Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 70


"Sabrina kamu baik-baik saja 'kan?" Bi Eis terlihat sangat khawatir dan memberi Sabrina minum.


"Aku baik-baik saja, Bi," jawab Sabrina, gadis itu kembali duduk di sofa yang berada di kamarnya.


"Jangan-jangan kamu hamil?" Bi Eis bertanya, raut wajahnya nampak khawatir.


"Bibi itu, aku lagi datang bulan. Bagaimana bisa hamil," jawab Sabrina sembari berderai air mata.


"Apa kamu merasa kehilangan?" Bi Eis menggenggam tangan Sabrina. Mencari jawaban dari mata sembab itu. Sabrina tak akan bisa berbohong masalah perasaannya.


Sabrina berdiri, berjalan menuju jendela samping sofa. "Entahlah, Bi. Untuk apa aku mencintainya, sedangkan kini semua rasa itu sudah terlambat." Sabrina menutupi wajahnya dengan tangan, agar Bi Eis tak melihat derasnya airmata yang membasahi pipi.


Bi Eis mengusap bahu Sabrina. "Bersabarlah, jika Tuan Alex itu jodohmu. Pasti dia akan kembali padamu."


"Bibi itu suka mengada-ngada. Bagaimana bisa orang mati hidup kembali?"


"Bisa saja jika Tuhan menghendaki, dan lagi Bibi merasa. Tuan Alex masih hidup."


"Semoga saja ya, Bi," balas Sabrina penuh harap.


**


Seminggu telah berlalu semenjak kabar kematian Alex. Sabrina lebih banyak diam serasa ada yang hilang pada dirinya.


Kenapa jadi begini, Sabrina. Ada apa denganmu? Sadarlah. Jangan sampai hanyut pada perasaan yang belum tentu kamu raih dan malah akan menuai kecewa.


Sabrina berguling-guling di kasur, denyutan yang kini dirasakannya membuat hati semakin resah. Rasanya ia ingin berteriak kencang meluapkan rasa sesak di dada.


Seharusnya Sabrina kini merasa senang. Setelah mendapat kabar dari Mami Tiwi, hasil observasi leb membuktikan yang dikebumikan itu bukanlah Alex. Melainkan orang lain yang memiliki postur tubuh yang sama dan ciri-ciri lainnya yang sama seperti Alex. Akan tetapi Sabrina malah merasakan sepi, apalagi Alex sama sekali belum bisa ditemukan. Entah dimana keberadaannya. Bagaimana keadaannya? Sabrina menjadi kepikiran.


Tak usah dipikirkan, pria mesum itu pasti sedang bersenang-senang dengan wanita-wanitanya. Jangan bodoh Sabrina!


Gadis berambut kusut tersebut terus saja menggerutu dalah hati, kesal dengan rasa yang seenaknya datang tanpa permisi. Ya, Cinta. Sabrina mulai merasakan itu kepada Alex, entah kenapa. Padahal pria itu selalu menindasnya dan memanfaatkannya untuk kepuasan di ranjang saja.


Akan tetapi, ada rasa nyaman yang menyelusup secara tiba-tiba pada relung hati terdalam. Dan tak bisa dipungkiri lagi, rasa itu adalah cinta yang selama ini terpendam dan sekarang muncul kepermukaan.


"Aku benci Alex!" teriak Sabrina kencang dari dalam kamar, untungnya saja. Rumah yang ditempati Sabrina jauh dari rumah tetangga, sehingga tak mendapat teguran.


"Ada apa? Kenapa kamarmu jadi berantakan seperti ini, dan lagi rambutmu ... coba becermin, mirip nek lampir saja. Lebih baik mandi, ikut Bibi kepasar. Bukannya senang dengan kabar baik dari mertuamu, ini malah kayak orang gila teriak-teriak nggak jelas."


"Bibi," rengek Sabrina meremas kembali rambut yang sudah berantakan itu.


Bi Eis duduk di bibir dipan. "Ada apa?"


"Aku nggak mau jatuh cinta." Sabrina menghela napas berat. "Takut kecewa," lanjutnya lagi.


"Nggak perlu takut, jika Tuan Alex itu jodohmu. Pasti bisa berubah dan benar-benar mencintaimu."


"Heum ... tapi lama, kapan hal itu akan terjadi, keburu rambut beruban nanti."


"Kalau nggak yakin, cari pria lain saja. Tuan Andra pun boleh, dia juga tampan," goda Bi Eis mencolek dagu.


"Tapi aku ...."


Sabrina tak meneruskan ucapannya.


"Bibi mengerti, tapi kamu juga berhak bahagia. Pergi mandi. Bibi tunggu di meja makan."


Sabrina mengangguk, bergegas menuju kamar mandi.


**


"Jamu sehat, obat perkasa dan obat pegal linu. Ayo kemari Pak, Bu. Ini produk super ajaib bisa langsung terasa khasiatnya."


"Di jamin nih produk asli?" tanya seorang pria bertubuh gempal sembari meneliti obat yang ingin dibelinya.


"Pastinya, tak akan ada produk palsu semuanya berkualitas," jawab pria tinggi tegap itu, postur tubuhnya begitu sempurna. Hanya saja pria itu memiliki rambut yang begitu tebal, tompel di pipi kiri. Memakai kacamata tebal dan jambang yang sangat lebat. Namun, walaupun seperti itu tetap saja disukai para ema berdaster karena postur tubuhnya yang bikin ngiler.


🌹🌹


Selamat membaca, Insya Allah author up sehari dua kali kalau nggak ada halangan ya. Mohon dukungannya selalu buat novel ini, jangan lupa like, komentar dan votenya juga. Salam sayang buat pembaca semua.