
Alex menghela napas panjang, melihat rumah mewahnya untuk terakhir kali yang akan ditempati oleh orang lain. Pria sialan yang pernah dulu dianggapnya saudara kini menjadi musuh nyata yang harus disingkirkan.
"Cih!" Tidak ada yang setia didunia ini, termasuk orang yang sudah berani menghianati papi nya. Jika waktunya tiba, Alex harus memberi pelajaran pada si tua bangka yang sudah menghianati perusahaan.
"Jangan bersedih hati, ini ujian dari Allah. Agar kita bisa lebih dekat dengan-Nya." Mami Tiwi menepuk pundak Alex, menguatkan putranya. Harta yang dimiliki hanya titipan yang sewaktu-waktu akan hilang.
"Mi." Alex memeluk maminya, butiran bening berjatuhan membasahi pipi. "Maafkan putramu ini yang sering durhaka." Alex berlutut, malu dengan semua dosa yang selama ini sudah dilakukannya.
Mami Tiwi berjongkok mengimbangi Alex. Mengelus kepala putranya. "Mami sudah memaafkanmu, kamu putra terbaik yang Mami miliki," jawabnya tersenyum penuh ketulusan, tegar yang Mami Tiwi kini lakukan. Ia harus menjadi penyemangat Alex agar bangkit dan semangat kembali menjalani hari.
Sabrina dan Rey sangat terharu melihat kebersamaan Alex dengan Mami Tiwi yang terbilang langka ini. Biasanya anak dan ibu itu selalu bertengkar dan jarang akur, karena Alex yang selalu bikin ulah dan menyebalkan dengan kelakuan nakalnya.
Mami Tiwi menghapus air mata yang membasahi pipi Alex. "Jangan cengeng, nggak pantes buat cowok bertubuh kekar sepertimu," ledeknya bercanda.
"Mami," rengek Alex memeluk Maminya erat.
"Semuanya sudah siap, Mami. Tak ada yang tertinggal, barang berharga sudah dimasukan ke dalam koper semua," ucap Rey.
"Iya, Rey," jawab Mami Tiwi dan Alex.
Disusul Sabrina yang sudah siap dengan dua koper yang diseretnya. Alex membantu Sabrina membawakan koper tersebut.
Mobil bis yang dipesan Bibi An sudah siap di depan rumah, semua barang dimasukan kebahasi mobil. Sebelum orang suruhan Andra datang, mereka semua segera masuk kedalam bis. Meninggalkan semua kenangan indah yang pernah terjalin di rumah itu.
Mami Tiwi menyembunyikan tetasan air mata yang tak terasa lolos membasahi pipi. Perih serasa tertancap duri, belum empat puluh hari suaminya. Mami Tiwi harus meninggalkan rumahnya.
Sabrina mengelus punggung tangan Alex yang kini bersandar kepala di bahu Sabrina. Harus tegar menerima cobaan dengan ikhlas.
"Terimakasih atas dukungannya Mimi," ucap Alex mengangkat kepalanya melihat wajah cantik istrinya yang kini tersenyum penuh ketulusan.
"Sama-sama," balas Sabrina mengelus pipi Alex dengan jemari lentiknya.
Alex menyuruh Sabrina bersandar kepala dipundaknya, istrinya itu pasti capek atau ngantuk. Apalagi perjalanan masih jauh menuju kampung Bibi An, membutuhkan waktu satu jam perjalanan lagi.
Tepatnya jam empat sore. Mobil memasuki jalanan pedesaan, terlihat ada beberapa petani yang baru pulang dari ladang sembari memanggul cangkul dipundak.
Suasana masih nampak asri, banyak pepohonan yang menjulang tinggi dan juga bukit indah yang terlihat dari jalan. Suasananya juga nampak sejuk, Alex membuka kaca mobil disampingnya.
Menghirup udara baru yang akan menjadi tempat tinggalnya kini. Tak terlalu buruk, sepertinya tempat ini akan membuat Alex betah, membangun cerita baru dengan Sabrina. Wanita yang kini sangat dicintainya itu.
Alex mengecup kening Sabrina yang terlelap dalam dekapannya. Membisikan kata-kata manis, membuat sang empu mengerjap dan membuka mata.
"Lihatlah, Sayang," ucap Alex menunjuk ke area persawahan yang membentang luas.
"Waaah, indahnya." Mata Sabrina membelalak dengan keindahan yang baru dilihatnya ini.
"Suasana alamnya bikin betah ya Sayang, bisa bikin bibit kecebong tiap hari kalau kayak gini." Alex mengedipkan sebelah alisnya, genitnya kambuh. Sampai Alex mendapat cubitan dipinggangnya.