Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 49


Mungkin Sabrina harus memberi kesempatan kepada Alex, menikmati setiap kelembutannya. Dan seorang istri yang baik harus bisa memaafkan suaminya selagi mau berubah kejalan yang benar. Bukan berarti lemah dengan tindasan, justru seorang istri itu harus meluruskan kesalahan suaminya, membimbing kejalan yang lebih baik. Disinilah letak kekuatan seorang istri yang tak mau menyerah dengan keadaan, dan Sabrina pun harus berusaha mempertahankan rumah tangganya dengan Alex.


Ya, mungkin Sabrina harus memberi kesempatan kepada si bule arab itu. Kenapa tidak, sikap manis dan lembut pria itu dibalas dengan kelembutan juga. Terkecuali jika cintanya hanya kepura-puraan saja, Sabrina pasti akan bertindak. Entah itu dengan cara apa? Yang pasti akan membuat Alex jera mengakui semua kesalahan dan kekeliruannya dalam menjalin sebuah hubungan.


Suara ponsel Sabrina berdering, ternyata Andra yang menghubunginya. Ragu Sabrina untuk menjawab, mengabaikan panggilan tersebut. Kini beralih pesan masuk yang begitu banyak, ternyata Andra lagi yang mengirim pesan.


[Kenapa tak menjawab, aku khawatir]


[Apa kamu baik-baik saja?]


[Kemana kamu pergi dalam dua hari ini?]


[Alex tidak berbuat macam-macam 'kan?]


[Sabrina, Please. Jangan mengabaikanku, apakah kamu marah?]


Sabrina merasa bingung, haruskah ia membalas pesan dari Andra. Akan tetapi Sabrina teringat akan pesan Alex, tak boleh berhubungan dengan pria lain. Ini hanya pesan saja, kenapa juga harus was-was. Lagian bukan berselingkuh juga. Ingat, hanya membalas pesan saja.


[Aku baik-baik saja, Tuan tidak perlu khawatir]


[Bisakah kita bertemu?]


[Maaf, Tuan. Sepertinya tidak bisa, aku banyak pekerjaan yang harus segera diselesaiian]


Tidak mau berkepanjangan saling membalas pesan, dan takutnya Andra sampai menelepon. Sabrina mematikan ponselnya dan berniat tidur, tak lama suara ketukan pintu kamar terdengar nyaring.


"Ada apa, Bi?" tanya Sabrina usai membuka pintu, ternyata itu Bibi An.


"Ini, Non. Tuan Alex nelpon, katanya nomor punya Non tidak aktip," papar Bibi An memberikan ponsel miliknya kepada Sabrina.


Sabrina masuk kembali ke kamar usai menerima ponsel tersebut dan bicara dengan Alex di kamar.


"Iya, Tuan ada apa?"


"Aku dari tadi di kamar tiduran, ngantuk."


"Jangan dulu tidur sebelum aku datang. Ingat pesanku baik-baik."


"Iya," jawab Sabrina.


Pembicaraan pun selesai diantara mereka. Menunggunya pulang, jam berapa dia akan datang. Ini sebuah perintah yang harus Sabrina patuhi, kalau tidak. Pria itu pasti marah lagi.


Malam pun tiba, Sabrina menepati janji menunggu kedatangan Alex. Jam delapan lewat, jam sembilan Alex belum pulang juga. Sampai kapan ia harus menunggu, sangat menjengkelkan menunggu tanpa kepastian.


Sabrina menuju balkon, berdiri disana menikmati angin malam. Gadis itu rindu akan suasana pedesaan yang menyejukkan, tak ada suara bising kendaraan. Yang ada hanya suara jangkrik, katak saling bersahutan dan paginya disambut suara kicau burung yang merdu.


Sebuah tangan melingkar di pinggang Sabrina. Gadis itu nampak terkejut.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, sampai tak menyadari kedatanganku?" tanya Alex menyandarkan kepalanya di pundak Sabrina.


"Aku hanya ingin kembali ketempat itu lagi, suasananya bikin rindu."


"Nanti kalau ada waktu kita kesana lagi." Alex membalikkan tubuh Sabrina agar gadis itu melihatnya, pria itu mencubit gemas pipi Sabrina. "Apa kamu sudah ngantuk?" tanya Alex mengangkat dagu sang gadis dengan jari telunjuk. Sekilas kelembutan itu menyapu lembut bibir Sabrina. "Apa kamu menikmatinya?"


Sabrina menganggukkan kepala dan tersenyum malu. Mendapat respon baik, Alex kembali memberi sapuan lembut di leher jenjang sang istri.


"Bisakah kita melakukannya?" Dengan nafas memburu Alex bertanya, biasanya juga langsung main tak pernah izin.


"Iya, Tuan." Sabrina menjawab dengan bibir bergetar. Membuat Alex semakin tak sabar.


Sebelum melanjutkan kegiatan mesra itu. Alex mandi terlebih dulu, dan setelah itu kembali menggoda Sabrina sampai gadis itu tak kuasa menahan keinginannya untuk bercinta.


"Sabrina, kamu datang bulan?"