Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 64


Malam hari yang sepi. Alex berdiri di balkon kamar, pikirannya melanglang buana, tersemat rindu pada gadis berkepang dua. Rindu ingin memadu kasih pastinya.


Rasa lapar seakan sirna, tak ingin makan meski maminya terus memanggil agar cepat turun untuk makan malam bersama. Suara melengking maminya tak lagi terdengar, tandanya makan malam sudah selesai.


Semakin merasa bosan. Alex keluar dari kamarnya, melihat kegiatan kedua orang tuanya yang sedari tadi memanas-manasi menunjukan kemesraan. Sangat menyebalkan.


"Mami." Alex duduk di sofa dengan memasang wajah lesu.


"Apa? Mau izin menemui Karlina?" Nada suara Mami Tiwi sangat tidak bersahabat.


Alex menggeleng cepat. "Sabrina kemana, Mi?" Pertanyaan itu terdengar memancing, agar sang mami keceplosan dan memberi kabar keberadaan Sabrina.


Mami Tiwi mencebik sembari mengangkat kedua tangan. "Bosan Mami, nanyain Sabrina terus. Sudah pergi rindu, ketika masih ada disia-siakan."


"Ish, jangan salah. Aku bertanya bukan berarti rindu, cewek kayak si cupu mah banyak diluar sana," jawab Alex dengan angkuhnya.


"Ya, sudah. Cari sana kalau banyak yang mirip sama Sabrina."


"Sudah diam! Pusing kepala Papi, dari tadi bertengkar terus. Kamu juga, tumbenan tak pulang ke rumah dan malah menginap disini," tegur Papi Tanto dengan wajah masam.


Lengkaplah sudah kehidupan Alex, ditinggal istri dan diacuhkan orang tua.


"Aku ini putra kalian, tak ada salahnya menginap di rumah orang tua."


"Bukannya kehadiran kami sudah tak kamu anggap lagi, keseringan membangkang dan bikin jengkel orang tua!" Papi Tanto mulai emosi, napasnya memburu seolah ingin melayangkan sebuah pukulan.


"Papi Sayang, jangan emosi. Ingat akan kesehatan, mendingan kita bobo cantik saja." Mami Tiwi mengelus bahu suaminya.


"Oke, Mami Sayang. Papi sudah kangen sama Mami."


"Gantian posisinya ya, Pi. Mami yang di atas."


"Tentu saja, seperti apa-pun posisinya. Mami selalu terlihat seksi."


"Mami memang seksi."


"Papi juga sangat hot."


Kedua pasangan yang tak lagi muda itu asyik bermanja, tak peduli dengan si jomblo yang sedang rindu akan sebuah sentuhan.


Alex sampai menutup telinga, mendengar percakapan ekstrem kedua orang tuanya itu.


"Sok romantis, ingat umur," cibir Alex kepada orang tuanya.


Sedangkan Sang Papi melempar Alex dengan bantal sofa, sigap Alex menghindar dan memeletkan lidah pada papi dan maminya.


"Abaikan saja, Pi. Ayo kita bobo cantik saja."


Mami dan Papinya melenggang menuju kamar. Namun ternyata, Alex mengekori dari belakang dan memaksa masuk kamar orang tuanya. Ingin tidur bersama mereka.


Mami Tiwi mengusir Alex sampai menyeretnya dari kamar. Bukan Alex namanya jika tak memakai siasat, pura-pura sakit perut agar mendapat perhatian kedua orang tuanya.


Alex meringis sakit. Namun, Tiwi tak peduli. Sudah hapal pada akting genius putranya itu, berbisik ketelinga papinya agar meninggalkan Alex yang sedang guling-guling di kasur.


"Mami, Papi. Ah, sial! Aku lupa bahwa Mami lebih cerdas," gumam Alex, setelah mengetahui pintu kamar dikunci dari luar.


Alex duduk di tepi dipan, tak menyangka ada poto Sabrina bersama maminya yang menempel di dinding. Alex beranjak dari duduknya, mengelus wajah polos Sabrina.


*Kenapa kamu pergi, ular buleku kesepian loh. Nggak ada teman buat bermanja dan mencari kehangatan.


Apa? Sadar, Lex. Enak saja kamu meratap atas kepergian Sabrina. Seharusnya kamu senang dong, bisa dengan bebas menemui Karlina dan bermanja padanya*.


Alex menuju kasur, setelah puas mengelus foto Sabrina. Berusaha memejamkan mata, yakin kalau kepergian Sabrina adalah rencana maminya.