Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 47


Oke, kita lanjutkan episode yang kemarin, maaf atas double up yang sama. Ceritanya itu revisi kata yang salah, terlalu ngantuk jadinya gitu, othor sampai nggak sadar pencet tombol kirim dua kali. 😁😁😁


Oh, iya. Makasih ya kepada para pembaca yang masih setia membaca novel ini, semoga nggak bosan dengan alur ceritanya. Berikan like dan komentar disetiap bab nya, agar author semakin semangat berimajinasi dan berharap novel ini bisa lebih baik dari novel sebelumnya.


Dukung juga novel ini dengan hadiah dan vote nya juga. Salam sayang dari author receh.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


"Nggak usah membantah, ikuti saja kemauanku. Cek model lingerie berbahan bagus dan adem ... dilihat mata." Alex menyodorkan laptop, agar Sabrina bisa lebih leluasa memilih barang-barang yang lainnya.


"Banyak pun tak apa, nanti aku bayar semuanya. Mulai sekarang buang semua baju lusuhmu itu." Alex mulai merapat pada Sabrina dan menyapu lembut leher jenjang Sabrina. Setelah itu mulai memainkan rambut panjang sang gadis.


"Pakai shampo apa, wangi banget. Rawat rambut panjangmu, sering-sering kesalon dan melakukan perawatan. Jangan berdandan terlalu cantik kalau keluar rumah."


Sabrina semakin tak mengerti dengan setiap permintaan Alex, sebenarnya ada apa dengan pria ini. Sifatnya sering berubah-ubah, jika sudah sampai Jakarta lagi. Apa sikap manisnya akan tetap sama? Apalagi Karlina selalu ada disampingnya, seandainya saja ini bukan sekedar lelucon, akan tetapi kenyataan yang bisa Sabrina rasakan selamanya.


Ada rasa aneh mulai menjalar di relung hati Sabrina. Perasaan apa ini? Rasa nyaman saat Alex mendekapnya. Rasa disayangi dan dipedulikan menyelimuti hatinya, ingin selalu dalam dekapannya. Candu akan aroma maskulin yang dimilikinya.


"Sudah selesai?" tanya Alex tiba memecahkan lamunannya.


Sabrina menggigit bibir bawahnya, rasanya sangat nggak adil. Kebersamaannya sekarang hanya sebatas mimpi belaka, setelah bangun semuanya akan kembali seperti semula. Menjadi istri yang tak dianggap kehadirannya.


Air bening itu jatuh tanpa permisi membasahi kedua pipi, napas mulai tak beraturan karena terlalu nyeri yang dirasakan.


Alex menangkup kedua pipi Sabrina, membuat gadis itu panik seketika. Berusaha menghapus air matanya, Alex sigap menahan dan memberi kecupan di kedua mata yang mulai sembab itu.


"Jangan seperti ini, Tuan. Jangan pernah memberikan harapan yang nantinya akan berakhir penuh penderitaan." Sabrina mendorong tubuh Alex agar menjauh darinya. "Aku hanya sebatas istri yang dianggap jika dibutuhkan dan setelah puas dibuang tanpa belas kesihan." Sabrina menangis, terlalu sesak jika teringat akan semua perilaku Alex yang selalu mempermainkan.


"Kemarilah," titah Alex berusaha meraih tangan Sabrina yang menjauh darinya.


Sabrina menggeser duduknya. "Tidak mau, jangan pernah merayuku seperti itu. Habis manis sepah dibuang."


"Kadis kecilku yang manis, kemarilah. Nanti aku berikan permen." Alex merayu dengan memasang ekspresi wajah seimut mungkin.


"Aku bukan gadis kecil yang bisa dirayu dengan permen. Sudahlah, Tuan. Lebih baik aku tidur di kamar sebelah daripada terus bersamamu di sini hanya memakan hati saja."


Sabrina hendak turun dari kasur. Namun, Alex menahan tangannya segera mendekap gadis itu dari belakang menyuruhnya jangan pergi.