
"Apa yang Tuan lakukan, lepas!" teriak Sabrina. Alex kembali memeluknya dan membopong tubuh kecil itu ketempat tidur. "Jangan paksa aku untuk melayani kebuasanmu, aku tak mau!"
Alex menghela napas panjang. "Tidak akan, aku hanya ingin tidur memelukmu saja. Aku capek Sabrina." Alex memposisikan tubuhnya senyaman mungkin di kasur, tangannya tak lepas memeluk tubuh Sabrina."
Satu umpatan kasar kembali keluar dari bibir Sabrina. Gadis itu menolak menemani Alex tidur, takutnya pria itu malah kebablasan menyentuhnya kembali.
Alex berusaha meyakinkan, kalau ia tak akan memaksa menyentuh Sabrina. Hanya minta untuk ditemani tidur saja, letih yang Alex rasa. Semenjak insiden bersama Andra dan Karlina, Alex sulit memejamkan mata untuk tidur.
"Mau aku tendang asetmu itu, Tuan," ancam Sabrina setengah berteriak.
"Jangan galak-galak, nanti sahabatku bangun minta jatah," balas Alex dengan nada lembut. Tak peduli dengan teriakan Sabrina, Alex tetap tenang menghadapi kemarahan istri kecilnya itu.
"Nyebelin banget!" Kalau sudah seperti ini, sekuat apa-pun Sabrina melawan tak akan bisa meruntuhkan tangan kokoh yang melingkar di pinggangnya.
"Lagian, jika pusakaku terluka. Kamu yang akan sangat menyesalinya," bisik Alex ketelinga Sabrina.
Suasananya semakin memanas saja. Pria ini memang sangat berbahaya.
"Justru aku jauh lebih senang, dan tinggal cari pengganti yang baru."
"Jangan begitu, yang lain tak enak. Hanya aku yang bisa membuatmu menjerit dan menangis. Jika ingat itu aku jadi ...."
"Diam jangan diteruskan, malah ngelantur kemana-mana. Lagian aku tak pernah rindu akan sentuhan, Tuan. Jadi jangan berkhayal yang macam-macam." Sabrina mengoceh. Namun, tak ada sahutan dari pria yang masih erat memeluknya. Tak lama suara dengkuran halus terdengar jelas di telinga Sabrina. Alex benar-benar tidur.
Sabrina akhirnya bisa bernapas lega. Alex tidak memaksa untuk menyentuhnya dan kini ia bisa lari. Sabrina mencoba melepaskan tangan Alex dengan sangat hati-hati.
"Jangan pernah mencoba lari dariku dan aku tak akan pernah melepaskanmu, apalagi membiarkanmu menjadi milik pria lain." Mata Alex kembali terbuka. Merangkul pinggang Sabrina dan membalikkan posisinya sampai Sabrina tak bisa berkutik. Alex mengunci pergerakannya.
"Jangan pernah memaksaku untuk melayanimu lagi." Mata Sabrina mulai berkaca-kaca.
"Kamu istriku, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan di masa yang telah lalu. Izinkan aku membuktikan perasaan aneh yang mulai menjalar kuat dihati." Alex mulai memberi sentuhan di leher Sabrina.
Hal yang tak pernah Alex sangka pun terjadi. Sabrina kembali melakukan perlawanan menendang aset berharga yang Alex miliki. Rasa ngilu dan teriakan bercampur jadi satu, mengaduh yang kini Alex lakukan. Sedangkan Sabrina tertawa puas sembari memeletkan lidah, bergegas keluar dari kamar.
"Rasain, itulah hukuman untuk pria yang memaksakan keinginannya."
Sabrina berlari keluar rumah. Ia takut Alex akan mengejarnya dan ternyata pria itu sama sekali tak keluar dari kamar. Resah, jangan-jangan pingsan karena tendangan maut yang Sabrina berikan.
"Sabrina, kenapa kamu diluar?" Bi Eis dan Rey pulang sembari membawa belanjaan.
"Aku ...." Sabrina gugup, takut kena tegur bibinya lagi.
"Sabrina lagi mencari udara segar, Bi," balas Alex dari arah belakang.
Sedangkan Alex minta izin kepada Bi Eis keluar sebentar, ada urusan yang harus diselesaikan. Terburu-buru mengajak Rey tanpa peduli pada Sabrina yang berdiri mematung disamping Rey. Alex terlihat menahan sakit, namun tetap memaksakan tersenyum.
