
Malam ini, Sabrina benar-benar waspada. Jangan Sampai Alex memaksa masuk ke kamar. Mata mulai terasa berat, rasa ngantuk menusuk. Namun, Sabrina tak boleh tidur, jangan membiarkan pria itu merasainya lagi. Jangan sampai saat bangun pagi Alex berada di sampingnya, ngeri yang Sabrina rasa jika dekat dengan Alex. Pria pemangsa yang luar biasa.
Sabrina terjaga sampai pagi tiba, selamat. Alex tak memaksa masuk ke kamarnya, pria itu pasti bersenang-senang dengan kekasihnya. Sabrina bergegas menuju kamar mandi, melakukan ritual mandi agar kesegarannya kembali pulih. Kepala berdenyut, karena semalam tak merasai nikmatnya tidur.
Sabrina memegangi perut merasakan lapar, bergegas menuju dapur dan ternyata Karlina sudah berada di sana. Tumbenan wanita itu tidak mengganggu tidurnya, dan lagi Alex pun terlihat acuh mungkin karena sedang menikmati sarapan pagi yang dibuatkan oleh kekasih tercintanya, atau mungkin kesal. Sudahlah, Sabrina tak peduli akan hal itu yang penting pagi ini. Ia bisa makan tanpa gangguan.
"Siapa yang menyuruhmu makan disini?" tanya Karlina, wanita itu mulai berulah.
"Aku lapar." Sabrina menarik kursi hendak duduk, ingin menyantap nasi goreng yang sudah dibuatnya.
Prang.
Karlina melempar piring yang berisi nasi goreng milik Sabrina sampai berceceran di lantai, amarah kian memburu ingin sekali Sabrina memberi pelajaran pada wanita itu. Namun, Alex berada di sana, pria itu pun sepertinya tak peduli dengan perlakuan kasar Karlina karena hal itulah yang diinginkan Alex. Membuat Sabrina menderita, kedudukan seorang istri hanya diatas ranjang jikalau sedang dibutuhkan.
"Apa? Mau melawan." Karlina melotot sambil berkacak pinggang. Setelah itu Karlina mendorong tubuh Sabrina, menyuruh gadis itu memunguti nasi yang berserak dilantai.
"Aku ke kantor dulu, Sayang," pamit Alex sembari tersenyum manis kepada Karlina dan merangkulnya.
Sok manis! Sabrina merasa sebal.
Setelah Alex pergi. Karlina kembali dapur, mengulas senyum mengejek. Merasa bangga dengan sikap Alex kepadanya dan acuh kepada Sabrina.
"Kamu lihat sendirikan, Alex begitu mencintaiku. Sebentar lagi kamu akan dihempaska bagai sampah yang tak ada harganya."
"Justru kamu yang akan terhempas jauh. Aku lihat, kamu itu tak ada harganya dan hanya dijadikan pelampiasan."
"Sabrina!" Karlina mengangkat tangan keudara.
Plak.
Sabrina lebih dulu memberi tamparan ke wajah Karlina. "Jangan kamu pikir aku akan diam saja diperlakukan kasar."
Karlina berteriak mengeluarkan kata umpatan menarik rambut Sabrina kasar. Tak tinggal diam, Sabrina membalas perlakuan Karlina.
"Dasar wanita cupu sialan!"
"Pelakor kurang ajar!"
"Aku tak peduli," balas Sabrina keluar dari rumah tersebut, mengayuh sepeda entah akan pergi kemana.
Sedangkan Karlina mengoceh kesal bagai orang tak waras. Tak terima dengan kekalahannya. Karlina pergi ke kamar, mengambil ponsel yang tergeletak di kasur berniat menghubungi Alex. Sayangnya, nomor Alex sedang berada diluar jangkauan.
***
"Lex, besok malam aku akan mengadakan pesta di hotel Luxinian. Aku ingin meminta sesuatu darimu?"
"Apa yang kamu mau? Jika aku mampu akan mengabulkannya."
"Aku hanya ingin mengundang Sabrina."
"Kamu gila, ngapain ngundang pembantu kepesta mewah kayak gitu, yang ada bikin malu nanti."
"Menurutku Sabrina itu cantik, dia nggak pantas jadi pembantu. Pokoknya aku mau ngajak dia kepesta, besok malam aku akan menjemputnya."
"Nggak-nggak, enak saja membantu naik pangkat pergi kepesta segala."
"Aku akan tetap membawa Sabrina. Tak peduli dengan laranganmu, minta izin sama Mami lebih baik, dan lagi aku lihat Mami mu itu sangat menyukai Sabrina."
"Aku tetap menolak."
"Apa jangan-jangan kamu mulai menyukainya?" Andra bertanya penuh selidik.
Alex berdiri dari kursi kebesarannya, beralih duduk di sopa berhadapan dengan Andra. "Pembantu mana bisa jadi levelku," jawabnya angkuh.
"Kalau gitu, besok malam dia akan menjadi wanitaku."
"Jangan macam-macan, dia itu kesayangan Mami." Alex menatap tajam pada Andra, seolah tak terima Sabrina akan pergi dengannya.
"Kesayangan Mami atau kesayanganmu."
"Sialan, Kau!" Alex mulai tersulut emosi.