
Sabrina keluar dari kamar mandi, terkekeh melihat Alex tak lepas memegangi telinganya yang kemerahan. Mami Tiwi pasti menjewer telinga pria itu kasar.
"Apa, tertawa? Mau lagi, bilang dong," ucap Alex berlalu menuju kamar mandi dengan wajah jutek.
Apa isi otaknya itu hanya senang-senang di ranjang saja? Dan lagi, penyakit juteknya selalu kambuh secara tiba-tiba.
Tiga puluh menit kemudian. Alex keluar dari kamar mandi, ia memperhatikan penampilan Sabrina yang berbeda. Rambutnya tak lagi dikepang, gadis itu juga memakai polesan di wajahnya. Dan baju yang dipakainya ... sial! Sama saja dia mengundang mata lelaki untuk menatap keindahan tubuhnya, ini tak boleh terjadi. Hanya aku saja yang boleh menikmatinya, yang lain tidak boleh tahu. Si cupu punya tubuh yang indah.
"Ganti bajumu," titah Alex punggungnya bersandar ke dinding, melipat tangan di dada.
Sabrina membalikan tubuh melihat ke arah Alex. "Memangnya kenapa, apa yang salah dengan baju ini?"
"Buka nggak, atau aku yang akan melepaskannya." Raut wajah Alex berubah kesal.
"Aku suka dengan baju ini, tidak terlalu seksi?" Sabrina kembali menatap dirinya di cermin, mengacuhkan kemarahan Alex.
Si cupu ini, sudah berani membantah. Alex menarik paksa baju yang dipakai Sabrina.
"Tuan!" Sabrina melawan tak terima dengan perlakuan Alex.
"Akhh!" pekik Alex.
Sabrina menginjak kakinya dan bergegas keluar dari kamar meninggalkan Alex yang mengoceh kesal.
Loh, Mami makan di restoran mana? Aku nggak tahu tempatnya. Sabrina kebingungan, mau balik lagi ke kamar takut kepada Alex. Ponsel, ketinggalan juga di kamar karena terlalu terburu-buru.
Sabrina tergesa-gesa berjalan sampai ia menabrak seorang pria bertubuh gempal, pria menatap tubuh Sabina secara intens dari atas sampai bawah dan dengan nakalnya mengelus tangan halus Sabrina.
Kedipan lapar seolah ingin menerkam. Sabrina merasakan hal itu, ia salah memakai dres tanpa lengan. Apalagi panjang dresnya di atas lutut membuat tubuhnya terekspos nyata. Mata pria gempal itu tak lepas dari bagian dada Sabrina yang sedikit terlihat.
Malu yang Sabrina rasa. Pria itu sama saja sudah melecehkannya. Ini tak boleh terjadi, ia harus mengganti bajunya lagi, penampilan baru ini jauh menakutkan.
"Maaf, Om. Aku tidak sengaja," ucap Sabrina.
"Tidak apa-apa gadis cantik," balas pria gempal itu genit.
Sabrina tergesa berlari menuju kamar lagi dan kali ini ia menabrak tubuh Alex saat pria itu akan keluar dari kamar.
"Matamu dimana, Sabrina?" Alex sedikit emosi, ponsel yang pegang hampir jatuh.
"Maaf, Tuan," ucap Sabrina gugup.
"Kenapa kamu kembali? Bukannya tadi sudah bersemangat sekali."
"Aku mau ganti baju saja, Tuan. Tunggu aku disini, sebentar saja. Jangan tinggalkan aku, aku tak tahu kemana arah restorannya."
"Memangnya aku ini bodyguardmu apa, beraninya nyuruh-nyuruh."
"Ku mohon, Tuan. Sebentar saja." Sabrina sampai menangkupkan tangan.
"Oke," jawab Alex.
Sabrina tergesa mengganti pakaian. Alex memperhatikan dari celah pintu yang sedikit terbuka. Kini Sabrina memakai baju tangan panjang dan rok prisket selutut.
"Rambutnya nggak usah diikat, biarkan tergerai seperti itu saja," titah Alex dari balik pintu.
Sabrina menurut dan berlari kearah Alex. Mereka berdua berjalan beriringan, mengundang banyak pertanyaan orang lain. Ada hubungan apa Alex dengan gadis itu? Terlihat dekat dan bisa dibilang serasi.
"Heh cupu, apa ada yang menggodamu?"
"Tidak, Tuan."
"Siapa juga yang mau menganggu hadis cupu sepertimu," sindir Alex.
"Anda, Tuan." Sabrina menoleh.