"Tuan, jangan lama-lama. Nanti kita makan siang bersama."
"Iya, Bi. Aku usahakan cepat pulang," balas Alex dan segera pergi.
**
Rey tertawa terpingkal setelah mendengar penjelasan Alex. Tak menyangka Sabrina bisa senekad itu melukai aset berharga suaminya sendiri. Bagaimana kalau terjadi masalah dan tak berfungsi lagi? Sabrina pasti guling-guling dilantai sambil menangis.
"Sabrina malah tertawa girang, Rey. Tak terlihat menyesal sama sekali." Alex duduk di sofa, memijat pelipisnya yang terasa pusing.
"Kasihan sekali nasibmu, Tuan." Rey kembali tertawa. Pesona seorang Alexander tak membuat Sabrina luluh.
"Tertawa lagi, aku sumpal mulutmu Rey," ancam Alex, namun ancaman itu malah terlihat lucu. Ancaman yang sama sekali tak bertenaga. Alex masih merasakan ngilu.
"Ternyata Non Sabrina banyak kemajuan juga, Tuan." Rey memberi Alex minum, agar majikannya itu merasa rileks.
"Aku nggak bisa menahan rinduku sama Sabrina, Rey. Selalu saja lepas kendali dan akhirnya, sebuah tendangan mematahkan rinduku."
Rey ingin tertawa lagi. Namun ditahannya. Kasihan dengan wajah memelas penuh rindu itu, suami mana yang tak rindu akan sentuhan istrinya. Yah, salah sendiri terlalu plin-plan dan mengabaikan seorang istri yang jelas-jelas baik dan perhatian.
"Apa Non Sabrina tahu, Andra dan Karlina dibalik penusukan Tuan?"
Alex menggeleng cepat. Sabrina sama sekali tidak tahu akan kejadian penusukan yang sudah dilakukan oleh Karlina kepadanya dan dalang dari semua kerusuhan yang terjadi padanya itu karena ulah Andra. Alex bingung harus memulai menceritakan hal itu dari mana dulu, pastinya Sabrina nggak akan percaya. Andra adalah sosok pria terbaik yang Sabrina kenal, sampai-sampai Sabrina tak hentinya memuji akan kebaikan Andra.
"Sabarlah, Tuan. Tahan dulu rindumu itu, ada masalah yang lebih serius."
Alex membenarkan posisi duduknya. "Apa?" Wajah sayu itu berubah serius, tak sabar dengan kabar yang akan Rey ceritakan.
Rey menceritakan kalau Andra dan Karlina membalikan fakta atas laporan yang diberikan Alex kepada pihak berwajib, pasti ada orang dalam yang ikut campur sehingga kasus tersebut telah ditutup rapat. Sedangkan Karlina dan Andra terbebas dari tuduhan penusukan yang terjadi kepada Alex. Benar-benar tak dapat dipercaya, mereka berdua pandai berakting juga pandai membalikan fakta menutupi kebenaran yang ada dengan semua kebohongan yang menjerat jiwa.
Alex mengepalkan kedua tangan, rahangnya ikut mengeras menahan amarah. Tak dapat dipercaya, Andra dan Karlina bisa sepicik itu. Permainan yang luar biasa sempurna, musuh yang nyata. Namun bersembunyi dibalik manisnya prilaku palsu, seolah menjadi orang baik dan dihujani banyak pujian.
Kata umpatan keluar dari mulut Alex, merutuki diri sendiri atas kesalahan patal yang sudah dilaluinya. Bertekuk lutut pada serigala betina yang kini mencabik hatinya sampai tak tersisa. Dan menyisakan luka yang teramat parah.
"Karlina, wanita sialan. Tunggu pembalasanku!"
Alex berteriak histeris meluapkan gelombang kebencian yang begitu nyata terasa, gejolak amarah diluapkan dengan memukul meja kaca dihadapannya sampai hancur berkeping. Tak peduli luka ditangan yang kini sampai mengeluarkan darah. Luka di tangannya tak sebanding dengan rasa nyeri di hatinya kini, ternyata dikhianati itu lebih menyakitkan dan kini rasa penghianatan itu Alex telan sendiri. Karena rasa itu pun pasti Sabrina rasakan. Alex sudah menghianati pernikahannya, rasa marah dan malu bercampur jadi satu.