Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 23


Sabrina masih menangis di bawah selimut. Ia marah dengan perlakuan Alex yang tak ada puasnya. Sabrina merasa pria itu mempunyai kelainan, karena trus menyentuhnya.


"Mau sampai kapan kamu menangis? Bukannya enak melakukan itu." Alex berdiri samping tempat tidur, pria itu baru selesai mandi. Dan kini sedang memakai kemeja bersiap pergi ke kantor.


"Sama sekali tidak, aku tidak menyukainya. Tuan terlalu memaksa."


"O ... ooh, benar kah kamu tidak menyukainya?" Suara Alex begitu dekat, sampai hembusan napasnya menyapu telinga Sabrina. Saat gadis itu membuka selimut memperlihatkan kepalanya saja.


"Itu benar! Aku sama sekali tidak menginginkan hal itu, sebaiknya Tuan melakukannya pada wanita lain saja, atau pada pacar Tuan yang super seksi itu."


"Ide bagus," jawab Alex dengan santainya sambil memasang dasi.


"Tuan memang tak berperasaan, beraninya menindas anak kecil!" Menunjuk Alex dengan jari telunjuk Sabrina lakukan. Kesal dengan tampang pria itu yang tanpa dosa menindasnya.


"Masil kecil ternyata, berapa umurmu?" Alex mendekatkan wajahnya.


"Delapan belas tahun," lirih Sabrina menunduk.


Alex manggut-manggut. Mengambil sesuatu dari dalam tasnya. "Coklat ini akan menenangkanmu, bukannya anak kecil itu sangat menyukai coklat dan kemarahannya akan mereda setelah diberi coklat." Dengan tampang sok manis Alex memberikannya dan berjalan menuju pintu.


Sabrina berdiri sambil emosi. "Aku tak butuh coklat, aku hanya ingin keadilan. Dan lagi aku bukan anak kecil yang bisa Tuan bujuk dengan permen atau coklat, keinginanku hanya satu. Berhenti menyentuhku!"


Alex membalikkan badan. "Fosemu begitu menggoda, sepertinya nggak boleh melewatkan kesempatan lagi."


"Akhhhh! Jangan lihat, tutup mata. Aku tidak mau melayanimu lagi, pergi sana. Ada banyak wanita yang sedang mengantri untukmu," teriak Sabrina meringkuk ketakutan dibawah selimut kembali.


"Gadis bodoh, aku sudah melihatnya sejak tadi. Dan sepertinya kamu sedang menggodaku lagi."


"Tidak! Jangan sentuh lagi. Aku tidak mau. Aku akan berteriak sekencangnya."


"Kamar ini kedap suara, dasar cupu." Alex menyunggingkan senyum dan segera keluar dari kamar Sabrina, jangan sampai kesabarannya habis dan kembali merasai gadis itu. Pagi ini Alex ada meeting penting di perusahaannya.


"Huuph ... akhirnya pria pemangsa itu pergi juga. Benar kata Mami, aku harus berani melawannya. Semangat menuju keadilan," gumam Sabrina pelan.


Pagi ini Sabrina malas mandi, badannya sakit semua. Alex benar-benar pria tidak normal, menindasnya tampa henti. Apa enaknya coba diperlakukan seperti itu, nggak ada romantisnya sama sekali. Sabrina bergidik ngeri jika teringat setiap sentuhan Alex.


"Non, makanan sudah siap. Mau diantar ke kamar saja." Bibi An mengetuk pintu.


"Nanti saja aku kebawah, Bi. Sekarang mau mandi dulu."


"Baik, Non."


Padahal masih mau tidur, tapi malu. Masa malas-malasan.


Tiga puluh menit kemudian. Sabrina sudah berada di meja makan, menikmati sarapan. Tak lama terdengar suara seorang wanita memanggil namanya dengan nada tinggi dan kata umpatan.


"Siapa, Bi?"


"Pacar Tuan Alex, Non."


Karlina menggebrak meja makan. "Hey, cupu. Aku ingatkan kepadamu ya, jangan pernah menggoda Alex. Dia itu kekasihku dan hanya aku yang dicintainya. Lagian, karena kehadiranmu aku jadi batal menikah dengannya."


"Belum rezekinya kali, Mbak."


"Diam kamu, cuma pembantu saja ikut campur!" Karlina berkaca pinggang dengan angkuh.


