
"Apa maksud, Tuan?"
"Aku menyukai semua kepribadianmu, Sabrina. Kamu wanita yang sangat berbeda, ijinkan aku untuk menjadi pelindungmu." Andra menggenggam jemari Sabrina. Meyakinkan gadis itu bahwa dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Sabrina menepis tangan Andra. "Maaf, Tuan. Ini sudah malam, aku ngantuk." Sabrina berlari menuju villa, bergegas mengunci pintu kamar. Menuju kamar mandi dan menangis di sana. Ada rasa perih di dada, seakan tersayat sebilah sembilu.
Kenapa harus mengutarakan rasa yang tak akan mungkin bisa diterima. Sabrina sudah menikah, dia tak bisa menerima ungkapan cinta itu. Tak pantas untuk menerimanya, walau kenyataannya Sabrina juga mengagumi sosok Andra. Pria yang selalu bersikap baik dan perhatian kepadanya. Akan tetapi, rasa itu salah besar Andra ucapkan pada wanita yang sudah bersuami.
Sabrina membasuh wajah, matanya sembab terlalu lama menangis. Keluar dari kamar mandi dan duduk di meja rias, menatap lekat pantulan dirinya dicermin.
Sabrina, kamu memang payah dan sangat lemah. Untuk melawan seorang Alex saja tak mampu, mana keberanianmu itu, Sabrina!
Beradu argumen dengan diri sendiri. Sabrina merasa lelah dengan hal itu, apa yang harus ia lakukan? Tetap menjadi istri penurut dan patuh, akan tetapi tak dihargai. Apa Sabrina harus mencoba pergi? Menghilang dari kehidupan Alex dan mencari kebahagiaannya sendiri.
Kenapa begitu rumit hidup yang Sabrina jalani. Namun, jika Sabrina pergi. Sudah terlanjur sayang pada keluarga baru yang memberinya kasih sayang. Ibu mertua yang sudah dianggapnya seperti ibu sendiri.
Sabrina menghela napas panjang, membuang sesak yang memenuhi rongga dada. Beralih menuju tempat tidur mencoba memejamkan mata untuk tidur. Akan tetapi, ucapan Andra masih menari-nari dikepala.
"Akhhh!" Sabrina kesal, sama sekali tak bisa tidur. Kepalanya malah terasa pusing dengan pemikirannya sendiri.
Sebuah pesan masuk membuat Sabrina kembali menitikkan air mata, ucapan maaf dari Andra. Menyesali atas apa yang diungkapkan dan tak mau jika Sabrina sampai marah.
Aku sama sekali tidak marah, Tuan. Ingin sekali Sabrina menuliskan itu untuk membalas Andra. Sayangnya tak bisa, jemarinya terasa kaku.
***
Pagi harinya. Sabrina masih berada di kamar, merasa malu untuk keluar kamar. Apalagi sampai berpapasan dengan Andra, sedangkan mata Sabrina masih sembab bekas menangis semalam.
"Sabrina, kamu masih tidur." Mami Tiwi mengetuk pintu kamar, "ayo kita sarapan," ucap Mami Tiwi lagi.
Sabrina bergegas membuka pintu. "Mami," ucap Sabrina. Seolah ada masalah yang ingin disampaikan.
"Ada apa?" tanya Mami Tiwi sembari duduk ditepi dipan.
Sabrina berjongkok, kepalanya disandarkan di paha Mami mertuanya.
"Apa Alex memarahimu?"
Sabrina menggeleng cepat. "Tuan Andra mengatakan kalau dia menyukaiku." Sabrina mengangkat kepalanya.
"Kamu memang pantas disukai oleh Andra. Mami sudah menduga, Andra pasti menaruh hati padamu."
"Tapi aku menolaknya. Aku sudah bersuami." Air mata yang mengembun itu akhirnya jatuh juga membasahi pipi.
"Tak apa, Sabrina. Mami tidak marah, semalam Mami dan Papi tak bisa tidur. Memikirkan perihal rumah tanggamu dengan Alex, sore nanti Mami akan mengirimu kesuatu tempat."
"Mami mengusirku?" Sabrina semakin kencang menangis.
"Bukan, Sayang. Nggak mungkin Mami mengusirmu, lebih baik sekarang kita sarapan dulu. Kebetulan Andra sudah pergi dari subuh tadi, mau keluar kota untuk mengurus pekerjaan."
Mendengar Andra sudah tak ada. Sabrina merasa tenang, tak sanggup jika harus berpapasan dengan pria itu lagi.