
Tepatnya jam sembilan siang. Sabrina dan Alex baru sampai di hotel Xander city, kedatangannya disambut hangat oleh stap hotel. Bahkan ada yang memberi buket bunga mawar merah sebagai ucapan selamat atas pernikahan mereka. Karena Alex sudah mengumumkan secara live di sebuah stasiun televisi.
Banyak yang mengagumi sosok cantik Sabrina bagai boneka barbie yang sangat menggemaskan. Dan penampilan sederhananya namun tetap terlihat anggun. Alex sangat beruntung mempunyai bidadari cantik dan baik hati seperti Sabrina.
Acara peragaan busana diadakan di ballroom hotel. Alex dan Sabrina sudah duduk ditempat penjurian, keduanya menjadi juri dibidangnya masing-masing.
Acara sudah dimulai, ruangan mewah dan luas itu kini dipenuhi para tamu undangan. Sabrina begitu antusias melihat peragaan tersebut dan pastinya ada sebagian rancangannya yang dipakai oleh para model. Berdebar, pastinya. Kesan apa yang akan penonton berikan tentang rancangan gaun pesta yang sudah dibuatnya.
"Kenapa tegang?" Alex menggenggam jemari Sabrina. Dingin sekali seolah akan diadili diruang persidangan. "Kamu sakit?" tanya Alex panik menempelkan punggung tangan didahi Sabrina.
"Tidak, aku baik-baik saja. Hanya gugup dengan reaksi penonton setelah melihat rancangan gaun pesta yang aku buat." Sabrina menggigit bibir bawahnya.
Membuat Alex seketika terpanggil untuk menyentuh bibir berwarna peach itu. "Tenang, Sayang. Tak akan terjadi apa-apa," bisiknya ditelinga Sabrina.
"Jangan begitu, malu dilihat penonton nanti." Sabrina memberi cubitan di paha Alex.
"Kenapa malu, kamu istri sah ku yang sangat menggoda. Sepertinya aku ingin pulang ke rumah saja dan melakukan peragaan ditempat tidur."
Sabrina menghela napas panjang, otak mesum suaminya kembali datang. Sepertinya korslet karena rindu tertahan yang beberapa bulan kebelakang Sabrina acuhkan.
"Acara sudah mulai, mereka cantik sekali. Tubuhnya juga sangat bagus." Sabrina mengagumi salah seorang wanita yang sedang berjalan di catwalk dengan gaun pesta yang begitu indah.
"Cantikan kamu," ucap Alex memperhatikan Sabrina tampa henti. Kenapa begitu terlambat ia menyadari kecantikan istrinya itu, kemarin-kemarin kemana? Sepertinya tertutup kabut katarak.
"Bagusan pose kamu saat berjalan kearahku sembari memakai lingerie tipis," ucap Alex, isi otaknya kini hanya dikelilingi keindahan tubuh Sabrina saja. Membuat Alex tak fokus pada tugas yang sedang dikerjakannya.
"Pipi, hentikan ucapanmu itu. fokuslah pada pekerjaan," tegur Sabrina, sedangkan matanya tertuju pada para model yang kini sedang memperagakan gaun pesta rancangannya.
"Waw ... tubuhnya sangat sempurna, bagian dadanya sangat menggoda." Sabrina mencengkram pergelangan tangan Alex, ia merasa khawatir kalau suaminya akan tergoda oleh salah seorang model bergaun seksi tersebut.
"Lebih pas dan indah punyamu, Sayang. Apa yang kamu lihat itu pasti palsu, memakai ganjalan busa dibagian branya," jawab Alex.
Membuat Sabrina tersadar ternyata sedari tadi suaminnya itu tak memperhatikan peragaan busana yang sedang diselenggarakan. Alex hanya memperhatikan bidadari cantik dan seksi disampingnya yang selalu membuat jantung Alex berdegup kencang dan membuat mabuk kepayang.
"Sayang, pulang saja yu," ajak Alex mengelus rambut Sabrina.
Seketika Sabrina membelalakan mata, tak percaya dengan apa yang didengarnya. Sungguh keterlaluan suaminya itu, mengajak pulang pada waktu tak tepat. Sama saja lari dari tanggung jawab yang sedang dilakoni.
"Karlina," gumam Sabrina. Tak dapat dipercaya wanita itu bisa ikut peragaan busana yang diselenggarakan oleh Mami--Alex. Apalagi penampilannya yang super seksi dan terlihat sempurna. Gaun tampa lengan yang menampilkan belahan dada menyembul sedikit keluar. Gaun panjang itu juga menampakan belahan paha putih mulus yang teramat nyata, hal itu sangat memanjakan mata.
Seketika tubuh Sabrina bergetar. Ia takut Alex akan kembali tergoda melihat penampilan Karlina yang super seksi, ada rasa minder. Sedangkan ia hanya memakai gaun sederhana yang menutupi tubuhnya. Karena Alex yang memintanya, suaminya itu tak mau kalau Sabrina memakai gaun terbuka saat keluar rumah dan hanya ingin tubuh seksi milik Sabrina itu dinikmati dan dipandangi oleh Alex seorang.
"Sangat cantik dan seksi," ucap Sabrina, memancing Alex agar melihat kearah panggung. Sedari tadi Alex hanya memainkan ujung rambut Sabrina yang panjang.
"Tidak ada wanita secantik dan seseksi dirimu, Sayang. Kamu bagai berlian langka dan wanita itu hanyalah batu kerikil yang tak punya arti dan harga diri." Suara Alex berubah penuh emosi dan saat itu juga. Lampu gemerlap di ballroom hotel mendadak padam.