
Mata Sabrina terbelalak, takjub dengan keindahan ciptaan Tuhan yang begitu indah. Sepertinya Sabrina akan betah tinggal ditempat barunya.
Bersama Alex menjalani hidup baru dalam kesederhanaan. Sampai memiliki buah hati yang banyak.
Sabrina mengelus pipi Alex. Memberi senyum manis pada suaminya, mata berbinarnya menunjukan kalau Sabrina akan bahagia tinggal ditempat barunya.
"Maaf, kamu malah susah," ucap Alex. Rasa bersalahnya kembali hadir.
"Jangan seperti itu Pipi, ini ujian untuk kita semua. Tak jadi masalah untuk aku, walau hidup sederhana asal dalam kegembiraan. Buang kesedihan dan tanamkan rasa gembira, biar hati tenang dan damai."
Alex memeluk Sabrina, tenang rasanya. Istrinya itu masih mau menerima dengan lapang dada.
Bukan hanya Alex yang masih dalam keadaan bersedih hati. Mami Tiwi lebih sakit lagi, belum empat puluh hari kematian suaminya. Ia harus pergi meninggalkan rumah yang penuh kenangan indah bersama sang suami.
Menetes air mata tanpa permisi. Ingin rasanya menjerit sekencang mungkin karena hati terlalu sakit. Cobaan yang Tuhan berikan begitu berat, ditambah lagi sebuah penghianatan orang terdekat.
Mami Tiwi menghapus air mata di pipi, jangan sampai Alex melihatnya terus larut dalam kesedihan. Hal itu bisa membuat putranya semakin lemah.
Bibi An yang duduk disamping Mami Tiwi memberi semangat, badai pasti cepat berlalu dan akan berganti dengan warna pelangi yang indah.
Pasti, masa kejayaan akan bisa dimiliki kembali. Akan tetapi memerlukan perjuangan yang panjang. Mami Tiwi berharap. Alex bisa bangkit dan memperjuangkan haknya.
Suara terompet penyambutan warga baru begitu bising ditelinga. Membuyarkan lamunan yang ada. Ketika mobil bis yang ditumpangi Alex terparkir disebuah pekarangan rumah yang lumayan luas.
Mami Tiwi menghela napas panjang, tempat ini akan menjadi kisah baru untuknya dan Alex. Meninggalkan kemewahan yang pernah dimiliki dan berganti dengan kesederhanaan.
Bibi An menepuk pundak Mami Tiwi, mengajaknya untuk segera turun dari mobil. Sabrina pun segera turun bersama Mami Tiwi. Sedangkan Alex masih terpaku ditempat duduknya.
Masih tak percaya. Ia akan tinggal di pedesaan bersama orang-orang baru yang belum dikenalnya sama sekali. Bisakah Alex berbaur dengan mereka? Itulah pertanyaan yang memenuhi benak.
Alex berdiri hendak keluar dari mobil. Rey yang baru bangun dari mimpi indahnya memanggil Alex sembari mengelap air liur yang membasahi ujung bibirnya.
"Iuwwh!" Alex jijik melihat pemandangan itu.
Sedangkan Rey malah tertawa girang melihat ekspresi sebal tuannya.
"Jorok!" ujar Alex lagi menggidikkan badan.
Rey tertawa lagi, tak peduli dengan tatapan jijik Alex padanya.
Alex segera keluar dari mobil bis tersebut. Suara riuh terdengar memekakan telinga, seolah melihat artis masuk kampung. Emak berdaster minta foto diiringi cubitan di pipi.
Rey juga mendapat perlakuan sama, pipinya habis dicubiti si ema dengan gemas. Mereka tak tahu kalau Rey baru bangun dan ada air liurnya, sepertinya pesona sekretarisnya itu terlalu memikat. Sampai aroma iler pun tak tercium.
Alex ingin sekali tertawa terpingkal melihat fenomena menakjubkan itu. Rey kini terjebak dikerumunan pasukan berdaster yang minta foto bareng.
"Tuan!" teriak Rey yang tak sanggup lagi menahan cubitan gemas ibu-ibu.
Sedangkan Alex tak peduli dengan teriakan Rey, biar di mandiin sekalian sama ibu-ibu berdaster itu. Agar kejombloan Rey cepat menyingkir.
"Orang miskin baru ya, kasihan banget. Tadinya tajir melintir." Mulut nyinyir mulai keluar dengan bahasa yang tajam.
Mami Tiwi dan Sabrina tak peduli dengan hal itu, toh yang mereka katakan benar adanya.
Berbeda dengan Alex yang malah tersulut emosi lagi. Tak terima dengan hinaan yang dilontarkan.
Mulut Alex siap membalas cibiran itu. Akan tetapi Mami Tiwi bergegas menutup mulut Alex agar tak bikin gara-gara.