Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 119


Satu minggu mencari keberadaan Alex. Akhirnya membuahkan hasil, Zayran bisa menepati janji pada Sabrina. Menolong gadis itu agar bisa bertemu dengan keluarganya lagi.


Ternyata Andra masih menempati rumah peninggalan orang tuanya, hal itu memudahkan pencarian Zayran. Tetapi ada keanehan, disaat Zayran menemui Andra. Pria itu nampak tenang, hanya berbalas singkat ingin bertemu Sabrina walau hanya sekali saja.


Permintaan itu Zayran sampaikan pada Sabrina. Setelah setuju untuk bertemu, keduanya bertemu disalahsatu kafe ternama. Entah apa yang dibahas, Zayran tak bisa mendengar. Menunggu diluar, tetapi masih waspada mengawasi.


Keduanya terlihat berjabat tangan, entah ada apa? Menjadi pertanyaan Zayran. Namun, ada guratan dilema dan sesal dari wajah Andra.


"Sabrina, kamu yakin menyetujui permintaan Andra untuk datang ke rumahnya. Bagaimana kalau itu jebakan?"


"Tidak mungkin, Arma. Andra berjanji akan mempertemukan aku dengan Mas Alex."


"Kamu percaya pada pria jahat itu?"


Arma bangkit dari duduknya, mendekat kearah Sabrina yang kini duduk dijendela.


"Aku percaya."


"Konyol, pria itu terlalu kejam."


"Tetapi aku tidak menangkap kebohongan, dia terlihat rapuh."


"Itu pasti jebakan." Arma mengepal-ngepalkan tangan. Rahangnya mengeras disertai helaan napas panjang. "Janji apalagi yang pria brengsek itu katakan?"


Arma beralih tempat, berbaring di tempat tidur.


"Hanya itu saja."


Fokus Sabrina teralihkan melihat langit yang berwarna biru, cerah sekali. Tak sabar menunggu waktu yang dijanjikan Andra untuk kembali bertemu. Rindu tak tahan ingin segera berjumpa dengan Alex.


Bulir bening kini menemani sepinya hati Sabrina. Setelah berbulan-bulan berpisah dengan keluarga tercinta.


"Apa kamu tak merindukan Rey, Arma?"


"Untuk apa?"


"Jangan menyiksa hati, ini sudah waktunya kita harus menemui Andra. Tuan Zayran sudah menunggu di luar," ucap Sabrina. Setelah melihat pesan dari ponsel.


Helaan napas berat mengiringi Arma, bangkit dari pembaringan. Mengambil tas selempang yang tergantung, bercermin merapikan penampilan.


"Harapku, Andra bisa menepati janji," ujar Arma, keluar kamar lebih dulu.


'Aku juga berharap demikian,' batin Sabrina.


Sabrina dan Arma menaiki mobil bersama Zayran. Ada beberapa penjaga juga pihak kepolisian yang mengikuti dari belakang, berjaga jiga Andra bertindak kasar.


Setelah sampai digerbang utama dan memasuki halaman rumah mewah tersebut. Sabrina dan Arma segera turun diiringi debar dalam dada. Zayran juga ikut keluar dari mobil, ketiganya berjalan menuju teras yang ternyata pintu sudah terbuka lebar seolah sudah dipersiapkan.


"Selamat datang, Sabrina." Suara bariton itu menjadi penyambutan.


Andra menyambut riang kedua angan Sabrina, mempersilahkan duduk pada wanita itu. Bahkan, menjamu makanan serba enak.


"Kedatangan kami hanya untuk membawa pulang keluarga yang telah kamu bawa."


"Tenang Sabrina, kesalmu membuatku semakin terpesona."


"Aku sedang tidak main-main." Sabrina berdelik pada lelaki yang kini penatsonya penuh cinta.


"Kamu sangat mencintai Alex?"


"Ya, dia suamiku," balas Sabrina dalam posisi berdiri, enggan duduk. Buang waktu untuk sekedar basa-basi. "Kita kembali ke tujuan awal?"


"Bagaimana jika aku tidak menepati janji."


Sabrina menggebrak meja, memicingkan mata menatap murka.


"Pria sialan! Tak bisa diandalkan," cerca Arma kesal, tak tahan ingin melayangkan tinju.


"Sabar gadis manis, akan aku kembalikan Rey padamu. Tetapi pria itu terlalu kumel, kamu tak akan menyukainya lagi."


"Jangan banyak ngomong lo...."


"Tenang." Andra tertawa lepas membelakangi Sabrina.


"Maaf, kedatanganku kesini untuk menjemput Alex."


"Kenapa hidup Alex begitu beruntung, sedangkan aku...."


"Kamu juga pria pertama yang bersikap baik padaku, terimakasih Kak Andra. Kembalilah pada prilaku baikmu, karena hal itu akan membuatmu bahagia."