"Iya, siapa lagi," jawab Sabrina mencebik.
Tanpa mereka ketahui ada seorang wartawan yang memotret kebersamaan mereka dan hal itu menjadi perbincangan di media sosial, menjadi pertanyaan akan hubungan Alex dengan Sabrina. Berita tersebut mengundang amarah Karlina, apalagi saat ini ia sedang cedera kaki gara-gara kejadian kemarin saat fashion show.
Sedangkan Alex sama sekali belum menengok keadaannya. Karlina curiga kalau Alex mulai mempunyai rasa kepada gadis cupu itu. Tidak, itu tak boleh terjadi. Alex tak boleh menjadi milik Sabrina, hanya Karlina saja yang boleh memilikinya. Saking emosinya Karlina sampai membanting pot bunga yang berada di atas nakas samping tempat tidur. Tak terima kalau Alex mulai menyukai gadis itu.
Karlina menyimpan dendam, fashion show kemarin diadakan hanya untuk mempermalukannya saja. Mami Tiwi sengaja memberikan high heels yang haknya sudah rusak sampai ia tergelincir. Kalina berjanji akan membalas perlakuan Maminya Alex.
"Kenapa kalian lama sekali. Mami dan Papi sudah menunggu dari tadi, kalian ingin membuat Mami dan Papi kelaparan?" omel Mami Tiwi.
"Nih, si cupu yang bikin lama. Marahin saja dia, Mi," balas Alex melirik Sabrina.
"Kamu biangnya!" sentak Tiwi pada Alex.
"Aku lagi sih, Mi, yang disalahkan. Lagian, kenapa juga harus nunggu aku sama si cupu, tinggal makan duluan saja bereskan."
Pletak.
Mami Tiwi memukul kepala Alex dengan sumpit.
"Lihat tu, Pi. Istrimu sudah melakukan kekerasan kepada putranya sendiri," adu Alex mengusap kepalanya.
"Kamu juga yang salah, selalu membuat Mami mu marah."
Tak ada pembelaan sangat menyebalkan. Sepertinya kalau Alex disiksa sampai mati pun oleh maminya, sang papi tak akan membelanya juga, kasihan.
"Sabrina ayo makan, kamu pasti lapar." Tiwi mengambilkan lauk ke piring Sabrina.
"Aku, Mi," pinta Alex
"Ambil saja sendiri," balas Tiwi jutek.
"Mami itu kesambet apaan sih, Pi. Marah-marah mulu bawaannya," bisik Alex ketelinga sang papi.
"Mungkin mau datang bulan lagi, makanya marah-marah mulu."
"Apa bisik-bisik," ucap Mami Tiwi lagi.
Alex dan papinya malah terkekeh sambil menggelengkan kepala.
"Sabrina, apa kamu suka sama makanannya?"
"Suka, Mi. Rasanya enak banget."
"Pastinyalah enak, namanya juga makan di restoran mahal.
Papi Tanto menginjak kaki Alex. Putranya itu sudah sangat keterlaluan, ucapannya selalu saja menyindir pada Sabrina.
"Apaan si, Pi. Main injak saja, bagaimana kalau nanti kakiku sampai cedera?"
"Justru lebih baik kamu nggak bisa jalan, agar tak terus-terusan menemui Karlina. Mau sampai kapan kamu memberi barang-barang mewah kepada wanita itu? Termasuk mobil keluaran baru rancanganmu sendiri. Mami sangat tak suka, Lex."
"Karlina berhak mendapatkannya, Mi. Dia pacar Alex, sewajarnya aku memberi perhatian lebih kepadanya."
"Sedangkan Sabrina. Apa yang kamu berikan kepadanya? Padahal, setiap malam. Setiap waktu kamu menyentuhnya."
Alex menggertakan gigi. "Aku malas bertengkar dengan Mami. Lebih baik aku sekarang menemui Karlina untuk melihat keadaannya, aku tahu kejadian kemarin itu pasti karena Mami 'kan?Mami sengaja agar Karlina dipermalukan di depan banyak orang."
"Jika kamu tahu akan hal itu, kenapa selalu saja menemuinya? Kamu lupa akan ucapan Mami, Lex."
"Kali ini aku tak peduli, aku capek mendengarkan setiap ancaman Mami. Aku akan mencari kebahagiaanku sendiri." Alex berlalu pergi.
Sedangkan Mami Tiwi hanya bisa mengelus dadanya yang terasa sakit, putranya kini sangat jauh dari jangkauannya. Sampai-sampai air bening itu menetes dari mata Mami Tiwi.