Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 19


Sabrina menghela napas masygul, setelah melihat acara berita di tv. Pria yang semalam menidurinya sampai pingsan sedang diwawancarai secara eksklusif. Alex mengatakan kalau ia belum menikah, hanya berencana saja untuk menikah. Lantas semalam, apa yang telah dia lakukan? Menyakiti Sabrina sampai-sampai gadis itu merasa tak sanggup untuk berjalan, sekarang saja tubuhnya terasa remuk.


Ingin sekali Sabrina membanting televisi itu dengan pot bunga di depannya. Atau menyiram wajah Alex dengan air teh yang sudah diseduhnya. Sabrina benci pada pria yang memikirkan kesenangannya saja, tanpa peduli ada hati lain yang tersakiti. Melemparkan remote tv kelantai sampai hancur, tak peduli walau Alex memarahinya. Bukannya dia itu orang kaya yang bisa membeli segalanya.


Sabrina berlari ke kamar dan menangis disana, di bawah selimut tebal memeluk guling. Hanya itu temannya saat ini. Ia tak bahagia dengan pernikahannya. Merasa menderita dipermainkan seakan menjadi boneka kepuasan hasrat seorang pria saja, itu lebih menyakitkan. Menyesal, kenapa dulu harus menerima pernikahan ini? Lebih baik bunuh diri saja, itu lebih baik.


Aku benci kepadamu Alexander Wijaya, pria tak punya perasaan. Pria mesum, pria gila, pria berengsek.


Sabrina mengeluarkan bermacam kata umpatan, merasa belum puas dengan amarahnya. Sabrina mengambil pensil dan selembar kertas putih dari laci, menggambar wajah Alex sejelek mungkin. Ditempelkannya di guling, setelah itu Sabrina meninju, menginjak, mencabik-cabik, seakan itu adalah Alex yang sedang disiksanya. Sampai-sampai guling itu rusak, bulu-bulu halus dari dalam guling itu bertaburan keudara. Sabrina benar-benar puas meluapkan amarahnya. Kini, kamar yang tadinya rapi berubah menjadi sangat berantakan.


Aku harus pergi dari rumah ini. Ketaman, ya, tempat itu lebih menyenangkan.


Sabrina mengayuh sepeda menuju ke sebuah taman yang pernah dilihatnya sewaktu pergi ke supermarket, taman itu tak jauh dari rumah Alex. Di sana juga banyak anak-anak kecil yang bermain riang, terlihat sangat bahagia. Tawa mereka mengingatkan Sabrina akan masa kecilnya dulu yang bahagia bersama kedua orangtuanya. Sabrina duduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon rindang, di sana juga terdapat taman bunga yang beraneka ragam terlihat sangat cantik bermekaran.


Air bening itu menganak sungai dari celah jemari Sabrina. Gadis itu kembali menangis, ia membutuhkan teman untuk bercerita. Tapi selama tinggal di kota, ia tak punya teman dan kenalan. Hanya Bi Eis yang selalu menemaninya.


"Kakak nangis, ya?" Seorang gadis kecil berambut kepang dua menyapa Sabrina, anak itu belepotan karena sedang memakan es krim.


Sabrina mengangguk, gadis itu mengingatkan pada dirinya waktu masih kecil dulu. Kepang dua, sama seperti rambutnya saat ini.


"Jangan nangis, nanti cantiknya hilang. Nih, aku kasih es krim buat Kakak." Gadis itu memberikan es krim yang belum dimakannya.


"Boleh aku makan?" Sabrina memastikan.


"Tentu saja, makan es krim bikin hati jadi senang," jawab gadis kecil itu dengan polosnya.


"Berapa usiamu?" Sabrina membalikan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan gadis kecil itu.


"Empat tahun, Kakak lagi sakit hati, ya?"


Sabrina tertegun, gadis kecil ini bisa tahu kalau suasana hatinya sedang kacau. "Iya."


Sabrina tersenyum, mengelus rambut halus anak itu. "Dinama Ibumu, Nak?"


"Di Surga. Kakak jangan sedih ya, habis gelap pasti ada terang." Gadis itu berlari kearah seorang wanita paruh baya dan melambaikan tangan kepada Sabrina.


Benar yang di ucapkan gadis kecil itu, habis gelap pasti ada terang. Dibalik kesedihan pasti ada kebahagiaan.


"Jika aku bertemu gadis kecil itu lagi, aku akan mengganti es krimnya," gumam Sabrina.


***


Sabrina sampai di rumah milik Alex. Ia memarkirkan sepedanya di garasi dan terkejut usai melihat mobil Alex. Pria itu sudah kembali, seketika Sabrina panik akan kondisi rumah yang berantakan. Bukannya ini masih jam satu siang, kenapa pria itu sudah kembali? Wah, bahaya ini. Aku harus sembunyi, kalau tidak ... Sabrina bergidik ngeri.


"Eh, cupu. Ngapain mondar-mandir disana? Beresin rumah yang berantakan. Aku ada kerjaan di luar kota selama dua hari, ingat. Jangan macam-macam!" Ancam Alex, raut wajah pria itu tak ada manis-manisnya sama sekali.


Pergi saja sana, nggak usah kembali sekalian, rutuk Sabrina dalam hati. Ia benar-benar senang dengan kepergian Alex.


"Kamu sepertinya senang sekali jika aku pergi, masukan coverku ke dalam mobil," titah Alex lagi.


Huh, kalau mau pergi ya pergi saja, nggak usah nyuruh-nyuruh.


Alex melihat mata sembab Sabrina, ia jadi teringat kejadian tadi malam dan pagi tadi. Pikiran Alex travelling ingin bercinta sebelum pergi, apalagi dalam dua hari ini nggak akan bertemu si cupu.


Ditariknya tubuh Sabrina ke dalam rumah, menghempaskannya ke sofa.


"T-Tuan, mau apa lagi."


Alex terlalu terburu oleh waktu, apalagi Rey terus menghubunginya. Namun, ingin merasai Sabrina walau hanya sebentar saja. Dan Alex pun melakukanya dengan tergesa meski Sabrina kembali menangis, Alex tak peduli. Yang penting keinginannya terpenuhi.