Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 93


Karlina mengatai Alex pria gila, mengumpat sesuka hati karena terlalu malu dan emosi. Tak disangka Alex akan mempermalukannya, padahal niat awal Karlina ikut acara fashion show untuk menggoda Alex kembali dengan penampilan super seksinya. Nyatanya Karlina sendiri yang terjebak pada permainan Alex.


Kepercayaan diri Karlina terlalu besar, yakin akan rencana yang sudah disusunnya akan berjalan mulus. Bisa menggoda Alex kembali dan memanfaatkannya, setelah itu dihempaskan bagai sampah yang menjijikan.


"Lepaskan tanganku!" teriak Karlina saat dirinya diseret paksa turun dari panggung catwalk. wanita itu mengeluarkan sumpah serapah yang tidak ada habisnya.


Karlina menatap nyalang pada Sabrina, tatapan itu seolah ingin menghabisi karena merasa. Apa yang menimpanya kini adalah ulah Sabrina.


Sigap tangan Alex menghalangi kala wanita itu ingin menampar Sabrina dan menjambak rambutnya. Justru niat Karlina itu berbalik padanya, Alex menjambak dan mencengkram kasar leher Karlina dengan sorot mata membunuh.


"Berani kau menyentuh istriku, jangan harap kamu masih bisa bernafas Karlina!" ancam Alex penuh penekanan.


Sedangkan Karlina tertawa seolah mengejek. "Istri! Wanita yang selalu kamu katai dengan sebutan cupu kini kamu anggap istri! Sangat menggelikan, apa kamu tidak malu selama ini selalu menghina dan mengabaikan si cupu demi mementingkan aku. Karlina seorang," ucapnya, tak peduli lagi dengan suara cemoohan. Terlanjur malu mending mempermalukan diri sendiri, siapa tahu sesudah mempermalukan Alex akan ada yang bersimpati.


Alex malah tertawa, sama sekali tak peduli dengan hinaan yang dilontarkan Karlina kepadanya. Ia pun takkan mengelak karena memang kenyataannya ia adalah seorang pria brengsek. Mengakui akan perilaku buruknya di masa lalu, yang terpenting sekarang ingin berubah dan Sabrina sudah menerimanya.


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Karlina. Mami Tiwi menamparnya, sudah geram dengan prilaku Karlina yang selalu menghina putranya. Sedari tadi hanya memperhatikan dari kejauhan saja, ternyata Mami Tiwi harus turun tangan juga.


"Satu kalimat keluar dari mulutmu, maka akan aku jahit bibirmu agar tak dapat bicara lagi," ancaman yang keluar dari bibir Mami Tiwi tak pernah main-main, wanita itu pasti akan melakukan hal tersebut. Mengalah, baiklah. Sepertinya hal itu yang harus Karlina kini lakukan walaupun wanita itu merasa tak terima menjadi tersangka seorang diri. Sedangkan Andra dalang dibalik semua kejahatan bisa bersantai ria.


Sebenarnya apa rencana Alex, kenapa Andra tak diperlihatkan. Permainan apa yang akan Alex lakukan, membuat Karlina menjadi sangat penasaran.


"Tunggu pembalasanku!" teriak Karlina penuh ancaman, saat tangan yang sudah memakai borgol itu ditarik paksa. "Kamu akan menyesal, Lex!"


Memang sangat tak adil. Hanya Karlina saja yang jadi tersangka, sedangkan Andra masih bisa berkeliaran. Karena dalam rekaman cctv itu hanya Karlina seorang, sepertinya Andra sudah memanipulasi. Pandai sekali, ternyata selama ini Karlina hanya dijadikan alat untuk menutupi keburukannya.


Wanita bodoh yang mudah dimanfaatkan, sama saja seperti Alex yang mudah dimanfaatkan oleh Karlina. Impas bukan? Awalnya Alex mengira Andra juga akan mudah tertangkap, agar ia bisa hidup damai dengan Sabrina. Ternyata pria itu lebih licik dan Alex harus lebih hati-hati, dibalik kelengahan Andra ternyata pria itu juga sangat waspada.


Sedangkan Sabrina masih terlihat syok atas kejadian yang barusan telah terjadi. Alex memberikan segelas air agar istrinya itu tidak terlalu tegang.


"Kamu baik-baik saja?" Alex mengelus jemari Sabrina.


"Iya," jawabnya.


**


Malam harinya. Alex mengajak Sabrina makan malam diluar, akan tetapi Sabrina menolak. Setelah kejadian siang tadi rasanya Sabrina malas pergi kemana-mana, hanya ingin duduk manis di sofa sembari menonton film drama romantis kesukaannya.


"Kenapa?" Alex duduk di sofa sembari bersila, merangkul kepala Sabrina agar bersandar dipundaknya.


"Aku takut sama Karlina, wanita itu sangat jahat." Sabrina teringat kembali betapa tak punya hati Karlina menusukkan benda tajam di bahu Alex dengan sangat kasar.


Tangan Sabrina meraba bahu Alex. "Apa masih sakit?" tanyanya khawatir. Setelah itu membuka satu persatu kancing baju Alex. Ingin memastikan luka dibahu suaminya itu benar-benar sembuh.


Sabrina menekan-nekan luka Alex. "Sakit tidak?"


"Awwh, sakit banget Sayang. Sepertinya lukanya belum sembuh, coba dielus," jawab Alex.


"Periksa ke dokter lagi ya." Sabrina merasa khawatir, jadi teringat pernah menendang luka ini sampai kembali berdarah.


"Sepertinya tak perlu, dielus sama kamu juga langsung hilang sakitnya." Alex refleks mengangkat tubuh Sabrina dan membawa istrinya itu ke tempat tidur, kalau sudah seperti itu pasti hanya sebuah percintaan yang akan dilakukan oleh keduanya. Melakukan sebuah peragaan penuh gairah di tempat tidur.