
Alex dan Sabrina sedang merasakan kebersamaan, keduanya sedang akur. Namun, entah sampai kapan kebersamaan itu mereka rasakan dalam kebahagiaan.
Berbeda dengan Karlina, hari-harinya diselimuti emosi membara dalam dada. Karena sudah beberapa hari ini ia tak bisa menghubungi Alex, ponselnya selalu sibuk dan berada diluar jangkauan. Apalagi Karlina kini diusir oleh Mami Tiwi. Diusir dengan kasar oleh maminya Alex dan berniat mengadukan semua perilaku maminya itu. Entah kemana Alex pergi bersama si cupu.
Berusaha mencari ke setiap tempat yang sering Alex datangi tak juga membuahkan hasil. Karlina belum juga menemukan kekasihnya itu. Dimana Alex bersembunyi, kenapa tak satu pun mata-mata Karlina menemukannya.
Karlina mengepalkan kedua tangan sampai menggertakan gigi, benar-benar emosi. Hinaan yang dilontarkan Mami Tiwi membuat darahnya mendidih, wanita tua itu sepertinya harus segera disingkirkan itulah yang saat ini ada dalam pikiran Karlina, niat jahat wanita itu semakin menjadi tak mau sampai Alex berpaling darinya sebelum semua keinginannya terpenuhi.
"Sayang, sudahlah. Pria bodohmu itu tak perlu dipikirkan, kita habiskan malam ini bersama saja." Seorang pria mendekap Karlina dari belakang.
***
Malam harinya Alex sedang berkutat dengan laptop di depannya, ia duduk bersila di atas kasur bibirnya tak lepas menyunggingkan senyum seolah sedang membaca sesuatu yang membuatnya merasa geli.
"Tuan, kapan pulang. Aku ingin liburan dan ingin pacaran, kenapa pergi secara tiba-tiba?" Sebuah pesan masuk lewat emailnya.
"Tahun depan, urus saja pekerjaannya dengan baik. Dan kirimkan lewat email apa saja yang harus aku periksa, bereskan. Nanti gajimu aku naikan, setelah itu bisa pergi jalan-jalan bersama pacarmu."
Sabrina yang baru keluar dari kamar mandi melihat Alex yang sedang senyum-senyum sendiri, ia menyangka kalau Alex sedang saling membalas pesan bersama Karlina kekasih tercintanya. Pria itu memang benar-benar menyebalkan habis manis sepah dibuang, rasa manisnya itu palsu hanya sekedar bualan. Ah, sudahlah. Seharusnya aku sadar diri sikap manisnya itu mungkin karena sedang merasa sepi.
"Kamarilah, duduk disini temani aku." Alex kembali menepuk kasur.
Meskipun ragu Sabrina mendekat, duduk di samping Alex. Tak lama pria itu menyuruh Sabrina untuk memilih pakaian yang ia suka, mulai dari pakaian santai, piyama tidur, beserta gaun yang lainnya.
Tertegun lagi, Apakah benar pria ini menawarkannya untuk memilih pakaian? Serasa tak mungkin perlakuan baiknya ini begitu mendadak.
"Jangan kebanyakan mikir, jarang-jarang lho aku bersikap baik seperti ini. Pilihlah pakaian yang kamu suka dan satu lagi jangan pernah membeli gaun terbuka ataupun memakainya kecuali jika saat di depanku saja."
Benar juga yang Alex katakan, jarang-jarang pria itu bersikap baik. Sabrina pun tak mau melewatkan kesempatan, bergegas memilih pakaian yang ia suka seperti piyama tidur, pakaian santai, beserta gaun yang lainnya menuruti semua yang Alex inginkan. Baju tangan panjang, dress pendek di bawah lutut. Alex sangat menyukai itu, pria itu menginginkan Sabrina terlihat seksi hanya di depannya saja.
"Kenapa piyamanya harus ada yang bermotif Doraemon segala?" tanya Alex heran.
"Tapi aku suka, please. Boleh ya aku punya piyama bermotif Doraemon, aku belum pernah punya piyama bermotif boneka lucu-lucu seperti ini."
Alex menghela napas panjang. "Boleh lah, pilih juga lingerie yang paling seksi, aku ingin kamu memakainya."
"Buat apa pakai lingerie, nantinya juga bakal dirobek. Sayangkan."