
Mobil yang dibawa Arma melesat jauh. Keduanya harus cegera masuk jalan utama agar bisa secepatnya minta bantuan. Untuk saat ini keselamatan Sabrina yang lebih utama. Pesan dari Mami Tiwi dan Alex kalau Sabrina harus selamat.
"Arma, mereka masih mengikuti," ucap Sabrina melihat dari kaca spion.
Sesampainya di pusat kota. Arma berhenti didepan mall, menarik Sabrina agar cepat keluar. Berlari bergandengan tangan masuk ke kerumunan orang-orang yang sedang belanja.
Napas tersengal mengiringi keletihan keduanya yang berlari mencari tempat aman. Menaiki eskalator dan juga lift. Tetapi komplotan Andra masih terlihat mengikuti dari gaya mereka yang berpakaian serba hitam.
"Aku capek, Arma. Tak sanggup untuk lari lagi." Sabrina berhenti sejenak mengusap keringat didahi. Tenaganya terkuras habis, kedua kaki sudah bergetar lemas.
"Kita harus menyamar," saran Arma.
Keduanya tepat berdiri di sebuah toko pakaian.
"Tapi kita tidak bawa uang banyak."
Arma segera menarik Sabrina, memilih pakaian gamis serba hitam juga kerudung sar'i disertai cadar untuk menutup wajah.
"Ayo pakai," titah Arma diruang ganti dengan terburu-buru.
Sedangkan Sabrina malah melongo. Melihat harga yang tertera di baju tersebut.
"Darurat Sabrina, cepat!"
Walau ragu, Sabrina menuruti memakai baju tersebut. Bahkan gitu juga Arma. Kini penampilan keduanya sulit dikenali, ditambah lagi kaca mata hitam bertengger.
"Setidaknya penampilan ini bisa mengelabui mereka."
"Siapa yang bayar?"
"Lari!" Arma manautkan alis.
"Sama saja kita cari masalah baru, aku tidak mau."
Menepuk jidat yang Arma lakukan. Kalau tidak lari, mereka tak akan mampu bayar. Kening Arma mengerut mengingat sesuatu, setelah itu merogoh saku celana.
Terdapat kalung dan gelang yang Mami Tiwi berikan padanya untuk bekal.
"Ini bisa dijual."
"Aduh, cengeng enggak akan menyelesaikan masalah. Kamu tunggu disini, aku mau jual emasnya dulu."
Tergesa keluar dari ruang ganti. Sesaat kemudian balik lagi kedalam, berbisik pada Sabrina kalau ada anak buah Andra.
"Sial! Kemana dua wanita itu, kenapa bisa lari secepat itu."
"Mungkin mereka sudah keluar."
"Apa kita periksa saja setiap kamar ganti ini."
"Jangan, menyalahi aturan. Kita bisa berurusan dengan polisi nantinya," balas pria gondrong bertato kepala tengkorak di leher.
"Kedua cunguk itu tak ketemu, nyawa kita jadi taruhan. Berengsek!"
Akhirnya para bandit Andra sepakat untuk berpencar. Mereka yakin kalau Sabrina dan Arma belum jauh, masih sekitaran mall.
Setelah merasa aman. Arma mengajak Sabrina keluar dari ruang ganti, mengendap ingin keluar dari toko.
Namun, salah seorang pelayan meneriaki menyuruh kembali. Pakaian keduanya belum dibayar.
"Mbak, kami sedang dalam masalah. Oh, ya, ini jaminannya dengan emas dulu. Atau Mbak bisa jual dan cek keaslian barang tersebut."
"Kalau enggak punya uang jangan belanja disini dong, apa emas ini juga hasil nyuri," tegas pelayan tersebut.
Arma naik pitam, hendak memaki. Penjelasannya diremehkan tak didengar sama sekali.
Sabrina menutup mulut Arma yang hendak mengumpat. Pertengkaran bisa mengundang bahaya datang bukan.
Dengan lembut menjelaskan pada pelayan tersebut. Kalau emas itu asli, tetapi percuma. Pegawai tokonya malah memanggil sekuriti.
"Biar saya yang bayar." Suara bariton itu terdengar tegas, langkahnya tergesa menghampiri. Memberi sebuah kartu limit pada pegawai tersebut.
"Selamat kalian berdua," sinis pegawai tersebut.
"Terimakasih, Tuan," ucap Sabrina juga Arma menundukkan kepala. Waspada pada pria yang kini berdiri dihadapan, jangan sampai sekomplotan dengan Andra.