Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 111


"Kenapa? Apa terlalu rindu sampai mendekap seperti ini?" tanya Alex sembari membalas pelukan Sabrina.


Memberi sebuah kecupan mesra di kening. Sabrina juga membalas perlakuan Alex lebih mesra lagi, menumbuhkan rindu pada sebuah sentuhan yang lebih menghangatkan lagi.


Alex merasa Sabrina kini lebih agresif, tak biasanya seperti itu. Apa mungkin ada kekesalan dalam hati sampai istrinya kini menguasai permainan.


Mata Sabrina mengembun menahan tangis, setelah berakhirnya sebuah penyatuan.


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu, Sayang?" Alex bertanya mendekap tubuh polos Sabrina dibalik selimut tebal yang menutupi tubuh keduanya.


"Jika memang aku harus berkorban, akan aku lakukan demi kesejahteraan Mami dan keluarga kita," balas Sabrina membenamkan kepala di dada Alex.


"Tidak ada yang perlu dikorbankan, Sayang. Kamu hanya perlu patuh pada perintah dan inginku sebagai suamimu." Alex memberi kecupan di kening.


Sudah bisa dipastikan, apa yang terjadi pada Sabrina pasti ada kaitannya dengan Andra. Dia pasti sedang berpesta atas kemenangannya melukai Rey.


Ternyata pikiran Alex kali ini salah total. Didiamkan dan mengabaikan malah membuat Andra tinggi hati dan terus mengganggu.


Sepertinya kesabaran Alex sudah habis, sudah waktunya untuk melawan membalas luka penghianatan.


Alex mengelus punggung Sabrina, membuat sang istri tertidur pulas dalam dekapan kehangatan.


Setelah dirasa aman. Alex melepas pelukannya, perlahan turun dari tempat tidur memakai kembali celana boxer yang tergeletak di lantai keramik warna moca.


Diperiksanya ponsel yang tergeletak dinakas. Ternyata nomor sipecundang yang menghubungi. Pria itu pasti sudah memberi ancaman yang membuat Sabrina gusar.


"Apa informasinya sudah kamu dapatkan?" tanya Alex ditelepon, berbicara dengan seseorang yang kini jadi kepercayaannya.


"Oke, bagus." Alex tersenyum devil setelah semua yang diharapkan terjawab. Kejahatan tak akan selamanya menang, bukan?


Tersenyum getir saat melihat senyum pria yang dirindukannya dari ponsel. Kebersamaan yang kini hanya tinggal kenangan.


Bayangan kecelakaan yang menewaskan Tanto membuat amarah Alex kembali berkobar. Tangisan maminya yang menyayat hati kembali terngiang, keserakahan Andra sudah melampaui batas sampai tega merenggut nyawa orang yang disayanginya.


"Sialan kau Andra, diam ku bukan berarti mengalah. Tunggu waktu sengsaramu tiba!" Alex mengepalkan tangan, rahangnya ikut mengeras karena rasa marah yang kini menguasai jiwa.


Alex memukul dinding sembari memandang keluar jendela, amarahnya tak bisa reda juga. Inginnya ia mencekik atau menembak mati Andra, mungkin Alex baru bisa tenang.


**


"Pria lemah itu pasti kini sedang meratapi kekalahannya. Menangis di sudut kamar." Andra tertawa, membayangkan kelemahan Alex yang kini tak memiliki apa-apa lagi.


Bahkan untuk sekedar meminta perlindungan pun rasanya tak mungkin, tidak ada lagi orang kepercayaan yang mau mengabdi kepadanya. Ternyata uang memang bisa merubah segalanya, Andra menguasai apa yang dimiliki Alex dulu beserta antek-anteknya. Hal itu sangat memuaskan.


Pesta di sebuah klub ternama. Andra menjamu para rekan kerjanya, juga para bodyguard kepercayaan. Tak lupa juga wanita-wanita cantik sebagai penyemangat, menemani malam pesta yang meriah ini.


Andra duduk di apit para wanita cantik dan seksi. Namun, tetap saja. Sabrina wanita paling spesial, tak ada yang bisa menyamai kecantikan dan bodynya.


Jika terus seperti itu. Andra bisa gila menahan rindu, gadis polos yang sudah menumbuhkan cinta dihati Andra. Namun karena Alex, Sabrina tak bisa dimiliki.


"Menyingkir semua!" Andra mengusir para gadis yang menempel padanya. Ingin sendiri membayangkan betapa cantiknya Sabrina saat ini.


Kepulan asap nikotin mengiringi. Disertai minuman beralkohol yang menurut Andra begitu menenangkan. Dua tegukan saja membuat hayalan Andra serasa nyata, Sabrina berada didekatnya.


Sampai ia mengira seorang gadis berkepang dua yang duduk disampingnya adalah Sabrina. Dielusnya paha mulus itu, membangkitkan sebuah gairah membara. Diraupnya bibir sang gadis tanpa henti sembari merangkul pinggang ramping itu dan terasa semakin memabukkan.


Kegilaan Andra membuat Alex tertawa terpingkal. Kala ia menyaksikan dari layar ponselnya sendiri. Tak habis pikir, Andra sangat terobsesi pada istri kesayangannya.


Seorang pria berkepala plontos itu menuangkan minuman lagi. Andra kembali meneguknya, kali ini ada kobaran hasrat membara yang tak bisa Andra tahan. Ingin segera menjamah gadis yang disangkanya Sabrina itu.


Permainan Andra semakin liar. Berpindah tempat pada ruangan yang lebih nyaman untuk memadu kasih.