
"Kau, sialan! Beraninya menusuku dari belakang, Andra." Mata coklat itu menyorot tajam, tangan mengepal kuat dan siap memberi tinjuan.
"Pintar, seharusnya aku menusukmu dari depan saja. Tak perlu dengan cara memanfaatkan kebodohanmu itu."
"Apa maumu?" tanya Alex lagi, benar-benar tak dapat dipercaya. Andra dalang dari semua kekacauan hidupnya.
Andra menyeringai, menatap penuh hinaan. "Kamu lupa, aku benci karena kalah tender miliaran waktu itu. Kalah bersaing denganmu. Aku jijik dengan kehidupanmu yang sangat beruntung sehingga perusahaanmu dan Ayahmu semakin berjaya saja. Sedangkan setelah kalah tender waktu itu perusahaan Ayahku bangkrut."
Alex menarik sudut bibirnya, kini ia tahu. Kenapa Andra menjadi dendam kepadanya. Padahal kejadian itu sudah setahun yang lalu dan tak perlu dengan cara licik. Berdamai jauh lebih baik, perusahaan mereka bisa bekerja sama.
"Dan karna hal itu juga Ayahku meninggal karena bunuh diri. Semua itu karena kau, Lex." Andra meninju wajah Alex, pria itu sampai terhuyung kelantai karena lengah.
Alex menyeka sudut bibirnya yang berdarah. Pukulan Andra benar-benar kuat. "Kita bisa selesaikan secara baik-baik, Ndra," ucapnya masih terlihat tenang, bagaimana pun Andra pernah menjadi sahabat baiknya.
Bukannya merasa tenang. Andra semakin brutal memukuli Alex, apalagi saat mengingat kalau Sabrina sudah dinikahinya. Wanita pertama yang membuat Andra sangat jatuh cinta dengan kesederhanaannya telah Alex rebut juga.
"Seharusnya aku tiduri saja Sabrina waktu itu!" Andra bertetiak seperti orang kesetanan.
Alex yang tak terima dengan ucapan Andra kini melawan, membalas tinjuan Andra dengan sangat berutal. Perkelahian semakin sengit di apartemen Karlina.
Bruk.
Tubuh Alex ambruk kelantai berkeramik warna putih itu. Darah segar mengalir deras dari punggungnya. Tanpa belas kasihan Karlina menusuk punggung Alex. Membuat Andra tertawa gembira dengan ringisan pria yang sangat dibencinya itu.
Sehingga Andra memanfaatkan kelemahan Alex tersebut dengan menyodorkan Karlina, wanita yang sangat pandai menggaet hati pria dan meluluhkannya. Begitu juga Alex yang ikut terperangkat ada pesona Karlina.
Alex berusaha mengendalikan diri dari rasa sakit yang dirasanya. Karena kini hati Alex lah yang lebih sakit, wanita yang mati-matian ia pertahankan dengan tega menusuknya dari belakang dengan senjata tajam. Dan mentertawakan rasa sakitnya dengan penuh kepuasan.
Alex berusaha bangkit dengan napas yang tersengal-sengal.
"Masih kuat juga rupanya." Andra yang sudah dibaluti emosi itu kembali melayangkan tinjuan. Namun kali ini, Alex berhasil menangkis serangan Andra dan memukul balik di titik kelemahan pria itu sampai akhirnya tubuh kokoh Andra tak sadarkan diri tergeletak dilantai.
Sedangkan Karlina kini memasang wajah takut yang teramat, ketika Alex berjalan mendekatinya dan sebuah cengkraman dileher Alex berikan sampai Karlina tak bisa bernapas. Bukan itu saja, Alex memberi sebuah tamparan yang sangat keras, sampai bibir manis Karlina berdarah.
"Ini pelajaran untuk seorang penghianat sepertimu." Jari telunjuk itu seolah memberi peringatan keras kalau Alex akan memberikan pelajaran yang lebih menyakitkan dari sebuah tamparan.
Rasanya Alex ingin mengakhiri hidup Karlina saat ini juga. Akan tetapi suara beberapa orang terdengar jelas diluar dan lagi Karlina berteriak.
"Tangkap pria itu," titah Karlina pada beberapa pria berserangam hitam.
Alex berlari dengan menahan nyeri, tak ada yang bisa dimintai tolong dan tak peduli dengan suara keriuhan di apartemen tiga lantai itu dan lagi tak ada yang melihat luka di punggungnya karena tertutupi oleh jas hitam yang dipakainya.
Menaiki motor dengan kecepatan tinggi, terjadi saling kejar di jalanan yang terbilang sepi dari kendaraan. Alex sengaja mengambil jalan sepi menghindari resiko kecelakaan dan lagi ia tak boleh menyerah dengan keadaan.
Satu tembakan berhasil membuat ban motor Alex oleng dan keseimbangan kendaraannya tak terkendali. Benar-benar si Andra dan Karlina ingin melenyapkannya.