Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 60


"Siapa pria yang bernama Jonathan?" Tanpa basa-basi Alex bertanya, "bukannya di kamar ini juga kalian bersama. Bermesraan juga, bukan?" Alex berbicara dengan nada sinis.


"Kamu salah paham, Sayang. Jonathan itu adalah sahabat lamaku, kami memang bermalam di hotel ini dan di kamar ini juga. Tapi tak berdua, bersama asistenku yang lain. Saat larut malam, Jo kembali ke kamarnya. Hanya masalah bisnis saja, kamu cemburu?" Karlina mengelus pipi Alex.


Alex mendengkus kesal, siapa yang berbohong dan siapa yang benar. Suruhannya mengatakan Karlina hanya berdua saja dengan Jon, tapi ... ah, sangat membingungkan.


"Kamu mulai meragukan cintaku, Lex?" Karlina mulai menitikan air mata.


"Jangan pernah menangis dihadapanku." Alex mengecup kening Karlina. "Kali ini aku mempercayaimu, tapi ...."


Karlina menyambar bibir Alex. Wanita itu begitu agresif membuat Alex hampir kewalahan.


"Jangan pernah meragukan cintaku, hanya kamu pria terakhir yang ada dalam hidupku." Rayu Karlina membuat Alex terbang melayang.


Kali ini sepertinya Karlina berhasil meluluhkan Alex, ular betina yang sangat berbisa. Sekali mengeluarkan bisa, mangsa pun sampai bertekuk lutut.


Wanita itu tak pernah lelah merayu agar Alex kembali bercinta dengannya di tempat tidur. Namun, keinginan Karlina yang memuncak itu Alex patahkan. Dia keluar dari kamar meninggalkan Karlina, penasaran dengan kegiatan yang Sabrina sedang lakukan bersama maminya di puncak usai melihat postingan di chat story.


Postingan makan jagung bakar bersama di saat malam, ditemani dengan api unggun membuat Alex benar-benar penasaran. Dengan siapa saja maminya itu pergi ke Puncak? Nggak mungkin hanya berdua bersama Sabrina saja.


Alex mencoba menelpon Sabrina. Tersambung, sayangnya tak ada jawaban. Si bule mulai kesal merasa diacuhkan. Pikiran buruk memenuhi otaknya, kalau Sabrina sedang pacaran dengan pria lain di puncak. Sekian kalinya Alex mencoba menghubungi nomor Sabrina.


"Hai cupu! Kenapa kamu mengacuhkanku?!" suara sentakan itu begitu nyaring, membuat telinga Sabrina berdengung.


"Ada apa, Tuan?"


"Apa yang sedang kamu lakukan?"


"Bakar jangung bersama Mami."


"Siapa lagi?"


"Heum ... itu."


Sabrina bergegas mematikan ponselnya. Saat Andra memanggil namanya menawarkan jagung bakar yang sudah matang.


Sedangkan Alex seperti orang kebakaran jenggot, usai mendengar suara pria yang tak asing baginya, Andra. Kenapa bisa pria itu bersama Sabrina? Alex kesal, tak terima dan merasa kalau Sabrina menghianatinya.


Mami Tiwi tertawa usai mendengar kata 'istri' sedangkan Alex sendiri membawa wanita lain, sampai berfoto mesra dan diunggah lewat akun Instagram.


Masih pantaskah Alex menyebut dirinya sebagai seorang suami? Mami Tiwi membalas memarahi Alex, meluapkan amarah yang sedari tadi tertahan. Dan menyuruh Alex menyelidiki wanita ular itu dari pada menuduh Sabrina yang bukan-bukan.


"Ingat ucapan Mami baik-baik! Dan satu lagi, Mami akan menyekolahkan Sabrina ke Belanda. Agar dia bisa mencapai cita-citanya yang tertunda menjadi Dokter."


"Nggak bisa! Aku nggak akan mengijinkan si cupu keluar negeri, dia itu sudah menjadi isrtiku dan hanya aku yang berhak atas dirinya."


"Heum, kamu tak pantas untuk Sabrina! Dasar bule edan."


"Kalau aku edan! Mami pun lebih edan. Membiarkan Andra bersama Sabrina."


"Alexander!" Mami Tiwi berteriak, suaranya menggema di ruang tamu.


"Kenapa? Mami merasa bangga dengan nama itu sampai meneriakinya segala."


"Anak kurang ajar, Mami nggak akan membiarkanmu menyentuh Sabrina! Biar mati sekalian ular bulemu itu."


"Masih ada yang lain, aku tak akan pernah merasa kelaparan," jawab Alex dengan angkuhnya sambil mematikan ponsel.


***


Sabrina dan Andra duduk di bangku panjang dekat api unggun sambil memakan jagung bakar. Sesekali mereka tertawa melihat kelucuan Mami Tiwi dan Papi Tanto.


"Aku juga ingin seperti mereka, bahagia dan penuh cinta." Andra melirik Sabrina yang duduk disampingnya.


"Iya, Mami dan Papi selalu kompak dalam segalahal."


"Bolehkah aku mengatakan sesuatu."


"Apa?"


"Aku sangat menyukaimu, Sabrina."