi rebutan bahkan bisa menyebabkan peperangan."
Jian Chen menghela nafas, "Kini aku mempunyai 7 pedang diantara 27 lainnya, selain pusaka di tanganmu masih banyak pusaka yang berceceran dimana-mana."
Dari cerita Jian Chen, Pusaka Elemental Dunia masih belum diketahui banyak orang namun beberapa orang yang telah mengetahui tentang kehebatan pedang itu pasti sudah berusaha untuk mulai mencarinya seperti dirinya.
Jika pedang itu berada di tangan yang salah mungkin akan menimbulkan banyak korban, bagaimanapun Pusaka Elemental Dunia bukanlah sembarang pusaka, di dalamnya dipenuhi hal yang mistis.
"Contohnya adalah pedang asura yang aku pegang, pedang ini dapat merasakan sensasi gairah yang memuaskan setiap kali aku membunuh, jika pengguna pedang ini tidak memilik mental yang kuat mungkin dia akan menjadi seorang haus darah yang membunuh siapapun sekehendaknya."
"Awalnya aku menghampirimu karena khawatir kau tidak bisa menjaga pedang itu tetapi setelah melihat kemampuanmu, setidaknya kau bisa menjaga pusaka itu dari mereka yang memburu Pusaka Elemental Dunia."
"Apa ini berarti aku juga dalam bahaya?" Tanya Zhou Yuan memastikan.
"Kalau seseorang mempunyai alat deteksi seperti giok yang kupegang mungkin mereka bisa mengetahui keberadaanmu yang memakai pusaka itu tetapi aku cukup yakin pedangmu tidak bisa ditemukan mereka apalagi kau mempunyai cincin ruang untuk menyembunyikannya..." Jian Chen mengangguk pelan dan menjelaskan kalau Zhou Yuan tidak perlu khawatir.
Tidak terasa ketika mereka mengobrol, keduanya sudah tiba menuju pintu keluar makam.
Meily sedang menunggu di sana dan ketika melihat Jian Chen sudah kembali, gadis itu menjadi bahagia dan segera memeluknya.
"Maaf, kau pasti sudah menunggu lama disini?" Jian Chen mengelus pipi Meily lembut.
"Tidak apa, yang penting kau bisa kembali dengan selamat." Meily tersenyum manis lalu memeluk Jian Chen lebih erat dan sedikit manja.
Jian Chen hanya bisa tertawa kecil dan membiarkan istri kecilnya itu memeluknya lebih lama.
Meily memang disuruh untuk berjaga di dalam makam untuk memastikan tidak ada seorang pun yang masuk kesini saat Zhou Yuan dan Jian Chen menulusuri ke dalam.
Beruang yang ada di pintu masuk makam sengaja tidak dibunuh agar para pendekar berpikir dua kali jika ingin kesini. Kalaupun ada yang berhasil lolos dari beruang itu Meily akan bergerak dan melumpuhkannya.
Saat Zhou Yuan keluar dari gua, hari sudah kembali malam. Bisa dibilang keduanya hampir seharian di makam tersebut.
Beruang yang menjaga makam terkejut melihat Zhou Yuan dan lainnya muncul dari dalam makam, sebelum ia menyerang, ketiganya sudah terlebih dulu melayang di udara membuat beruang itu tidak bisa menggapainya.
"Apa kita membiarkan siluman beruang itu tetap berjaga di sana?" Tanya Zhou Yuan melirik Jian Chen.
"Meski sudah tidak apapun didalam namun makam kuno tetap berbahaya terutama jebakan mereka yang masih aktif, beruang itu bisa mencegah siapapun agar tidak ada yang sembarang masuk ke dalamnya."
Ketiganya terus terbang hingga akhirnya sampai di atas kota, sesudah menelusuri makam Zhou Yuan ingin kembali penginapanya untuk beristirahat namun Jian Chen dan Meily nyatanya tidak demikian.
"Pendekar Yuan mungkin malam ini adalah perpisahan, aku dan Mei'er akan pergi mencari pedang pusaka yang lain jadi untuk terakhir kali aku berterimakasih atas bantuanmu sebelumnya..." Jian Chen berpamitan diikuti Meily yang mengangguk pelan padanya.
"Kita sama-sama diuntungkan Pendekar Jian, aku juga berterimakasih." Zhou Yuan membungkukkan badannya.
Jian Chen mengangguk sebelum kemudian ia berpamitan pada keduanya. "Kalau begitu aku pergi dulu, Pendekar Yuan, mungkin dilain waktu kita bisa bertemu lagi..."
Selepas berkata demikian Jian Chen dan Meily kemudian mulai melesat menjauhi Zhou Yuan.
"Suamiku, bagaimana dengan kondisi Kak Ziyun sekarang, apakah kehamilannya baik-baik saja?" Di saat pergi Meily sempat berbicara dengan Jian Chen.
"Selama dia memakan yang sehat dan istirahat yang cukup, kandungan Yun'er akan baik-baik saja jadi kau tidak perlu khawatir." Jian Chen mengelus kapala gadis itu pelan.
"Kuharap demikian, aku ingin sekali melihat adik bayi secepatnya..." Meily memasang wajah cemberut.
Jian Chen tertawa kecil, dari ketiga istrinya, Meily memang yang paling manja serta sedikit kekanak-kanakan. Keduanya kemudian meninggalkan kota, melesat ke tempat yang lebih jauh.