
"Loh, Bibi mau kemana dulu?" tanya Sabrina sembari mengekor dari belakang.
"Beli jamu pegal linu, yang kemarin waktu beli juga terasa khasiatnya," jawab Bi Eis, menerobos kerumunan pembeli lain.
"Bilang saja mau ngelirik, Mas penjual jamunya," gumam Sabrina.
"Mas tompelku yang gagah, tolong dong kasih resep obat perkasanya. Biar suamiku makin, ehem." Wanita berambut pirang ikal itu meminta dengan gaya manja.
"Sebentar ya, Mbak," jawabnya antusias.
Bi Eis pun meminta jamu yang pernah dibelinya, walau harganya sedikit mahal. Tapi terasa puas jika terasa khasiatnya dan juga selalu ramai pembeli, alias laris manis.
"De, cantik mau beli jamu juga?" tanya si penjual pada Sabrina.
"Tidak," jawab Sabrina tanpa melihat pria tersebut.
"Jamu langsingnya juga ada, De. Atau jamu buat pasangannya biar makin, ehem. Jika sedang bercinta."
Sabrina mengangkat kepala, melihat pria yang terus saja mengajaknya bicara dan ternyata benar yang dikatakan oleh Bi Eis. Namun, hal itu tak membuat Sabrina merasa risih. Gadis itu menyapa dengan senyuman menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh pedagang jamu tersebut dengan ramah dan senyuman.
"Lain kali saja, Kak," jawab Sabrina ramah.
Bi Eis yang sudah selesai membeli jamu kebutuhannya segera mengajak Sabrina pulang. Gadis itu pun kembali berpamitan kepada pria penjual jamu yang belum diketahui namanya itu.
Sesampainya di rumah. Sabrina membantu sang bibi membereskan belanjaan yang sudah dibeli dari pasar. Setelah selesai Sabrina duduk di kursi yang berada di dapur.
"Bi, pria tadi mirip Tuan Alex ya dari postur tubuhnya." Sabrina menyanggah dagu dengan sebelah tangan dan jemari telunjuk yang satunya mengetuk-ngetuk meja.
"Bilang saja kamu kangen sama Tuan Alex," tebak Bi Eis, seulas senyum mengembang di bibirnya.
"Dah lah, mending Sabrina ke kamar saja." Wajah Sabrina memberengut.
Sedangkan Bi Eis malah mentertawakan dan terus menggoda Sabrina.
"Memang tampan, tapi menyebalkan. Kalau dilihat-lihat lebih manis Kang jamu kayaknya."
"Ya, sudah. Kamu kenalan saja sama penjual jamu itu, biar Bibi bisa dapat jamu geratis."
"Yey, maunya." Sabrina melengos pergi menuju kamarnya.
**
Sabrina menjerit histeris di dalam kamar. Ia baru menyadari kalau kalung berlian yang dipakainya hilang, kalung tersebut pemberian Mami Tiwi sebagai kado pernikahannya dengan Alex.
"Bagaimana ini, Bi." Sabrina kembali menangis karena merasa sangat kehilangan. Bi Eis juga sudah mengusahakan mencari ke setiap sudut ruangan, sampai mencari keluar rumah sudah dilakukannya. Namun, tetap saja belum ditemukan. Sabrina takut kalau Mami Tiwi kecewa, mengetahui kalung pemberiannya telah hilang.
"Pokoknya harus ketemu, Bi," ucap Sabrina, gadis itu kembali mengacak tempat tidur barangkali saja terselip di bawah kasur.
Keadaan rumah benar-benar berantakan. Namun, barang yang di cari belum juga ditemukan. Sabrina kini pasrah jika nanti sampai dimarahi, karena tak sengaja menghilangkan.
"Sabar nanti Bibi bantu menjelaskan kepada Mami mertuamu itu. Lagian Bibi yakin mertuamu itu tak akan marah."
"Semoga saja," balas Sabrina dengan suara lesu diiringi dengan helaan napas berat.
"Sekarang bantu Bibi membereskan rumah kembali," pinta Bi Eis menarik tangan Sabrina agar berdiri dari duduknya.
Satu jam sudah membereskan rumah yang berantakan. Sabrina duduk di sofa sembari memijat pelipisnya.
Tak lama kemudian, terdengar suara bel rumah berbunyi. Sabrina bergegas membuka pintu, betapa terkejutnya Sabrina melihat sosok pria yang kini berdiri tepat di hadapannya. Senyuman itu membuat jantung Sabrina berpacu lebih cepat, sampai keringat dingin membasahi dahi.
🌹🌹
Selamat membaca. Semoga masih tetap setia menunggu cerita Alex dan Sabrina, akan seperti apa kelanjutan kisah mereka nanti. Berujung bahagia ataukah sebaliknya. Jangan lupa klik jempolnya dan komentarnya juga.
Makasih banget ya.😍