Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 37


Pagi hari yang indah dan menenangkan hati. Sabrina menggeliat meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku. Masih terasa hangat tangan kokoh Alex melingkar dipinggangnya. Namun, sang pemilik tangan kokoh itu tak ada lagi ditempat.


Sabrina mencari sosok pria itu, mungkin lagi di kamar mandi. Namun, setelah di cek tidak ada juga. Sukurlah, Sabrina merasa senang. Pria itu tak mengganggunya lagi.


Namun, semalam Sabrina merasa nyaman dalam dekapan Alex. Pria beringas itu tidak memaksa merasainya lagi dan hal itu membuat Sabrina nyaman.


Selesai mandi dan berpakaian. Sabrina menuju dapur bersiap untuk masak. Terdengar suara kegaduhan dari kamar atas, semakin jelas terasa. Ternyata Alex dan Karlina sedang bertengkar, apalagi sampai terdengar menyebut namanya.


"Apa lagi alasanmu sekarang, hah? Kamu mulai menyukainya bukan?!" teriak Karlina.


"Oke, aku salah. Tapi aku hanya tidur saja dengannya, tak lebih." Alex mencoba menjelaskan.


"Hanya sekedar tidur. Lantas, kenapa tak tidur bersamaku saja, untuk apa aku tinggal di rumah ini jika tak dihargai sama sekali." Karlina mulai menangis.


"Aku hanya ...." Alex tak bisa merucap lagi, memang benar kata Karlina. Kenapa juga ia harus ke kamar si cupu dan tidur dengannya. Alex merasa pusing, dilema dengan pemikirannya sendiri.


"Hanya apa? Mencintainya!" bentak Karlina.


"Cukup! Kamu dengar ucapanku baik-baik, aku sama sekali tak mencintainya dan tak akan pernah mencintainya, apalagi sampai peduli kepadanya. Pernikahan yang aku jalani dengannya hanya enam bulan saja, setelah itu kami bercerai." Alex menggenggam tangan kekasihnya. "Aku hanya mencintaimu," jelasnya lagi.


"Ceraikan si cupu secepatnya." Mata sayu itu menatap penuh harap.


"Aku nggak bisa, Mami akan terluka jika aku menceraikan Sabrina tanpa alasan." Alex memalingkan muka, melepas tangan Karlina.


"Itu tandanya kamu tak pernah mencintaiku."


Alex menatap Karlina kembali, menangkup wajah sang kekasih. "Aku ingin kamu bersabar, sampai waktu perjanjianku dan si cupu berakhir."


Karlina memeluk Alex. "Baiklah, aku akan berusaha sabar. Tapi janji, kamu nggak akan lagi menemui si cupu." Karlina menautkan jari kelingkingnya.


"Ya, aku janji. Dia gadis polos yang mudah dirayu dan terbuay oleh manisnya perhatian palsu yang aku berikan. Sungguh, Sayang. Sabrina itu bukan tipeku, dia terlalu naif." Alex membelai wajah Karlina dan memberi sapuan lembut di bibir meronanya.


Perih hati Sabrina mendengar ucapan Alex. Ya, dia memang naif. Mudah luluh dengan kelembutan palsu yang pria itu berikan, dia adalah korban keserakahan napsu pria berhati batu. Dengan bodohnya juga Sabrina selalu menerima kepalsuan sikap Alex yang penuh tipu daya.


Sadar Sabrina, kamu telah tertipu. Semua sikap manisnya palsu, dia adalah Srigala berbulu Domba. Dia adalah seekor buaya yang sewaktu-waktu menerkam, mencabik-cabik tubuhmu sampai hancur tak tersisa.


Sabrina menghapus air mata yang entah kenapa malah menetes membasahi pipi. Apakah karena terlalu kecewa? Untuk apa kecewa, dia tak ada hubungan apapun dengan Alex. Ia juga tak perlu menangis, tangisannya itu malah akan membuatnya semakin rapuh dan harga dirinya akan semakin diinjak-injak.


Sabrina melengos pergi menuju dapur kembali, telinganya sudah kenyang dengan makian yang didingarnya. Sampai mulutnya pun terasa kaku, tak mampu menjawab bentakan Karlina.


Menyiapkan sarapan Sabrina lalukan. Membuat roti bakar dan susu hangat, permintaan sang nyonya rumah.


"Ingat, jangan mengadukan apa pun kepada Mami. Jika sampai Mami tahu, kamu akan mendapat hukumannya!" ancam Alex selesai sarapan.


Tak menjawab dan tak peduli dengan ancaman itu. Sabrina memilih mencuci piring dan gelas kotor, capek jika harus berdebat.


"Telingaya budek, Sayang," cibir Karlina, wanita itu sedang merapihkan dasi yang dipakai Alex. Mengumbar mesra dihadapan Sabrina.


Sayangnya Sabrina tak peduli dengan sikap sok romantis pasangan gila itu, hatinya terlalu sakit. Tak lama ponsel Sabrina berdering, sigap gadis itu mengambil ponsel dari saku celananya.


"Selamat pagi, jangan lupa dengan janjimu. Nanti sore aku akan menjemputmu."


"Baik Tuan Andra, dengan senang hati aku menunggu kedatangannya."


Belum selesai Sabrina bicara dengan Andra. Alex merebut ponsel Sabrina dan melemparkan ponsel tersebut kelantai.


"Siapa yang menyuruhmu pergi kepesta, hah?!" Raut wajah Alex berubah emosi.


"Aku sendiri yang ingin datang kepesta, aku juga punya hak behagia mencari kesenanganku sendiri."


Alex mencengkram kasar tangan Sabrina. "Ouh ... sudah berani melawan rupanya."


"Iya, aku capek terus dihina dan diperlakukan tidak adil!" Sabrina berusaha melawan, meronta ingin melepaskan tangannya dari cengkraman Alex.


"Seorang pembantu pantas mendapatkan hal seperti itu!"


"Pembantu juga pantas dihargai dan hidup bahagia!" Sabrina menendang pusaka berharga milik Alex dengan lututnya.


Membuat pria itu meringis sakit yang teramat, bahkan sampai berteriak histeris.


"Syukurin, biar nggak bangun lagi sekalian tu ular bulenya." Sabrina mencebik, senang melihat Alex kesakitan.