Sedangkan Sabrina sama sekali tak menanggapi kemarahan Karlina. Ia tetap fokus makan karena merasa lapar, capek sekali harus melayani kebuasan suaminya sendiri.Ya, Sabrina menganggap Alex adalah suaminya, meskipun pria itu sama sekali tak pernah menganggapnya sebagai istri. Namun setidaknya, sebelum perceraian itu terjadi. Sabrina mempunyai kesan baik merawat dan memenuhi kebutuhan suaminya.


Sabrina menghela napas panjang, berdiri menatap Karlina yang berbalik menatapnya tajam. Sabrina tak tinggal diam membalas perlakuan Karlina, menyiram wanita itu dengan kuah sayur.


"Kau ingin merusak wajahku gadis cupu!" Karlina mendorong tubuh Sabrina sampai terguling kelantai, menampar wajah Sabrina tanpa ampun. Bahkan memberi cakaran di lengan dan punggung Sabrina.


Bibi Ar dan Bibi An membantu melerai, memukuli Karlina dengan kemoceng. "Kami akan melaporkan Anda ke polisi," ancam kedua asisten itu.


"Kalian pikir aku takut dengan ancaman itu, justru kalian berdua yang akan menyesal dan keluar dari rumah ini!" teriak Karlina bergegas pergi.


Bukan kemoceng saja yang mereka gunakan, sapu lidi pun melayang ke tubuh Karlina agar wanita itu pergi dan berhenti menganiaya Sabrina.


Bibi An dan Bibi Ar membantu Sabrina yang tergeletak tak berdaya di lantai, sudut bibirnya sedikit terluka. Pipi Sabrina juga lebam.


Sabrina di bawa ke kamarnya, lukanya segera diobati. Suara rintihan keluar dari bibir gadis itu, rasanya perih sekali. Tubuh Sabrina pun sakit semua.


"Wanita itu harus dilawan, Non. Bibi nggak suka sama wanita itu, kasar dan sok berkuasa."


"Tuan Alex sepertinya kena pelet, sampai mau punya pacar kasar kayak gitu."


Sabrina hanya bisa menyimak pembicaraan kedua asisten itu. Sabrina tak berani melawan Karlina. Alex pasti tak akan tinggal diam dan lebih beringas menindasnya.


"Non nangis, bagian mana lagi yang sakit?"


Sabrina menggelengkan kepala. "Bi, aku mau tidur dulu."


"Iya, Non. Kalau begitu kami pamit keluar."


Sabrina kembali menangis di bawah selimut, ingin rasanya ia mengadu akan kesedihannya. Akan tetapi itu tak mungkin, masalah akan tambah rumit. Apalagi kalau Mami Tiwi tahu, pasti akan panjang urusannya nanti.


Perih sekali punggungku, kuku wanita itu tajam bagai kuku macan.


***


Karlina menelepon Alex, wanita itu menangis tersedu-sedu. Mengadu kejadian pertengkarannya dengan Sabrina. Mengatakan kalau Sabrina sudah bersikap kasar kepadanya, dan kedua pembantunya juga berani mengusir Karlina dengan penuh ancaman.


"Sialan! Gadis kecil itu sudah berani sok berkuasa," geram Alex mengepalkan kedua tangan.


"Sayang lihat, dia juga mencakar tanganku. Aku harus segera perawatan, besoknya ada pemotretan ke luar kota. Aku malu jika kulit aku sampai rusak."


"Aku akan membalas perlakuan buruk gadis itu, pergilah untuk perawatan. Aku akan mentransfer uangnya."


"Makasih, Sayang. Aku mencintaimu."


"Aku lebih mencintaimu."


Rey yang sedari tadi menyimak pengaduan Karlina kepada Alex, merasa tak percaya kalau Sabrina bisa melakukan kekasaran itu.


"Sepertinya Tuan harus menyelidiki dulu permasalahan ini, jangan mendengar pengaduan sepihak saja."


"Karlina nggak mungkin bohong, mentang-mentang dimanja Mami. Si cupu mulai berulah."


"Jangan buruk sangka, aku nggak percaya Nona Sabrina bisa sampai sekasar itu."


"Orang bisa berubah karena keadaan, bukan. Dan si cupu selalu mendapat dukungan dari Mami, bisa saja dia memanfaatkan kesempatan itu."


Rey angkat tangan, kalau sudah menyangkut Karlina dia tak bisa ngomong apa-apa lagi. Alex terlalu dibutakan oleh cinta wanita matre itu, sehingga sulit sekali untuk diberi tahu dan membedakan mana yang baik dan yang sekedar memanfaatkan saja.