Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 105


"Serius?" tanya Alex tak percaya. Sebelah tangannya merangkul pinggang Sabrina, menyusuri tubuh mungil itu sampai kebagian panggul.


"Iya, masa bohong." Sabrina mengelus pipi Alex, diakhiri mencapit hidung dengan gemas.


"Bukannya tadi salat?" tanya Alex menyelidik, wajahnya mulai merajuk. Teramat rindu ingin memadu kasih, setiap kali ingin melepas hasrat yang bergelora selalu saja gagal.


Ada saja gangguannya, entah itu karena Rey. Mami dan sekarang datang bulan. Sangat menyebalkan. Padahal sang adik sudah meronta ingin masuk sarang, gimana cara meredakannya coba?


Alex mengerucutkan bibir, bangkit dari pembaringan dan duduk bersila. Kedua tangannya mengacak rambut. Seandainya di rumah sendiri, bisa sepuasnya Alex melepas rindu. Merasai Sabrina siang dan malam tanpa gangguan yang sering dilakukannya dulu. Alex jadi rindu keganasannya dulu pada Sabrina yang sering membuatnya menangis.


Namun, anehnya Sabrina tak bisa nolak dan selalu melayani. Ah, istri kepang dua ku yang menggemaskan. Si gadis cupu yang kini bikin candu. Baru lihat bagian dada Sabrina yang terbuka saja membuat si adik kalang kabut. Apalagi bagian dada Sabrina semakin montok saja. Membuat Alex terpesona sendiri dengan lamunannya.


"Pipi, baik-baik saja, kan?" tanya Sabrina mengibaskan tangan.


"Kangen nggak tahan," balas Alex menangkup wajah Sabrina dan mendaratkan kecupan sekilas di bibir.


Setelah itu Alex berdiri melepas sarung kedodorannya.


"Arkh!" Sabrina berteriak, sungguh pemandangan paling sempurna malam ini.


Membuat kejahilan Alex meronta, sengaja berdiri tegak memperlihatkan pemandangan yang menggoda iman itu.


"Istighfar, Pi. Malu sama cicak," ucap Sabrina sembari menjawilnya dan berlari terbirit ke luar dari kamar.


Aksi nakal Sabrina membuat mata Alex membulat sempurna. Kepolosan istrinya kini sudah ternodai. Tak apa, Alex suka. Malu-malu tapi mau.


"Awas ya, Sayang." Alex bergegas memakai celana panjang bahan warna hitam. Mengejar istri nakalnya itu, sepertinya nanti malam harus memberikan hukuman. Masih ada bagian lain yang bisa disentuh, bukan. Alex kini jadi bersemangat.


Sabrina tertawa disertai nafas tersengal. Membuat yang berada di lantai bawah heran, apalagi saat leher jenjangnya terekspos. Tanda merah itu menandakan sudah terjadinya sebuah pergumulan.


"Sabrina!" Suara Alex membuat sang empu tersentak. Kembali berlari dan bersembunyi di balik punggung Mami Tiwi.


Alex mengejar Sabrina membuat keduanya mengelilingi tubuh sang Mami sampai pusing.


"Sudah-sudah, Mami pusing!" teriak sang Mami. Namun, tak digubris oleh Alex.


Setelah itu Sabrina berlari keluar rumah. Alex masih saja mengejarnya, membuat banyak perhatian beberapa yang berada disana dengan kebersamaan Alex dan Sabrina.


"Kena kamu ya." Alex meraih tangan Sabrina dan memeluknya dari belakang. Nafas kedua sampai tersengal diiringi tawa gembira.


"Duh, kayak pengantin baru saja sih. Romantis banget," tegur salah seorang warga.


Alex tersenyum canggung, malu juga jadi pusat perhatian. Sungguh, tak bermaksud pamer. Hanya saja bercanda dengan Sabrina membuat dunia Alex kini penuh warna.


"Bakar ayam, bakar jagung. Jangan pamer!" Suara lantang si jomblo dekat api unggun.


"Nggak usah nyindir, bentar lagi jodoh mu datang. Sirik amat jadi orang," balas Alex pada Rey. Menggandeng tangan Sabrina kembali ke dalam rumah.


Belum juga Rey menjawab. Terdengar suara motor trail dengan knalpot bisingnya terparkir di halaman rumah Bibi An.


"Malam, Bi," sapa Arma sembari membalikkan topi yang dipakainya sampai miring.


"Kebetulan ada Neng Arma, Bibi mau minta bantuan boleh?"


"Boleh dong." Arma bersemangat, wajahnya celingukan mencari sosok yang diidamkan.


"Beliin Bibi bumbu komplit buat ayam bakar ya." Bibi An memberikan dua lembar uang warna merah pada Arma


"Oke," balas Arma. Jemari telunjuk dan ibu jari tangan kanannya disatukan membentuk hurup O.


"Den Rey, katanya mau ikut. Sembari jalan-jalan malam."


"Aku," tunjuk Rey pada dirinya.


"Si lembek ikut, ogah!" balas lantang Arma sembari mencebik.


Rey kembali tersulut emosi, tu cewek edan kembali menghina.


"Aku ikut! Sekalian mau keliling kampung malam hari." Rey menghampiri Armi yang sedang komat-kamit tak setuju.


"Udah neng, orang ganteng jangan dianggurin. Jarang-jarang loh ada cowok yang mau dekat sama neng Arma," celetuk seorang ibu berbadan gempal itu.


Sial! Mentang-mentang gue jomblo jadi sindiran terus.


"Naik, awas lo kalau macam-macam." Jari telunjuk Arma mengingatkan.


"Aku yang bawa motornya," ucap Rey dongkol.


"Ogah, ini motor gue. Lo nggak bisa sembarangan merintah-merintah gue kayak gitu. Songong lo."


Tuh mulut ngomel mulu mau aku sumpal kali ya pakai batu.


Rey terpaksa mengalah, berdebat dengan Arma nggak akan ada habisnya. Bahkan kini si gadis tomboy itu sudah membunyikan motor trail bisingnya.


"Buruan!" sentaknya pada Rey.


Rey menurut dan naik sembari menutup telinga.


Arma sedikit menjempingkan motor, membuat Rey kaget dan hampir terjengkang. Sampai kedua tangan Rey menyentuh yang menurutnya aman untuk dipegang.


"Sialan lo, pria goblok. Kenapa malah nyentuh tete gua bego!"