
Sabrina dan Mami Tiwi keluar dari butik. Keduanya ingin makan siang, Mami Tiwi mengajak Sabrina makan di restoran Jepang.
"Mami kenapa sih, aku lihat dari tadi sangat waspada?" tanya Sabrina disela makan.
"Sepertinya ada yang mengikuti kita dari tadi," jawab Mami Tiwi.
"Maksud Mami ada orang yang berniat jahat sama kita." Sabrina berucap pelan, gadis itu jadi khawatir.
"Tenanglah, jangan menujukkan kalau kita sudah mengetahuinya. Santai saja, jangan sampai pengintai itu merasa curiga."
"Siap, Mami," balas Sabrina.
Mereka melanjutkan makan dengan santai disertai canda tawa. Mami Tiwi bertanya, apakah Sabrina sudah kenyang atau belum? Dan gadis itu menjawab, kalau ia sudah merasa kenyang sambil mengelus perut ratanya. Mami Tiwi meraih tangan Sabrina mengenggamnya, membuat Sabrina merasa was-was.
Berjalan santai menuju pintu keluar, saat sampai diparkiran. Terdapat dua pria berbaju hitam sedang mondar-mandir dekat mobil Mami Tiwi, kedua pria itu sangat mencurigakan. Melihat kedatangan Mami Tiwi kedua pria tak dikenal itu langsung pergi.
Mami Tiwi menyuruh Sabrina masuk ke dalam mobil, tak lupa memberi pesan singkat pada Papi Tanto kalau ada bahaya yang mengintai. Mobil melaju membelah jalanan, Mami Tiwi memilih jalan pintas agar cepat sampai ke rumah.
Namun ternyata, ada dua pengendara motor yang saling berboncengan mengikuti dari belakang. Bahkan pengendara yang satunya mendahului mobil Mami Tiwi dan menghadang.
Suasana mencekam, jalanan sepi. Karena jalan pintas tersebut jarang berlalu lalang kendaraan. Keempat pria itu turun dari motor, tak salah lagi. Pria yang sama saat keluar dari restoran tadi.
"Ikut kami, atau mati!" ancam pria berwajah garang tersebut memukul kaca mobil Mami Tiwi. Dan yang lainnya membocorkan kedua ban mobil belakang agar Mami Tiwi tak bisa lari. Bahkan kaca mobil bagian belakang sudah dipecahkan dengan linggis.
Mami Tiwi berusaha menenangkan Sabrina yang panik dan ingin menangis. Dalam keadaan panik, semuanya jadi terlupakan, sampai ponsel saja Sabrina lupa dimana menaruhnya. Ia ingin menghubungi Alex. Akan tetapi pria itu pasti sudah berangkat ke Singapura.
Gertakan ke empat pria itu berhasil membuat Mami Tiwi dan Sabrina keluar dari mobil. Mau lari juga percuma, dua lawan empat. Sangat tidak seimbang.
"Mulus dan cantik." Pria berewok itu menarik kasar tangan Sabrina.
"Jangan berani menyentuh tangan putri saya!" gertak Mami Tiwi dengan sorot mata tajam.
"Wanita tua ini ternyata punya keberanian juga rupanya," cibir pria brewok, semakin berani mengelus pipi Sabrina.
Mami Tiwi geram, melawan dengan menendang aset berharga si pria. Membuatnya meringis menahan ngilu.
"Wanita tua kurang ajar!" Seorang pria bertubuh tinggi dan berambut gondrong ingin menampar. Membalas kesakitan temannya.
Sigap Mami Tiwi menahan dan memberi tinjuan di hidung sampai berdarah. Ia juga memberi kode pada Sabrina agar menginjak kaki pria tersebut dengan high heel yang dipakai dan menendang aset berharga pria tersebut.
"Lari, Sabrina!" teriak Mami Tiwi, naas. Tangan Mami Tiwi tersayat pisau sampai berdarah.
"Mami!" Sabrina panik, mengambil batu berukuran sedang di pinggir jalan dan melemparnya tepat di kepala salah seorang penjahat itu.