
"Ish, apa-apaan sih pakai nyubit segala, sakit tahu." Sabrina mengelus kedua pipi yang dicubit Alex.
"Gitu saja sakit, nih jariku yang kamu gigit sampai bengkak."
Sabrina terkekeh. "Rasain!"
"Euh ... nih bocah, senang banget lihat penderitaan orang." Alex menatap lekat wajah cantik berambut terurai itu, tak lama sentuhan hangat sabrina rasakan di bibir manisnya. Refleks Sabrina membalas kecupan Alex di bibirnya.
"Mulai nakal, ya." Alex menarik sudut bibirnya membentuk bulan sabit.
"Tuan yang duluan," balas Sabrina dengan pipi memerah bagai kepiting rebus.
Alex mengelus rambut hitam lebat itu. "Mancing ikan yu, nanti kita bakar."
"Yeuy ... aku mau banget, perutku masih lapar." Sabrina mengelus perutnya, pastinya dia lapar tadi pagi hanya makan sedikit karena Alex mengerjainya.
Peralatan memancing sudah siap. Alex sudah mengambilnya dari gudang belakang Villa mereka mulai memancing ikan.
Sudah sepuluh menit menunggu, Alex belum juga mendapatkan ikan. Sedangkan Sabrina sudah dua ekor ikan berukuran sedang didapatnya.
"Kamu pake pelet apaan sih? Ikan pada nyantol gitu," tanya Alex kesal.
"Pake cinta dan kasih sayang dan lagi wajahku itu imut dan manis, sedangkan Tuan berwajah garang. Ikannya pada takut lah." Sabrina terkekeh.
Alex merebut pancingan Sabrina, menukar dengan miliknya. Berharap akan ada ikan yang nyantol, tiga puluh menit berlalu masih sama. Tak satu ikan pun yang di dapatkan.
Sedangkan Sabrina bersorak gembira mendapatkan lima ekor ikan yang ia simpan di embernya dan setelah itu kembali menertawakan Alex.
"Malang sekali Tuan nasibmu itu, ikan pun tak mau berbagi denganmu."
Alex menatap tajam Sabrina, membuat gadis itu diam tampa kata. Seram sekali bagai Singa yang siap mencabik tubuh.
Bikin jantung serasa mau copot saja, ngeri jika sudah memasang wajah garang gitu.
Sabrina mengekori Alex dari belakang, pria itu membawa ember berisi ikan dan segera membersihkan ikan tersebut. Tak dapat dipercaya, Alex melakukan itu tanpa banyak perintah. Sikapnya sangat berbeda dari sebelumnya, tidak ada keangkuhan dan kesombongan. Sebenarnya seperti apa Alex yang sesungguhnya, bahkan pria ini juga bisa memasak. Apakah kesepian dan kekecewaan dimasa lalu yang sudah membuatnya beringas? Entahlah, Sabrina pusing memikirkannya.
"Kenapa lihat-lihat, baru sadar kalau aku tampan," ucap Alex, kedua tangannya fokus meracik bumbu ikan bakar.
Sabrina menggeleng, memperhatikan Alex yang cekatan.
"Tuan sebentar." Sabrina mengecek kening Alex, "tidak demam," gumam Sabrina pelan.
"Aku sadar, dan tak lagi oleng. Kamu pikir cuma wanita saja yang pandai masak, aku pun bisa."
Sabrina manggut-manggut, tak mau mengganggu kekhusuan sang tuan membakar ikan. Setengah jam kemudian ikan itu matang sempurna, wanginya menggugah selera. Sabrina tak tahan untuk memakannya.
Alex menegur Sabrina, ekspresi gadis itu benar-benar sudah tak bisa menahan rasa laparnya. Mulutnya sedikit mangap, Alex kembali menegur jangan sampai air liur Sabrina menetes menimpa Ikan bakarnya dan itu sangat jorok sekali. Sabrina tak menggubris ucapan Alex. Ia pun bergegas mengambil piring dan memasukkan ikan bakar yang sudah matang itu ke piringnya tak peduli dengan ocehan Alex.
"Eum ... enak," ucap Sabrina menjilati lima jemarinya saking menikmatinya ikan bakar yang di buat oleh Alex.
"Bisa nggak sih, tuh jari nggak usah dijilatin kaya gitu jorok tahu."
"Makan itu enakan pakai tangan lebih nikmat, dari pada pakai sendok dan garpu." Sabrina kembali makan dengan tangannya dan setelah itu ia sengaja menjilati jemarinya lagi.
Alex kesal, menarik tangan Sabrina dan menjilat jemari sang gadis.
"Ish ... jorok, kenapa jariku ikut Tuan jilat?" Sabrina menatap tajam.
"Rasanya lumayan, bisa aku coba makan dengan tangan." Alex menautkan kedua alisnya mengulas senyum di bibir.