Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 74


"Sial!" umpat pria kepala plontos. Geram dengan pukulan pria bertompel tersebut. "Pria jelek, beraninya memukulku!" Cibirnya angkuh. Sembari melayangkan pukulan.


Xander malah tertawa, menangkis pukulan tersebut. Tak sedikitpun rasa takut terlihat dari wajahnya. Ia malah terlihat murka, menahan setiap pukulan dan membalas dengan sangat brutal.


"Jago berkelahi juga pria tompel ini!" sindir pria berambut ikal, sembari mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Xander memukulnya dengan kasar.


"Pastinya, pemilik sabuk hitam tak boleh kalah melawan para penghianat seperti kalian!" Xander berucap setengah berteriak, apalagi saat melihat kondisi Sabrina yang terluka.


Perkelahian kembali terjadi, menyisakan luka sayatan ditangan Xander. Membuat pria itu menyeringai tajam, mengeluarkan senjata api dari balik celana yang membuat ke empat pria berkupluk itu tertegun.


Satu tembakan Xander layangkan. Mengenai kaki salah seorang dari mereka, cara Xander melakukan perlawanan mengingatkan mereka pada seseorang.


Tangan Xander mengulur cepat menarik kupluk salah seorang dari ke empat pria itu dan setelah itu meneriaki penghianat.


"Siapa yang sudah menyuruh kalian, katakan?!" Xander murka, sekali tarikan pelatuk bisa membuat nyawa menghilang.


"Alexander Wijaya yang sudah menyuruh kami untuk melenyapkan gadis ini," jawab mereka kompak.


"Sialan! Bereskan keempat penghianat ini," titah Xander pada beberapa orang berbaju hitam yang sejak tadi mengawasi pergerakannya dari belakang.


"Siap, Tuan."


Sabrina tertegun, tubuhnya sampai gemetar dengan keyataan pahit yang baru didengarnya. Sabrina tak menyangka. Alex akan melenyapkannya agar bisa bersama dengan Karlina. Tak perlu dengan cara kasar, Sabrina akan pergi dari kehidupan Alex jika memang tak dibutuhkan lagi.


Selama ini Sabrina mengkhawatirkan Alex yang tak kunjung ketemu. Nyatanya pria itu masih hidup dan bersembunyi agar bisa diam-diam menyingkirkan Sabrina tanpa diketahui oleh orang tuanya. Segitu bencinya Alex pada Sabrina sampai tega berbuat demikian.


Sabrina berdiri berusaha berjalan dan terus menolak bantuan Xander, rasa sakit ditubuhnya seakan sirna. Terganti dengan luka hati yang mendalam.


"Sabrina!" panggil Xander, mencoba membantu memapah gadis yang terus menolaknya. "Kamu terluka," ucap Xander.


"Aku tak butuh bantuan, aku masih bisa berjalan tanpa bantuanmu."


Melihat begitu keras kepalanya Sabrina yang terus menolak bantuannya. Xander memaksa menggendongnya, walaupun Sabrina melawan dengan memukulinya. Namun, Xander tak melepaskan gadis itu yang akhirnya menangis membenamkan kepala di dada Xander.


"Menangislah, jika dengan hal itu akan membuat hatimu jauh lebih tenang."


Sabrina menangis semakin menjadi, melingkarkan tangannya di leher Xander. Hati Sabrina terasa teriris sembilu jika teringat kejadian yang sudah menimpanya. Para pria itu hampir saja melecehkannya kalau Xander tak cepat datang.


"Kamu punya pengawal?" tanya Sabrina, gadis itu mulai tenang.


"Mereka hanya teman seprofesi penjual jamu saja."


"Tentunya, untuk menjaga keselamatanku sendiri."


"Apakah Alexander Wijaya kekasihmu?"


"Dia ...." Sabrina menghela napas berat sebelum melanjutkan ucapannya.


"Tak perlu dijawab. Jika kamu enggan untuk bercerita," ucap Xander menghentikan langkahnya.


Tak terasa Sabrina sudah sampai di rumah yang kini sudah dikerumuni banyak warga, ternyata Bi Eis juga sudah sadar dari pingsannya.


"Sabrina!" panggil Bi Eis dengan deraian air mata, berhambur memeluk Sabrina. Berucap syukur atas keselamatan keponakannya itu.


"Bibi baik-baik saja 'kan?" Sabrina sangat khawatir, tak sanggup jika bibinya sampai kenapa-napa apalagi meninggal.


Para warga yang berkerumun pun bubar, situasi sudah terlihat aman. Sabrina juga dalam keadaan selamat walau ada sedikit memar di dahi dan di pipi, juga bagian lututnya berdarah.


Para warga pun sudah menemukan keempat bodyguard yang selalu menemani Sabrina dan Bi Eis, ternyata disekap di gudang belakang rumah dengan keadaan babak belur.


Bi Eis dan Sabrina mengucapkan terima kasih kepada Xander yang sudah menyelamatkan. Jika saja Xander tak datang tepat waktu. Entahlah apa yang akan terjadi pada Sabrina, mungkin hanya tinggal nama yang terkenang.


"Aku bantu obati lukamu," ucap Xander. Mengolesi obat di lutut Sabrina. "Kalau perih gigit saja tanganku, lukanya cukup serius." Xander menyodorkan tangan, rela jika Sabrina menggigit jemarinya.


"Tangan Kakak sakit, maaf ibu jarinya sampai merah gitu." Sabrina merasa bersalah dengan tingkah kekanak-kanakannya.


"Tak apa, bukannya kebiasaanmu suka menggigit," ujar Xander, membuat kening Sabrina memberengut.


"Hanya bercanda," ralat Xander sembari tertawa. "Aku pamit, masih ada urusan yang harus aku selesaikan. Bibi Eis juga sudah diobati, para penjagamu juga sudah membaik. Aku pastikan malam ini aman." Xander tersenyum, tangannya mengulur mengelus pipi Sabrina.


**


"Ampun, Tuan. Kami hanya disuruh," keempat pria itu bersujud dengan luka memar diwajah karena tak hentinya dipukuli.


"Katakan sekali lagi, siapa yang sudah menyuruh kalian melenyapkan Sabrina?"


"Alexander Wijaya, kami tidak bohong."


Satu pukulah kembali melayang di wajah keempat pria itu. Kata ampun seolah tak dipedulikan lagi, amarah sudah membakar jiwa.


"Lihat ini!" sentaknya, menunjuk pada wajahnya sendiri.