
"Ada apa, Tuan?" tanya Rey sangat penasaran dengan gelagat majikannya.
Alex memakai jas warna navy yang tergeletak di sofa dengan tergesa-gesa. "Mau menemui Karlina," jawabnya santai.
Mulut Rey menganga, matanya membulat sempurna. Merasa tak percaya, baru saja Alex mengatakan keseriusannya ingin hidup bersama dengan Sabrina. Namun nyatanya, ia ingin kembali menemui Karlina.
"Kamu nggak perlu khawatir seperti itu," ucap Alex mengetahui apa yang dipikirkan oleh Rey dari ekspresi wajah yang ditunjukkannya.
"Jangan sampai kembali tergoda, ingat akan janjimu kepada Sabrina, Tuan," Rey kembali mengingatkan. Ia merasa khawatir kalau Alex akan kembali terjerumus pada kepalsuan manisnya cinta Karlina.
Alex menitipkan Sabrina kepada Rey selama ia berada di Jakarta dan lagi Alex akan menjenguk Mami dan Papi nya terlebih dahulu. Memastikan keduanya baik-baik saja.
"Ingat! Awasi dari jauh saja, jangan terlalu dekat pada istriku," perintah Alex dengan nada mengancam.
"Tenang saja, Tuan," balas Rey. Cemburu mulai menjalar pada diri majikannya.
**
"Sayang!" panggil Karlina dengan suara manja, sangat senang bisa melihat kekasih yang sudah hampir tiga minggu tak dapat ditemui.
Pertanyaan beruntun menghujani Alex. Karlina banyak bertanya akan menghilangnya Alex selama ini. Karlina juga tak tahu malu duduk di pangkuan Alex seolah tak ada masalah yang akan menghantam Karlina karena kepura-puraannya. Padahal hati Alex kini bagai bom atom yang siap meledakkannya.
Karlina membelai pipi Alex. Wanita itu ingin memberikan sebuah kecupan. Namun, Alex memalingkan muka sehingga bibir merah merona itu tak bisa menjangkau rahang kokoh yang mulai mengeras.
"Kenapa kamu selalu menghindar? Jangan bilang kamu sudah punya mainan baru yang lebih menawan," tuduh Karlina yang tak suka dengan penolakan. Ia merasa Alex mulai menjauhinya dan Karlina takut tak bisa lagi menggenggam Alex seperti dulu yang selalu patuh pada setiap perintah dan keinginannya.
"Sabrina lebih menggoda segalanya," ucap Alex menatap wanita yang kini berubah masam.
"Gadis itu ternyata lebih seksi dan aku baru menyadarinya."
"Kamu mulai gila, Lex," cecar Karlina dipenuhi rasa emosi, wanita itu turun dari pangkuan Alex dan berjalan menuju tempat tidur.
"Aku memang mulai gila karenanya, sampai setiap detik dan hembusan napas ini tak lepas memikirnya."
Karlina menjerit histeris. Merasa jijik dengan setiap pujian yang keluar dari mulut Alex kepada Sabrina.
"Kamu hanya miliku dan wanita murahan itu tak pantas berada disampingmu!" gertak Karlina.
Alex tepuk tangan. Seringai itu terlihat jelas dari wajah tampannya. Alex merogoh saku jas yang dipakai untuk mengambil sesuatu dan setelah itu melemparkannya kepada Karlina. Sebuah amplop kecil warna coklat yang isinya kini berserak dilantai.
"Bukti itu sudah jelas. Kamu menyuruh orang untuk mencelakakan Mami."
Karlina terkejut. Namun, sebisa mungkin menyembunyikannya agar Alex tak curiga dengan apa yang sudah diperbuatnya. Atau jangan-jangan Alex sudah mengetahui, rasanya tak mungkin dan malam ini Karlina akan membuat Alex bertekuk lutut kembali dengan pesonanya.
"Semua foto itu hanya kerjaan orang iseng yang ingin merusak hubungan kita, Lex." Suara Karlina mendayu, wanita itu memakai kemolekan tubuhnya untuk menggoda Alex kembali. Karlina tahu Alex tak akan tahan dengan tubuh indah yang dimilikinya.
Karlina memeluk Alex, jurus rayuan maut telah dikeluarkannya. Suara manja dan kecupan diceruk leher sang kekasih Karlina berikan. Alex juga tak bisa memungkiri, jiwa lelakinya mulai tergoda melihat pemandangan yang merusak mata dan membangunkan nafsunya.
🌹🌹
Ayo komen seseru mungkin. Kasih vote dan dukungannya selalu untuk novel ini. Maaf otor telat, lagi nggak enak badan.