Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 101


"Pipi pelan-pelan, sakit banget," rintih Sabrina.


"Ini juga pelan-pelang sayang, tahan dikit. Nanti juga enakan."


Samar terdengar suara pulgar itu oleh Rey. Membuat Rey bergidik sembari menelan kuat salipanya. Tenggorokannya seketika terasa kering, ternyata majikannya itu benar-benar buas dalam urusan percintaan diranjang.


Akan tetapi, bukannya menghentikan aksi menguping. Telinga Rey malah semakin menempel didinding, jiwa keponya lebih besar dari pada rasa hormat pada sang majikan.


"Rey!" panggil Alex.


Membuat si penguping terperanjat kaget sampai meloncat turun dari ranjang. Degup jantungnya menjadi tak beraturan, sampai keringat dingin luruh membasahi kening.


Rey tak menyangka kalau Alex bisa mengetahui dirinya sedang mencuri dengar. Gelagapan Rey dibuatnya, kala suara Alex kembali memanggilnya lebih keras lagi.


Memegangi leher yang Rey lakukan, terbayang cekikan tangan Alex yang akan membuatnya tak bisa bernapas lagi. Jangan sampai mati muda, Rey belum merasakan nikmatnya bercinta dengan seorang wanita.


"Rey! Punya telinga nggak sih? Panggil tukang urut!" teriak Alex dengan volume kencang dari kamarnya.


"Hah!" Rey masih belum bisa mencerna apa yang Alex ucapkan. Pikirannya kini sedang dipenuhi oleh hal-hal negatif.


Kenapa harus panggil tukang urut segala. Apa saking menguras energi percintaan itu, sampai keseleo segala. Sepertinya Tuan muda terlalu banyak gaya.


Brak.


Pintu kamar Rey terbuka membuat sang empu loncat ke atas dipan. Melihat Alex yang kini tepat di ambang pintu.


"Tu-tuan."


Rey terbata menyebut nama Alex. Tubuhnya malah gemeteran, seolah akan di eksekusi saja.


"Ngapain kamu?" tanya Alex yang heran dengan tinggal sekretarisnya.


"Nguping, eh." Rey menutup bibir, jangan sampai ketahuan mencuri dengar.


"Ngomong yang jelas, nguping apaan kamu?" tanya Alex dengan tatapan menyelidik, duduk di sofa samping tempat tidur.


"Anu, itu." Rey belum siap jika Alex sampai mengeluarkan jurus mematikan, apalagi sampai berkelahi dengannya karena kelancangan Rey.


"Aneh kamu Rey, aku minta tolong cariin tukang urut, Sabrina kepeleset di kamar mandi. Sepertinya kakinya terkilir, nggak tega aku lihatnya."


"Oh, terkilir. Kirain lagi bercinta sampai keseleo segala," balasnya pelan.


Namun, masih terdengar oleh Alex.


"Ouh! Pantesan tegang. Tahunya telingamu nguping ya. Sialan kau!" Alex loncat dan mengapit kepala Rey sampai tersungkur.


"Maaf Tuan nggak sengaja!"


"Tak ada ampun bagimu, beraninya menguping kebersamaanku dan Sabrina. Nikah, cari cewek biar pusakamu tak loyo." Alex kini menduduki tubuh Rey, dengan posisi tangan di belakang.


"Ampun Tuan, nggak lagi-lagi."


"Alex!" sentak Mami Tiwi.


Membuat si pemilik nama itu kaget dan turun dari tubuh Rey.


"Pinggangku patah kayaknya, Mi," adu Rey agar mendapat pembelaan.


"Caper!" Mata Alex memicing tajam, gemas pada si jomblo yang cari perhatian.


"Ada masalah apa? Kebiasaan kalian kalau sudah bertengkar pasti kayak gitu."


"Tuh, anak kedua Mami sangat menyebalkan. Beraninya nguping kemesraan orang. Nikah kan saja Mi, biar nggak jadi cicak yang nempel didinding."


"Nanti Mami cariin calon buat si Rey. Lagian kamu ngapain teriak-teriak, bikin gaduh rumah orang saja."


"Sabrina terkilir Mih, kepeleset di kamar mandi dan aku minta Rey untuk memanggil tukang urut atau dokter yang bisa mengobati Sabrina, tahunya dia malah jadi cicak di dinding," jelas Alex melengos pergi, kembali menuju ke kamarnya.


Mami Tiwi pun menyusul Alex untuk melihat keadaan Sabrina, begitu juga Rey dan Bibi An.


"Sabrina kenapa bisa seperti ini?" tanya Mami Tiwi usai melihat kaki kanan Sabrina yang memar.


"Tapi ada kecoa nimpa kepalaku Mi. Aku kaget dan akhirnya jatuh," balas Sabrina sembari tersenyum.


"Sayang, kita kedokter saja ya," ucap Alex mengelus rambut Sabrina yang kini duduk sampingnya. Tak tega dengan keadaan sang istri, sampai jalan pun terlihat susah.


"Bibi panggil tukang urut saja ya Tuan. Kalau ke rumah dokter jauh." Bibi An memberi saran.


"Iya, kayaknya lebih baik diurut," sambung Mami Tiwi.


Bibi An pun mengak Rey untuk memanggil tukang urut, sekalian jalan-jalan sore sebelum adzan maghrib tiba.


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah tukang urut yang jaraknya lumayan jauh. Rey dan Bibi An terus mengobrol membahas desa yang kini akan ditinggali oleh dirinya dan Alex.


"Wah desa ini bisa dibilang makmur ya, Bi."


"Iya, semenjak kepala desa yang baru. Beliau jujur dan amanah, makanya rakyat pun hidup sejahtera," jelas Bibi An.


"Woy minggir!" teriak seorang gadis sembari menaiki motor trail, nampak sangat tergesa-gesa membelah jalan setapak sore itu.


"Awas Den!" teriak Bibi An.


Rey malah bengong dengan penampakan gadis itu, seolah terpesona pada pandangan pertama.


"Minggir!" gertak gadis bertopi hitam itu. Menyenggol Rey sampai terjerembab ke sawah.


"Sialan! Dasar gadis gila!"


"Syukurin! Telinganya budek si, ha ha," tawa lepas gadis itu.


Sedangkan bibir Rey komat-kamit mengeluarkan sumpah serapah pada si gadis yang sudah membuat bajunya kotor kena lumpur.