Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 50


"Sabrina, kamu datang bulan?" Alex melongo dengan apa yang dilihatnya, sangat mengecewakan sekali. Namun, mau bagaimana lagi.


"Ah, iya. Pantesan dari sejak pagi aku sakit perut." Sabrina tersenyum canggung dan bergegas menuju kamar mandi.


Alex tidak beruntung, keinginannya sudah sampai puncak. Malah runtuh dengan kekecewaan, menggerutu yang pria bule arab itu lakukan. Apalagi sang sahabat sudah meronta ingin masuk gawang.


Bicara sendiri menenangkan sang sahabat yang tak bisa diam, membuat Alex pusing dibuatnya.


"Kenapa sih tuh tamu datang nggak minta izin dulu, tahu begini dari kemarin aku gempur kamu," gerutu Alex ketika Sabrina keluar dari kamar mandi. "Kalau sudah begini gimana coba." Alex memberi kode.


Sabrina menelan salipanya kuat-kuat. "Tidurkan lagi saja, Tuan," jawab Sabrina sembari duduk disebelah Alex.


"Dia susah tidurnya kalau sudah ada maunya." Alex merengek bagaikan anak kecil yang minta dibelikan mainan.


Sabrina berpikir sejenak, ia juga bingung. Namun, Alex bergegas menarik Sabrina dan memeluk sang gadis.


"Tidur saja, nggak usah jadi pikiran," ucap Alex menarik selimut menutupi tubuh keduanya.


Tunggu, Alex nggak marah. Yang benar saja, ini tak bisa dipercaya.


"Nyolek mulu," protes Sabrina.


"Sudah diam, abaikan saja. Anggap saja lagi olah raga meregangkan otot yang kaku," balas Alex, padalah ia sangat tersiksa dengan keinginannya yang tertahan.


"Tuan, kencing ya. Kenapa basah?" Sabrina sigap ingin memeriksa.


Alex kembali memeluknya. "Sudah diam, abaikan saja. Besok dibersihkan."


"Jorok!" protes si gadis.


Ni, si cupu pura-pura polos apa memang polos beneran? Masa gitu saja nggak ngerti sih. Ini juga gara-gara dia ular bule ku jadi tersiksa tak bisa masuk gawangnya.


"Aku bilang tidur saja." Alex menutup mata Sabrina dengan tangannya.


"Baiklah," jawab Sabrina memejamkan matanya, tak lama suara dengkuran halus terdengar dari bibir Sabrina.


Selesai mandi, Alex jadi tak bisa tidur. Ia duduk di sofa, memilih mengerjakan pekerjaan yang belum selesai. Sambil memperhatikan Sabrina yang tidur nyenyak.


Konsentrasi Alex buyar dicuri oleh Sabrina ketika gadis itu menggeliat dan membuat selimut yang menutupi tubuhnya tersingkap, seketika Alex tak bisa menahan dirinya lagi menginginkan yang belum tuntas ia lakukan. Sekuat tenaga Alex menahan hasratnya, bangkit dari duduknya berjalan menuju kasur untuk menutupi bagian tubuh Sabrina yang terbuka dengan selimut.


Setelah itu membuang nafas kasar, benar-benar gusar dibuatnya. Malam ini Alex memang tidak beruntung, ia tak bisa merasai Sabrina. Menggerutu kesal kembali menyalahkan tamu bulanan yang datang tanpa permisi.


Fokus kembali pada laptop di depannya, jari-jarinya dengan lihai mengetik keyboard tersebut, malam ini ia ingin mengerjakan pekerjaannya sampai selesai.


Apalagi besok pagi Alex harus keluar kota menemui rekan bisnisnya, dan malam ini yang seharusnya jadi malam indah antara dirinya dan Sabrina tak bisa didapatkannya.


Mencari pengganti memang mudah bagi Alex. Namun, kali ini ia hanya ingin Sabrina, gadis itu sudah menjadi candunya dan selalu bisa memuaskannya.


Pekerjaannya selesai jam tiga dini hari. Alex merasa ngantuk dan tidur disamping Sabrina sambil memeluk gadis itu.


***


"Ingat ya, jangan nakal selagi aku pergi. Jangan pernah menemui pria lain, kalau melawan ingat konsekuensinya." Alex berucap dengan tegas usai keduanya selesai sarapan.


"Iya, Tuan. Aku nggak akan macam-macam," jawab Sabrina menunduk takut. Sepertinya Alex masih kesal karena hasrat yang tertunda.


"Kalau kamu bosan, mainlah ke rumah Mami. Mau pergi kemapun izin dulu sama aku. Aku nggak mau kamu sampai bikin ulah yang membuat keluargaku malu."


"Iya, Tuan." Sabrina menganggukan kepalanya, mengerti dengan maksud Alex.


Alex mengangkat wajah Sabrina yang menunduk, Setelah itu menyentuh bibir Sabrina dan mengecupnya lama. Seolah mencurahkan rindu yang tak tuntas.


"Ingat, jangan pergi kemana-mana sampai aku pulang," titah Alex dengan napas memburu. Baru memberi sebuah kecupan saja, pertahanan Alex mulai runtuh kembali. Membuat sang sahabat meronta kembali.


Sial! Baru segitu saja aku sudah tergoda. Kenapa gadis ini membuatku rindu? Wajah malu-malunya itu selalu membuatku tak terkontrol ingin merasainya lagi dan lagi.


Sabrina mengantar Alex sampai pria itu masuk ke dalam mobil. Melambaikan tangan sembari tersenyum sampai mobil itu melesat jauh membelah jalanan.