Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
1. Season 2


Terimakasih, author ucapkan kepada readers yang masih setia membaca cerita ini. Otor berharap di kelanjutannya masih ada yang mau membaca kisah Alex dan Sabrina, memberi dukungan like dan komentarnya.


Insya Allah ada season kedua di novel ini. Menceritakan kehidupan baru Alex, Sabrina, Rey, Arma. Juga anak-anak Alex dan Sabrina.


Sampai bertemu dicerita kelanjutan:


'HASRAT SANG MAJIKAN'


Pastinya heran, karena novel ini sudah lama hiatus. Tetapi otor berharap, readers semua berkenan memberi dukungan.


Salam silaturahmi dan terimakasih atas dukungannya selama ini. 😘😘


❤️❤️


Semerbak harum bunga menenangkan indra penciuman. Ditambah kicau burung yang saling bersahutan, terdengar riang gembira meloncat dari dahan ke dahan.


Sinar mentari pagi menyoroti celah jendela kamar yang penghuninya masih terjaga dalam indahnya mimpi. Saling berpelukan memberi kehangatan, seolah tak ingin ada jarak yang memisahkan keduanya.


"Pipi ini sudah pagi, aku merasa lapar," ucap Sabrina, penepuk tangan Alex yang memeluknya.


"Sayang, memang mau makan apa?" tanya Alex memberi kecupan di ubun-ubun Sabrina. Sedangkan tangannya kini beralih mengelus perut sang istri yang sedang hamil tujuh bulan.


"Nasi rames sama nila bakar sambal ijo." Sabrina memaksakan bangun, air liurnya hampir netes saking tak sabarnya membayangkan nikmatnya makanan tersebut.


Sabrina menghela napas berat. Alex masih saja tak ada pergerakan, berbaring penuh kenyamanan.


"Mau kemana?" tanya Alex menahan tangan Sabrina yang hendak turun dari dipan.


"Masak!" ketus Sabrina.


Mimik wajahnya sungguh tidak bersahabat, merasa diabaikan atas keinginannya.


Alex mengelus punggung Sabrina. Lantas bangun dari pembaringan, duduk disamping sang istri. Berbisik manja, merayu agar marah Sabrina mereda.


"Tunggu sepuluh penit saja, masakan yang kamu mau akan segera datang," balas Alex mengelus perut Sabrina. Sesekali mengecup perut buncit tersebut.


Kecupan di pipi Alex berikan. Sabrina pun tersenyum, mengelus kepala suaminya. Menepuk paha agar Alex mendaratkan kepala disana.


"Aku tidak marah lagi suamiku," balas Sabrina tersenyum kikuk.


"Anak Papa mau ditengokin nggak?"


Alex bertanya pada si bayi dalam perut. Namun, kedipan genitnya mengarahkan pada sesuatu yang intim.


Puasa selama tiga bulan membuat Alex sangat rindu pada sentuhan Sabrina. Namun, puasanya itu membuahkan hasil, mengajarkan Alex untuk tetap sabar dalam menahan hasrat kelelakiannya.


Akan tetapi, setelah diperbolehkan. Alex lebih sering meminta jatahnya dengan alasan menengok si jabang bayi.


Sabrina tersenyum canggung, suaminya ini pandai sekali beralasan. Setelah mendapat persetujuan, kecupan mesra mendarat singkat di bibir.


Sayangnya, baru akan memulai. Suara bell kamar berbunyi, ternyata makanan yang Sabrina minta sudah matang. Siap untuk sarapan pagi.


Helaan napas panjang keluar dari bibir Sabrina. Akhirnya yang ditunggu datang juga, tak sabar ingin segera menyantapnya. Sedangkan Alex tepuk jidat dengan kegagalannya bermesraan di pagi hari.


Suara ponsel Alex bergetar, ternyata Mami Tiwi yang menelpon. Ingin bicara dengan Sabrina, menanyakan kabar cucu tersayang.


"Baik, Ma. Sabrina baru mau makan pagi," balas Alex. Wajahnya memberengut, kecewa dengan hasrat yang sudah sampai puncak. Tetapi tak bisa dituntaskan.


Sedangkan Sabrina mengulum senyum, melihat wajah murung suaminya. Terlihat lucu dan mengemaskan.


"Apa?!"


Alex menutup telinga mendengar suara Tiwi yang nyaring.


"Sabrina baru makan? Kebangetan kamu Alex, awas nanti kalau mantu dan cucu Mama sakit kurang gizi."


Malas bertengkar. Alex memberikan ponselnya kepada Sabrina, agar ocehan Tiwi mereda.