Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 38


Sabrina berniat lari usai menendang Alex. Namun, Karlina sigap menarik tangan Sabrina. Rambut kucir kudanya ditarik kasar. Sabrina meringis sakit, akan tetapi ia tak boleh kalah dengan keadaan.


"Beraninya kamu menyakiti kekasihku, gadis cupu!" bentak Karlina mencengkeram kasar dagu Sabrina.


"Itu pantas untuk pria tak punya hati seperti dia."


"Lancang!" Karlina menampar pipi Sabrina. "Aku akan menyiksamu sampai mati." Karlina menyeret tangan Sabrina membawanya ke kamar mandi.


Tak ada penindasan lagi. Sabrina melawan, mengigit tangan Karlina.


"Arhkk! Cupu kurang ajar!" Karlina mengibaskan tangan, merasakan sakit akibat gigitan Sabrina.


Sabrina berlari menuju gerbang. ia merasa menjadi seorang tahanan yang diperlakukan kejam.


Karlina ternyata mengejarnya, wanita itu bagai singa lapar yang siap mencabik tubuhnya rakus. Ngeri dengan seringai penuh amarah itu. Apalagi Alex meneriakinya dan menyusul mengejar Sabrina.


Bagaimana ini? Aku terjebak dalam situasi yang sangat berbahaya.


Brak.


Karlina mendorong kasar tubuh Sabrina sampai membetur gerbang.


"Karlina!" Suara penuh amarah itu membentak. Tak terima dengan kekasaran yang terjadi pada Sabrina. Berjalan dengan langkah cepat dan wajah penuh emosi. "Sekali lagi kau menyentuh Sabrina dan mengasarinya, aku akan membeberkan rahasia kelammu itu sampai Alex pun akan sangat jijik dan meninggalkanmu!"


Suara pelan itu penuh tekanan dan ancaman membuat Karlina tak berkutik dan melepaskan Sabrina.


"Ada urusan apa kamu kesini?" tanya Alex dengan wajah tak suka melihat kedatangan Andra.


"Aku ingin menjemput kekasihku," jelas Andra penuh keseriusan.


Sedangkan Alex dan Karlina saling tatap tak percaya. Bagaimana bisa Andra menjadi kekasih Sabrina dalam waktu singkat.


"Kekasih, si cupu menjadi kekasihmu. Hidupmu pasti akan dipermalukan jika gadis cupu ini berada disampingmu," cibir Alex melirik Sabrina dengan tatapan mengejek.


"Justru kamu yang akan sangat menyedihkan setelah wartawan diluar sana tahu, seorang pengusaha muda ternama menyiksa gadis kecil bersama kekasihnya." Andra balik menantang, kedua pria itu saling mengobarkan api permusuhan.


Alex mengertakan gigi, kedua tangannya mengepal kuat apalagi saat melihat tangan Sabrina dipegang oleh Andra dan membawa gadis itu masuk ke dalam mobil yang terparkir depan rumahnya.


Alex semakin kesal. Ia tak bisa menahan kepergian Andra membawa Sabrina. Pria itu tak bisa dianggap remeh, dalam sekejap berita yang sudah diancamkan Andra akan cepat terjadi. Sedangkan Karlina menggerutu kesal dalam hati teringat akan ancaman Andra yang mengetahui akan semua rahasianya.


"Diam! Ini semua karenamu, jika kamu tak egois. Andra nggak akan berani membawa si cupu." Alex bergegas masuk ke dalam mobilnya.


"Sayang, kamu mau kemana?"


"Aku akan menemui dokter, kamu nggak lihat aku masih sangat kesakitan seperti ini, hah!" bentak Alex bergegas mengemudikan mobilnya tak peduli dengan teriakan Karlina yang terus memanggilnya.


Sial! Si cupu beraninya menendang ular buleku. Sedangkan ini adalah barang paling berharga yang bisa membuatnya melayang-layang penuh kenikmatan. Ah, Sabrina! Gadis itu tak bisa diremehkan kali ini, dia berani melawan mengibarkan bendera peperangan. Dan lagi untuk apa si Andra ikut campur.


Alex memukul stir mobilnya, kobaran amarah menyelimuti hati dan pikirannya.


***


"Bagaimana, Dok. Apa luka memar di pipi Sabrina bisa cepat hilang?" tanya Andra usai mereka sampai di rumah dokter.


"Tuan nggak usah khawatir, kami akan merawat gadis ini dengan sangat baik. Dalam waktu dua jam wajah Nona akan kembali berseri," jawab Dokter Edward, dokter kepercayaan keluarga Andra.


"Baguslah, rawat gadis ini dengan baik. Jangan sampai ada yang terlewat dari pemeriksaanmu."


"Baik, Tuan. Kami tak akan mengecewakan Tuan Andra."


"Bagus."


Andra menemui Sabrina di ruang perawaran, gadis itu terlihat melamun dekat jendela.


"Ada apa. Kenapa kamu melamun?"


"Seharusnya Tuan tak usah berlebihan, ini hanya memar biasa saja. Aku merasa tak enak diperlakukan seperti ini."


Andra duduk di kursi sebelah Sabrina. "Nanti malam aku akan mengajakmu kepesta, nggak mungkin keadaanmu terluka seperti ini. Nanti aku disangka melakujan kekerasan terhadapmu."


"Tapi ...."


"Tak ada tapi-tapian, aku akan menemui klien dulu. Setelah perawatanmu selesai. Aku akan menjemputmu lagi ke sini. Tenang lah, di sini aman." Andra mengelus lembut rambut Sabrina sambil tersenyum ramah.


Pria ini lembut sekali sikapnya. Coba ... eh, coba apaan. Sabrina jangan menghayal berlebihan.