
Sepulang dari dokter. Alex menuju ke rumah Maminya. Ia punya alasan untuk menjelekkan Sabrina sudah berani pergi bersama pria lain. Dengan penuh percaya diri, Alex melangkah masuk ke rumah. Mendapati maminya yang sedang bercengkrama dengan sang papi di ruang tamu.
"Mami!" Alex mendekati Maminya, memasang raut kecewa di wajahnya.
"Eh, kamu bule arab. Sabrina nya mana?" Mami Tiwi celingukan mencari sosok mantu kesayangan.
"Putra mu itu ada disini, kenapa mencari yang lain." Alex merajuk manja dan tidur di paha maminya.
"Minggir, ini paha punya Papi. Kamu itu dah punya istri. Ngapain manja-manja sama Mamimu." Tanto mendorong kepala Alex agar menjauh dari paha sang istri.
"Ish ... pelitnya, sudah tua juga. Cemburu sama putra sendiri." Alex melengos pergi, beralih duduk di sopa sebelahnya.
Tanto tak terima disebut tua oleh Alex. Ia sampai melempar kepala putranya dengan bantal sofa.
"Apaan sih, Pi. Gitu saja marah. Putramu ini lagi sedih tahun." Alex merajuk.
"Memangnya ada masalah apa?" tanya Tiwi penuh selidik.
"Menantu kesayangan Mami pergi sama cowok lain," jawab Alex sekecewa mungkin.
Brak.
Mami Tiwi menggebrak meja. Setelah itu ia berdiri mendekati Alex dan menjewer telinganya. Alex meringis sakit meminta untuk dilepaskan.
"Mami itu kesambet apaan sih? Kenapa aku yang Mami jewer?" Alex mengelus telinganya yang terasa panas.
"Kamu pikir Mami itu gampang ditipu, hah! Dasar bule nggak ada akhlak. Menimpakan kesalahan sendiri pada orang lain." Tiwi berkacak pinggang, matanya pun melotot.
Ternyata Mami Tiwi sudah mengetahui semua perilaku Alex kepada Sabrina. Menyuruh mata-mata untuk mengawasi gerak-gerik Alex kemana pun ia pergi. Termasuk Karlina yang tinggal di rumah Alex.
"Mi, Sabrina itu salah. Dia pergi sama pria lain." Alex berusaha menjelaskan agar tak disalahkan.
Ah, sialan! Kenapa aku lupa sama kecerdikan Mamiku yang satu ini. Dia punya banyak mata di mana-mana.
"Tapi Sabrina sudah berani menyakiti ular buleku, Mi." Alex memelas agar maminya bersimpati.
"Syukurin! Biar nggak bangun lagi sekalian, ular bulemu itu!" sentak Mami Tiwi, amarahnya tak ada habisnya.
"Tega bener, Mi. Sama anak sendiri. Kalau ular pusakaku bermasalah, Sabrina bisa bersedih, Mi."
"Tinggal cari yang lebih perkasa!" bentak Tiwi kembali melotot.
"Biasa saja dong, Mi. Bola matanya kayak mau loncat segala." Alex berusaha mengajak maminya bercanda. Namun, tak semudah itu meluluhkan amarah maminya. Malah kini maminya bagaikan singa lapar yang siap melahapnya habis. Alex sekuat tenaga menelan salipanya, tenggorokannya terasa kering seketika.
"Sabrina itu lemah, Mi. Dia suka pingsan. Sama aku saja dia sudah kenyang."
Mami Tiwi malah semakin geram, memukuli Alex dengan bantal sofa. Sesekali kaki Mami Tiwi ikut menendang saking kesalnya. Putranya itu sudah melalui batas kemanusiaan, menyakiti istrinya tanpa henti.
"Mami lebih memilih Sabrina sebagai anak Mami. Dia gadis baik, tak pernah mengadukan keburukanmu kepada Mami. Kecewa Mami punya anak sepertimu, Lex!" Mami Tiwi mengoceh masih memukuli putranya. Air matanya tak terasa menetes membasahi pipi.
"Jangan nangia gitu dong, Mi. Nanti cantiknya hilang loh."
"Diam! Mami sedang tak butuh bercanda, Lex. Mami tahu akan kesalahan Mami di masa lalu yang kurang perhatian sama kamu, tapi nggak gini juga. Kamu jadi pria yang kejam pada wanita terutama pada istrimu. Mami dan Papi dulu bekerja keras untuk kebahagiaanmu walau caranya salah sudah mengacuhkanmu. Pokoknya usir Karlina, bawa Sabrina pulang." Tiwi menangis tersedu-sedu, memegangi kepalanya yang mulai terasa pusing dan hampir terjatuh kelantai. Sigap Papi Tanto menahan dan membawa Mami Tiwi duduk di sofa.
"Kamu dengar apa kata Mamimu, bawa Sabrina kembali pulang dan dinggalkan Karlina!" tegas Papi Tanto.
Alex bimbang, selalu saja gagal jika ia ingin membawa hubungannya dengan Karlina kejenjang yang lebih serius. Apa Karlina bukan jodohnya? Dan si cupulah jodohnya. Ah, tapi Alex tak ada perasaan apa-apa sama si cupu. Bagaimana bisa ia hidup dengan wanita yang tak dicintainya.
Alex segera pergi dari rumah maminya, berniat menjemput Sabrina kembali. Tapi gengsi, apa kata Andra nanti. Alexander Wijaya menjemput pembantunya sendiri. Sorry, bukan level.