Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 104


Selesai salat isya. Alex membaringkan tubuhnya di kasur, badannya terasa pegal semua. Bekerja diladang membuat tulang di tubuh ngilu.


Memijat tangan bergantian juga kepala. Ternyata perjuangan petani bercocok tanam jangan diremehkan. Sedangkan ia dulu yang hanya tinggal makan dan membeli segala yang diinginkan dengan uang.


Akan tetapi sekarang Alex merasakan kesukaran mencari sesuap nasi sangat butuh perjuangan, uang berlimpah yang pernah dimiliki kini hanya tinggal kenangan saja.


Berat jika terus dipikirkan, belum bisa ikhlas dengan apa yang kini menimpanya. Si brengsek Andra kini sedang menikmati hasil kecurangannya.


Pria biadab itu tak akan pernah hidup tenang dengan harta rampasan yang disertai penghianatan.


Alex pengepal, tangannya terasa gatal, ingin segera membalas Andra dan menjebloskan ke penjara.


Namun, sang Mami tak pernah mengijinkan Alex untuk membalas pria gila itu. Rasa takut kehilangan Alex, Sabrina dan Rey membara dalam hati Mami Tiwi.


Kata ikhlas dan sabar yang selalu keluar dari bibir sang Mami pada Alex. Akan tetapi semua itu sulit untuk dilakukannya. Amarah masih berkobar dalam dada, sulit untuk padan. Dan hanya balas dendam yang akan membuat amarah itu mereda.


Ponsel bergetar di atas nakas membuyarkan lamunan Alex. Diraihnya benda pipih tersebut, sampai kening itu berkerut. Nomor tak dikenal menghubunginya, membuat Alex menarik sudut bibirnya.


"Ha ha ha! Bagaimana rasanya jadi orang miskin, susah. Gengsi, pesona lo juga pasti sudah terinjak-injak, pria bodoh kaya lo memang pantas menderita!"


"Andra. Pecundang yang kini kaya dengan cara praktis, miris!"


"Sialan, sudah miskin masih belagu. Sebentar lagi lo pasti nangis darah, Lex. Ketika Sabrina pergi ninggalin lo dan berpaling pada gue."


"Ouh!" Alex santai dengan cacian Andra yang tak penting baginya.


Suara pintu kamar yang terbuka itu membuat Alex mendonga.


"Pipi ayo, aku sudah nggak sabar!" Suara manja Sabrina.


"Sebentar Sayang, kenapa jadi nggak sabaran sih. Pemanasan dulu, biasanya juga suka gitu. Suara rintihan yang sahdu bikin aku semakin semangat!" Alex berkedip nakal.


"Nggak perlu, pokoknya nanti langsung masukan saja," ucap Sabrina diambang pintu.


"Enak banget ya, Sayang?" tanya Alex mengeraskan suara.


"Iya, nggak akan ada tandingannya," balas Sabrina mengacungkan dua jempol.


"Kamu dengar, Ndra. Sorry, aku mau bermesraan dulu dengan Sabrina. Jangan ngiri apalagi sampai kejang." Alex mematikan ponselnya, senang sekali rasanya bisa memberi tekanan pada Andra. Alex yakin kini Andra pasti sedang dilanda emosi membara.


Kedatangan Sabrina memang membawa keberuntungan, padahal yang dimaksud Sabrina itu bebek panggang dan jagung bakar yang sedang mereka buat dihalaman rumah Bibi An. Dan Sabrina menyukai masakan yang Alex buat.


"Pipi ada apa? Aku curiga. Lagian mau bakar jagung saja pakai pemanasan segala, memangnya yang nelepon tadi siapa?" tanya Sabrina duduk disamping Alex.


Alex tak menjawab, hanya tersenyum. Matanya terfokus pada sosok wanita cantik dan menggemaskan yang duduk disampingnya. Sorot mata mendamba itu terlihat sangat jelas, Alex meraup bibir Sabrina dan menyesapnya.


Pagutan itu malah semakin liar saja. Sabrina hampir kewalahan dan akhirnya bisa mengimbangi. Tubuh mungil itu terlentang, masih dengan pagutan bibir yang belum lepas. Bahkan kini merambat keleher dan bagian dada, menciptakan tanda kepemilikan bahwa Sabrina hanya milik Alex seorang.


"Pipi, jagung bakarnya. Lagian aku lagi datang bulan."