
Bi Eis sudah tak tahu lagi cara membujuk Sabrina agar tidak merajuk dibawah derasnya hujan. Karena keinginannya tak bisa dipenuhi. Sabrina kekeh ingin cerai dari Alex, namun Bi Eis tak setuju dengan keinginan Sabrina.
Menurut Bi Eis selagi masih bisa diperbaiki. Kenapa harus cerai dan hal itu membuat Sabrina gondok merasa tak dipedulikan oleh bibinya sendiri.
"Mau sampai kapan kamu duduk dirumput basah kayak gitu, yang ada nanti kulitmu di gigit cacing," ucap Bi Eis duduk di kursi kayu sembari menikmati teh hangat.
Sedangkan Sabrina masih mengoceh dan mengancam Bi Eis nggak akan pernah masuk rumah sampai keinginannya dipenuhi.
"Silahkan saja, sebentar lagi gelap loh. Memangnya nggak takut apa diam diluar sendiri. Nanti ada neng kunti loh ngajak kenalan, mau." Bi Eis menakuti Sabrina agar ponakannya itu bisa luluh dari marahnya.
"Ancaman Bibi nggak seru," balas Sabrina memeletkan lidah. Ia akan terus ujan-ujanan sampai keinginannya dikabulkan.
"Jangan ngeyel, kalau sakit siapa yang repot," ujar Bi Eis dengan santainya. Sama sekali tak terpengaruh oleh rengekan Sabrina.
"Ya, Bibi lah." Sabrina berdelik.
"Kalau kamu sakit, Bibi nggak akan peduli dan lagi yang ngerasain sakitnya juga kamu." Bi Eis masuk kedalam rumah, mengacuhkan Sabrina yang berada di taman belakang rumah.
"Bibi!" Sabrina berteriak sembari menghentakan kaki ketanah.
Alex yang sedari tadi menyaksikan perdebatan antara bibi dan ponakan itu malah tertawa, apalagi melihat betapa keras kepalanya Sabrina dengan keinginannya bercerai. Menghela napas berat yang kini Alex lakukan, kekacauan ini memang karena ulahnya sendiri.
"Bibi angkat tangan, Tuan. Kalau sudah kayak gitu Sabrina sulit dibujuk."
"Biar aku saja Bi yang membujuk Sabrina," jawab Alex.
"Tapi, Tuan. Jangan dulu ...."
Alex menyimpan jari telunjuknya di bibir. Agar Rey tak melanjutkan ucapannya, dia pasti akan memberi tahukan luka Alex yang belum boleh terkena air.
Sabrina merasa jijik dengan kegenitan itu, semakin jengkel melihat wajah pria yang sudah menipunya. Tak bisa dipungkiri kalau Sabrina nyaman berada disamping Xander, akan tetapi setelah mengetahui pria itu adalah Alex. Sabrina menjadi sangat kecewa.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu, rindu?" Alex meraih tangan Sabrina. Menatap lekat wajah cantik itu dengan penuh rindu.
Namun, Sabrina menepis tangan Alex dan saat itu juga memberikan tendangan di perut. Bukannya marah Alex malah tersenyum, istri kecilnya melakukan perlawanan. Dan tendangannya lumayan juga, membuat perut Alex merasakan sakit kembali.
"Lagi." Tantang Alex, jemari tangannya mengayun agar Sabrina kembali melakukan perlawanan.
Sabrina geram, pria didepannya ini terlalu sombong. Kini ia harus membuktikan seberapa kuat tinjuannya yang sudah dipelajari dari vidio beladiri yang sudah dilihatnya.
"Lumayan," cecar Alex, ketika Sabrina memukul dada Alex.
Perlawanan yang Sabrina berikan menandakan betapa sakitnya dan kecewanya hati gadis itu ketika Alex sering menyakitinya. Alex pasrah dengan pukulan dan tendangan yang Sabrina berikan, membiarkan gadis itu merasa puas meluapkan kekesalannya. Tak ada perlawanan yang Alex berikan dan tinjuan terakhir yang Sabrina layangkan membuat Alex terhuyung, meringis kesakitan.
Darah mulai terlihat dari kemeja putih yang dikenakan Alex. Seketika itu juga Sabrina tertegun, kaget dengan apa yang dilihatnya. Sekuat itukah tendangan Sabrina sampai bahu Alex berdarah. Rey yang menyaksikan itu nampak khawatir sekali, berniat membantu Alex. Namun, isyarat mata itu membuat Rey tidak jadi ikut campur.
Alex berusaha menutupi rasa sakitnya dan kembali menantang Sabrina untuk terus melawannya.
"Aku sangat membencimu Alexander Wijaya, benci. Aku benci!" teriak Sabrina sembari memukuli Alex, air mata yang tertahan itu akhirnya tumpah juga.
"Pukul aku sampai kamu benar-benar merasa puas, Sayang."
"Jangan panggil aku sayang, jijik!" teriak Sabrina lagi. Mencengkeram kemeja Alex, mata indah Sabrina menggambarkan kebencian yang teramat dalam.
"Lantas aku harus panggil apa?" Alex merangkul pinggang Sabrina.
Perlakuan Alex memancing emosi Sabrina. Membuat gadis itu kembali memukul bahu Alex dengan sangat keras. Seketika tubuh Alex lemas, semakin banyak darah yang keluar dari bahu Alex. Dibawah guyuran hujan sore itu Alex berlutut meminta maaf, kedua tangannya juga memegangi telinga.