Andra masih dalam posisi membelakangi Sabrina. Ia menyuruh anak buahnya untuk mengeluarkan Alex dan Rey dari penjara bawah tanah. Juga Mami Tiwi dan Bi Asih yang berada di kamar.


Mata terasa panas, gemeretar bibir disertai bulir membasahi pipi. Sabrina berlari ke arah Mami Tiwi dan Bi Asih, memeluk keduanya penuh rindu.


"Sabrina, Mami rindu," ucap wanita yang kini terlihat kurus.


"Non." Bi Asih berderai air mata, serasa mimpi bisa bertemu kembali.


Arma juga memeluk Mami Tiwi, saling mencurahkan rindu. Bahagia bisa melihat keluarga yang sempat hilang.


"Sabrina." Suara bariton lembut itu yang dirindukan, selalu datang dalam mimpi siang dan malam. Memanggil mesra nama Sabrina, menjadi kekuatan untuk Sabrina tidak putus asa mencari Alex.


"Mas." Sabrina berhambur dalam dekapan hangat yang sudah lama tidak dirasakan. "Aku rindu," lanjutnya lagi semakin mempererat pelukannya, tak ingin lagi berpisah.


Sedangkan Arma hanya tertegun melihat Rey, bingung mau ngomong apa. Menyapa sewajarnya, mengucapkan kalimat 'hai'. Terlalu singkat untuk mengutarakan kata rindu, karena terlalu malu.


Akan tetapi, dengan berani Rey menarik menarik tangan Arma. Memeluk wanita itu meski meronta, setelah itu Arma diam. Menangis dalam dekapan Rey, memukul pundak pria itu berulang.


"Aku rindu sama lo, Rey." Kalimat yang tak pernah mungkin Arma ucapkan.


Rey, membalas senyum. Setelah itu mengusap kepala Arma.


"Kita nikah."


Lamaran Rey sangat tidak romantis, ngajak nikap masih dalam lingkungan Andra.


"Pulanglah kalian semua, satu hal yang aku ingin utarakan padamu Lex," ucap Andra masih membelakangi, ia tak ingin ada yang melihat pipinya yang basah.


"Apa?"


"Maaf, aku sudah terlalu kejam pada keluargamu."


Kedua pundak Andra bergetar, akhirnya Alex tahu kalau Andra menangis.


Entah kalimat apa yang harus Alex balas pada pria itu.


"Aku akan menyerahkan diri pada polisi, jadi pulanglah. Sebelum aku berubah pikiran dan menyekap kalian lagi, jujur. Aku sangat iri padamu Lex, hidupmu teramat beruntung. Memiliki orang tua penyayang. Tetapi aku telah merenggutnya karena kesalah pahaman."


Mata sembab itu kini terlihat jelas. Andra tersenyum pada Alex, senyum langka yang sudah lama tak terlihat. Tulus tanpa dusta.


"Kamu keluarga kami," ucap Mami Tiwi merentangkan tangan.


Andra berhambur pada wanita yang sudah disakitinya, nyaman dalam dekapan. Meminta maaf berulang, menyesali kesalahan.


"Tidak apa-apa, Andra. Manusia tidak ada yang sempurna."


Tangis Andra semakin pecah, sesenggukan. Dadanya teramat sesak, tak tahu harus mengutarakan kata apa lagi pada keluarga yang sudah didzaliminya.


Fakta yang membuat Andra sadar dari kesalahannya, ketika ia menemukan surat wasiat dari sang ayah. Kebenaran bahwa Andra adalah anak haram hasil dari perselingkuhan sang ibu dengan pria lain.


Ayah Andra bunuh diri bukan karena kalah tender oleh Papinya Alex, melainkan terlalu sakit hati sudah dikhianati wanita yang sangat dicintai.


Banyak bukti yang Andra temukan dirumah sang ayah, mengakhiri hidup karena tak sudi melihat Andra yang ternyata bukan anak kandungnya.


Terasa teriris sembilu. Andra balas dendam pada orang yang ternyata tidak punya kesalahan padanya. Balas dendam salah sasaran, Andra merasa malu pada keluarga Alex.


"Aku memaafkanmu, Andra," tutur Alex kemudian.


Andra juga meminta maaf pada Sabrina dan yang lainya. Setelah itu memantapkan hati menyerahkan diri pada pihak berwajib yang Zayran bawa.


Pertemuan Zayran dan Alex pun sangat mengharukan, mengenang kisah pertemuan dulu. Dan sekarang Zayran merasa lega bisa menuntaskan janji balas budi atas kebaikan Tanto di masa lalu yang ia kenal sebagai nama Wilson.


Makasih untuk pembaca setia novel ini. Semoga kita bisa berjumpa dicerita selanjutnya yang lebih menarik.


Tamat.