
Sabrina menghela napas berat, raut wajahnya terlihat tak bersahabat. Bi Eis yang sedang duduk disamping Sabrina bertanya, ada masalah apa? Padahal baru saja Sabrina habis loncat-loncat kegirangan, hasil mendesain gaun pengantin mendapatkan penghargaan.
"Bibi," ucap Sabrina lesu.
Bi Eis mengusap rambut Sabrina yang kini tidur dipahanya. "Ada apa? Kenapa terlihat cemas?"
"Mami bilang, kita harus pindah dulu sementara dari tempat ini. Tuan Alex sepertinya mengetahui keberadaan kita."
"Ya ampun." Bi Eis seketika panik, "kita harus pergi kemana lagi, Sabrina?"
Sabrina mengangkat kedua tangan. Ia sendiri bingung harus pergi kemana untuk menghindar dari Alex.
Suara bell rumah berbunyi, membuat Sabrina kalang kabut. Menyangka Alex lah yang datang, Sabrina tak mau bertemu pria itu hanya untuk pemuas napsu.
"Apa yang harus kita lakukan, Bi?" Sabrina mondar-mandir di dalam kamar. Sesekali duduk di bibir tempat tidur, tangannya meremas lutut dan keringat dingin mulai keluar membasahi kening.
Bunyi ponsel Sabrina berdering, ragu-ragu gadis itu mengambil ponsel yang tergeletak diatas nakas.
"Sabrina, buka pintu. Ini Mami."
Ah, lega. Ternyata yang membunyikan bell itu adalah Mami Tiwi, Sabrina bergegas membuka pintu.
"Mami." Sabrina terisak dalam pelukan ibu mertuanya.
Tak banyak basa-basi. Mami Tiwi membawa Sabrina dan Bi Eis ketempat yang menurutnya lebih aman dari jangkauan Alex.
Ya, Alex mengetahui tempat Sabrina berada dari bingkai foto yang jatuh sewaktu di kamar maminya, di belakang bingkai tersebut tertulis alamat yang menurut Alex belum pernah di kunjunginya. Setelah itu ia menyakini kalau Mami dan Papinya itu menyembunyikan Sabrina disana.
Namun, hal itu segera diketahui oleh Mami Tiwi saat ia menyadari ketika membenarkan kembali bingkai foto yang terjatuh di dinding. Mami Tiwi menepuk jidatnya sendiri atas kecerobohannya yang menuliskan alamat tersebut disebuah bingkai.
***
"Apa-apaan ini, Pi. Kenapa semua fasilitas yang aku miliki Papi ambil? Ini hasil kerja kerasku, Pi!" Alex murka dengan ketidak adilan yang kini ia dapatkan.
"Memangnya kenapa? Papi punya hak untuk mengambilnya kembali, sudah cukup selama ini Papi dan Mami bersabar atas semua kelakuanmu. Dan sekarang, gertakan dan ancaman yang pernah kami ucapkan dulu terbukti bukan."
"Ini nggak adil, Pi!"
Alex mendengkus kesal, meletakan dompet, kunci mobil dan semua fasilitas yang lainnya. Dia hanya memakai kaos ketat warna hitam dan celana jeans yang melekat di badan. Benar-benar sial!
Setelah memberikan apa yang dimilikinya kepada sang papi. Alex melewati papinya yang berdiri samping pintu rumah hendak keluar.
'Sebentar lagi papi pasti akan berubah pikiran, aku anak satu-satunya yang mereka miliki. Sebagai orang tua nggak akan tega mengusir putranya,' batin Alex penuh harap.
"Tunggu!"
Sudah aku duga, Papi tak akan sanggup melihatku pergi. Apalagi dalam keadaan gembel seperti ini. Kepergianku bisa membuat mereka malu dengan tuduhan menelantarkan anak.
Alex membalikan badan, matanya berbinar penuh harap.
"Lepaskan jaket dan jam tangan yang kamu pakai itu, bisa-bisa kamu jual buat biaya makan dan kontrakan."
Apa, gila ini. Ternyata ....
Hancurlah sudah harapan si bule. Alex sudah salah menilai, ia lupa kalau ketegasan papinya tak bisa dilawan. Jika sudah serius apa-pun tak bisa terhindarkan. Menyesal, tentu saja tidak. Ia bisa dengan leluasa menemui Karlina dan tinggal bersamanya.
Tunggu ... bukan Karlina. Tapi Sabrina yang harus aku temukan dan memberi hukuman pada gadis kepang dua itu, hidupku penuh derita karena ulah gadis itu.
"Kenapa masih berdiri depan pintu, sana pergi. Jangan harap si Rey akan menolongmu. Dia lebih takut akan kemarahan Papi dan Mami."
Ah, Sial! gerutunya dalam hati sambil menggebrak pintu.
Apakah ini nyata, aku diusir dari rumahku sendiri. Berjalan kaki di sore hari tanpa uang sepeserpun disaku.
Alex mencubit tangannya sendiri, berharap yang terjadi padanya adalah sebuah mimpi. Sakit, ternyata yang dialaminya itu adalah kenyataan yang harus diterima.
Ponsel Alex berdering. Secepatnya ia ambil benda pipih tersebut dari saku celana. Setelah itu tersenyum, tak apa meskipun diusir dari rumah. Ia masih bisa menemukan Sabrina. Alex yakin kalau suruhannya kali ini sudah menemukan keberadaan Sabrina dari alamat yang sudah ditemukannya dari bingkai foto sang mami. Alex berpikir, ternyata maminya ceroboh juga menyimpan sebuah alamat tersembunyi di sebuah bingkai. Alex ingin tertawa terbahak-bahak.
"Maaf, Tuan. Kami tak bisa menemukan Nona Sabrina, menurut penduduk setempat. Tak pernah ada penghuni baru yang datang ke tempat ini."
Alex kesal dan mematikan sambungan teleponnya.
"Mami!"