Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 116


Sabrina dan Arma baru sampai disebuah apartemen, keduanya sangat gugup karena dipaksa ikut oleh pria bertato tersebut dengan alasan demi keselamatan.


Mau kabur pun tak bisa, pria tersebut mempunyai banyak ajudan. Bahkan Sabrina kini merasa sedang dalam tahanan.


Keluar dari kandang singa, masuk kandang buaya. Istilah itu sangat cocok untuk Sabrina dan Arma saat ini.


"Duduklah. Kenapa terlihat gugup seperti itu? Lagian, saya tidak akan menggigit kalian."


"Kenapa kami dibawa kesini? Apa Anda termasuk komplotan Andra?"


Arma melontarkan tuduhan, telunjuknya menunjuk lurus pada pria yang kini menyungingkan senyum.


"Kamu tidak punya sopan santun," tegur salah seorang ajudan berambut pelontos.


Kibasan tangan pria itu mampu membuat bungkam, bahkan ke enam ajudan yang berada didalam apartemen disuruh untuk keluar.


"Kenalkan nama saya Zayran. Silahkan duduk dulu, kita bicara baik-baik. Permasalahan apa yang sedang kalian hadapi? Kenapa menjadi buronan."


"Apa anda bisa kami percaya?" tanya Sabrina. Ia duduk di sofa berseberangan dengan Zayran.


"Tentu."


"Jangan mudah percaya Sabrina, pria ini pasti punya maksud buruk. Lebih baik kita ke kantor polisi meminta bantuan menyelamatkan Mami juga suamimu."


Arma menarik tangan Sabrina. Tetapi Zayran kembali menyuruh Arma untuk tetap tenang dan mempersilahkan duduk.


"Kami tak bisa duduk bersantai, sedangkan keluarga kami sedang dalam bahaya bertaruh nyawa demi keselamatan kita berdua."


Wajah Arma merubah garang, raut wajahnya sangat tidak bersahabat. Melihat Zayran penuh kebencian.


"Saya sangat suka keberanianmu. Tenanglah dulu, permasalahan tak akan pernah bisa selesai dengan amarah."


"Jangan sok bijak sana, Tuan. Kami tak punya waktu banyak." Arma meninggikan suaranya, tak ingin banyak basa-basi lagi.


Sabrina juga menjelaskan pada Zayran. Kalau keluarganya sedang dalam bahaya, butuh sekali pertolongan.


"Kamu sangat mencintai suamimu gadis kecil?"


"Baiklah, aku akan menolongmu. Tetapi dengan syarat."


"Apa?" tanya Sabrina dan Arma kompak.


"Kalian juga harus membantu menemukan anak teman saya."


"Beres," jawab Arma dan Sabrina antusias.


Zayran menelepon beberapa ajudan bersenjata untuk mengawalnya menuju kampung Arma. Setelah semua siap, mereka segera melakukan perjalanan yang membuat hati Sabrina dipenuhi kecemasan.


Bulir bening berjatuhan membasahi pipi. Doanya telah dikabulkan oleh sang Khaliq, sehingga Sabrina menemukan bantuan.


Sesampainya di kampung tersebut, terdengar suara ledakan. Asap pekat itu terlihat membumbung ke udara. Ditambah teriakan warga berbondong memadamkan api.


Suara tangis mengiringi musibah tersebut, sampai sebuah teriakan melengking Sabrina membuyarkan fokus warga yang sedang memadamkan api di rumah Bibi An.


"Mami, Mas Alex, Rey, Bibi An! Tidak!"


Sabrina tak bisa mengontrol amarah yang membuncah dalam dada. Begitu juga Arma, teriak histeris dengan insiden tersebut.


"Andra terkutuk! Pria berhati iblis! Tunggu pembalasanku, Andra!" jeritan itu membuat tubuh Sabrina tak bedaya dan terduduk lemas di tanah. Menyaksikan kobaran api yang semakin membara membakar rumah.


Para warga hanya memadamkan api dengan peralatan sederhana saja, sehingga api tak cepat padam.


"Arma, suamiku dan juga Mami pasti berada didalam. Aku harus menyelamatkan mereka."


"Mas Alex!" jerit Sabrina lagi.


Sedangkan Zayran menatap sayu penderitaan Sabrina, tak disangka bakal berakhir teragis.


Arma juga tak bisa berkata-kata. Karena bapaknya pun pasti menjadi korban keganasan Andra yang ikut disekap bersama Alex.


Air mata terus bercucuran disertai kobaran dendam membara dalam dada.