Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 43


"Lain kali kalau mau bunuh diri jangan dibak mandi, terjun saja sekalian dari atas gedung tinggi," sindir Alex duduk di samping Sabrina.


"Baik, akan aku lakukan, setelah itu aku akan menjadi hantu gentayangan agar hidup Tuan nggak tenang." Suara gemetar itu mulai mengoceh.


"Aku akan memasukan arwahmu kedalam botol, ku tutup rapat agar kamu tak bisa lepas. Melemparmu ke laut dan hilang ditelan ombak, bereskan," balas Alex dengan seringai diwajahnya.


Huh, sangat menyedihkan. Hidup tersiksa, mati apalagi.


"Bagaimana, masih mau niat mati?" tanya Alex dengan tatapan yang sulit Sabrina artikan.


Malas berdebat, perut Sabrina malah mual dan ingin muntah. Kepalanya juga pusing, mau minta air hangat nggak enak. Berjalan lemas, malang sekali nasibmu itu Sabrina.


Alex menuju lemari, mengambilkan kemeja untuk gadis itu agar di pakainya. Setidaknya tak akan merasakan kedinginan.


"Pakailah kemeja ini, nanti aku pesankan baju. Lengkap dengan pakaian dalamnya."


"Memangnya tahu ukurannya?"


"Jangan tanya hal itu, apa aku perlu mengukurnya sekarang. Dengan senang hati aku akan melakukannya."


"Tidak perlu," gugup Sabrina menarik selimut menutupi tubuh.


Pria ini benar-benar serakah. Harus lebih waspada, eum ... tetap saja aku yang kalah.


Alex keluar dari kamar, bergegas menuju dapur. Ia memasak sup ayam dan sayur capcay, benar-benar tak dapat dipercaya.


Sabrina yang baru selesai memakai baju mencium aroma wangi masakan, membuat perutnya lapar seketika. Kegilaan Alex sudah menguras tenaganya dan kini ia sangat lapar, cacing di perutnya sudah bergoyang minta jatah. Tapi, Sabrina tak mungkin keluar kamar hanya memakai kemeja saja, malu banget. Kemeja warna hitam milik Alex ini cuma sampai pahanya saja. Dan lagi ia tak memakai ... uh, bisa habis dia nanti.


Mengurungkan niat keluar dari kamar, Sabrina kembali duduk di ranjang. Terdengar suara kicauan burung membuat Sabrina penasaran, ia membuka jendela kamar. Matanya seketika berbinar dengan pemandangan indah didepan mata, ternyata tempat ini begitu indah. Suasana pedesaan yang asri, banyak pohon tinggi menjulang dikanan dan kiri vila. Terdapat juga kolam ikan, Sabrina jadi ingin memancing dan memakan ikan bakar.


Pantesan saja, semalam perjalanannya sangat jauh. Ternyata Alex membawa Sabrina ke daerah pedesaan, menyanggah dagu dengan satu tangan. Sabrina merasa nyaman berada ditempat ini jadi teringat akan kampung halaman.


Alex berdiri samping pintu kamar, menyilangkan tangan di dada. Bibirnya terseyum penuh arti dengan pemandangan indah yang sedang dilihatnya. Memandangi sang gadis yang seketika membuatnya kembali bergairah. Alex menggelengkan kepala, otaknya sudah travelling ke mana-mana, apa-apaan Sabrina. Gadis itu sangat ceroboh.


Pose Sabrina membuat Alex kalang kabut, gusar dengan pemandangan yang disuguhkan. Sebisa mungkin dia menetralkan napas yang sudah memburu.


"Hei, cupu. Apa-apaan kamu, sampai membungkuk gitu. Lagi cari cara buat kabur."


Sabrina bergegas berdiri, jantungnya berpacu cepat. Mengulas senyum canggung saat Alex mendekat kearahnya.


"Makan," ucapnya.


"Apa?"


Benarkah dia menawariku makan, rasanya sangat aneh sekali.


"Wah, banyak sekali makanannya. Apa ini bisa dimakan?" tanya Sabrina memastikan.


"Tentu saja, kamu pikir aku menaruh racun dimakanannya?"


"Takutnya gitu," balas Sabrina pelan.


"Lain kali aku akan mempertimbangkan," jawab Alex melahap ayam goreng.


Pria ini benar-benar menakutkan, aku bercanda dia menanggapinya serius.


"Kenapa bengong, ayo makan. Mau aku suapin?"


"Tidak perlu." Sabrina bergegas duduk dengan rasa ragu, menyantap makanan yang sangat menggiurkan di meja makan. Rasanya tak mungkin kalau Alex lah yang benar-benar sudah memasak makanan sebanyak ini. Pria beringas sepertinya mana bisa masak.


"Jangan kebanyakan mikir makan saja, kalau tak suka tinggalkan." Sorot mata itu begitu menusuk kalbu.


Sabrina tak menjawab, melanjutkan makan. Mengambil setiap hidangan yang ia inginkan, ternyata rasanya memang enak banget melebihi masakan yang dibuatnya.


"Tuan, kapan baju punyaku sampai?" Tanya Sabrina disela makannya.


"Bukannya kamu sudah pakai baju."


"Tapi ini belum lengkap."


"Kalau di depan suami enggak perlu lengkap memakai baju, kecuali kalau keluar jangan sampai pria lain melihat. Seperti kejadian kemarin malam, memakai pakaian yang sangat terbuka seperti itu. Sampai senang dipegang-pegang." Alex kembali ngomel.


"Mau kemana, Tuan?" tanya Sabrina karena Alex lebih dulu selesai makan.


"Mandi, mau ikut." Alex mendekati Sabrina.


"Tidak-tidak, aku hanya bertanya saja. Lagian aku sudah mandi, udaranya sejuk. Jadi tak merasa gerah," balas Sabrina canggung.


Alex bergeming, membuat Sabrina heran. Katanya pria itu mau mandi tapi kenapa dia malah diam saja.


"Aku minta maaf."


Sabrina tersedak makanan yang sedang dikunyahnya. Minta maaf, untuk apa? Sepertinya Alex sedang demam parah sampai kata maaf yang sulit diucapkan kini diucapkannya.