Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 114


Alex tertawa penuh keberanian, meski kini sebuah senjata menempel tepat di kepala. Tidak takut sama sekali menghadapi pria licik yang kini menatap penuh amarah. Seperti hewan ganas yang siap memangsa.


"Aku tak butuh gertakanmu, pria bodoh yang menyesali kematian Ayahnya."


"Justru kau yang bodoh, balas dendam bukan pada tempatnya. Ayahmu bunuh diri karena keteledorannya, tetapi Papiku yang kau jadikan korban."


Rahang Alex mengeras, ingin sekali meninju. Tetapi apa kuasanya, tak bisa melakukan apa-pun dengan tangan diikat.


Lagi-lagi Andra terbahak. Membelakangi Alex, menodongkan senjata pada Mami Tiwi.


"Bagaimana jika wanita tua ini yang kehilangan nyawa, tak sabar ingin melihatmu menjadi gila. Kehilangan orang-orang yang dicinta."


"Turunkan senjatamu, atau...."


Alex melotot, rahangnya ikut mengeras. Berusaha melepaskan diri dari ikatan.


"Saking sayangnya pada sang Mami, rela membuat kulit mulus putihmu lecet."


"Andra hentikan kegilaan ini, sudahi kebencianmu. Bukannya kamu sudah mempunyai segalanya."


Lirikan tajam dilemparkan Andra pada Mami Tiwi. Nasihat yang membuatnya semakin muak dan kesal.


"Kembalikan Sabrina. Maka aku kembalikan segalanya."


"Najis!" Alex membuang ludah kesamping.


Membuat suara Andra menggelegar penuh murka. Menyuruh sang ajudan melepaskan ikatan dari tubuh Alex.


**


Sedangkan Sabrina, dibawa jauh oleh Arma atas permintaan Alex dan Mami Tiwi. Walau Sabrina meminta untuk kembali, tetapi Arma tak menuruti.


"Aku ingin bersama suamiku, Arma! Apa hakmu melarangku, sedangkan suami dan keluargaku dalam bahaya. Kita kembali Arma, aku mohon."


Sabrina menangkupkan tangan. Bulir bening berjatuhan membasahi pipi tiada henti, wajah Alex dan sang mami membayangi.


Arma membalas, fokusnya pada jalan babatuan yang sedang mereka lewati dengan mobil pick up.


"Kembali atau aku loncat," gertak Sabrina.


"Sabrina, mengertilah!" balas Arma dengan volume tinggi.


"Kamu yang tidak mengerti, keluargaku lebih penting dari keselamatanku. Hanya demi melindungi satu nyawa, harus mengorbankan banyak nyawa."


Setir mobil diputar Sabrina ke kiri. Membuat mobil yang ditumpangi oleng, sampai akhirnya membuat mobil itu mendadak berhenti.


"Ah, bego. Lo mau kita mati!"


Napas tersengal itu diiringi amarah membara, tangan Arma memukul stir sampai berulang-ulang.


"Justru kecerobohan lo yang bisa mencelakai kita semua." Arma tak bisa lagi mengontrol emosi. Memarahi Sabrina dengan kata-kata kasar, tak peduli dengan isak tangis Sabrina kini.


"Cengeng, kalau lo mau nyelamatin keluarga lo. Pikir pakai otak yang jernih, jangan cuma ngandelin cinta dan kebodohan. Gue ngajak lo lari biar kita bisa menemukan bantuan. Setidaknya lapor polisi, atau siapa sajalah yang bisa memberi kita pertolongan."


"Tapi siapa? Aku tak mengenal siapa-pun. Siapa yang bisa menolong keadaan kita."


Arma memukul stir lagi. Setelah itu mengusap wajah, berusaha menenangkan diri dari amarah. Kalau Sabrina bingung minta bantuan, apalagi ia. Hanya orang kampung biasa yang tidak tahu masalah kehidup di kota.


"Lo tenang, kita akan hadapi bersama. Dan menyelesaikannya bersama juga," ucap Arma pada Sabrina.


Sabrina kini mulai tenang menuruti perintah Arma. Ia harus berpikiran jernih agar bisa menolong Alex, Mami Tiwi, juga keluarga yang lain.


Arma kembali menyetir, mereka harus secepatnya menuju kota. Setidaknya Arma harus meminta bantuan kepada pihak berwajib.


Sayangnya mobil yang Arma bawa dibuntuti beberapa kendaraan bermotor yang salah satu dari mereka Arma kenal, terlihat dari kaca spion mobil. Pria yang sudah menebak Rey malam itu.


Rey... Arma kangen bertengkar dengan pria itu. Bagaimana keadaannya sekarang? Semoga mereka bisa berjumpa untuk bertengkar kembali.