Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 110


Alex mencari keberadaan Rey dan Arma bersama beberapa warga yang lainnya. Sudah jam sebelas malam mereka tak kunjung kembali. Sampai acara makan nasi liwet pun selesai tampa kehadiran keduanya.


Mau menghubungi Rey nggak bisa. Karena ponselnya tertinggal di kamar begitu juga Arma, bapaknya bilang kalau Arma itu jarang membawa ponsel karena ponsel milik Arma sudah sangat ketinggalan zaman.


Memanggil nama Rey dan Arma sampai ke semak-semak, disoroti dengan cahaya senter. Nggak mungkin kalau mereka malah pacaran. Alex merasa kalau kini Rey sedang dalam bahaya.


"Bapak!" Suara melengking seorang wanita membuat perhatian beberapa warga tertuju pada gadis yang sedang memayang seorang pria yang kesakitan.


"Arma, Rey!" teriak Alex berlari kearah mereka.


Kaget dengan kondisi Rey yang sudah lemas tak berdaya, ditambah lagi luka tembakan di bagian pundak membuat Alex tersayat. Kejadian ini pasti ada sangkut-pautnya dengan Andra dan itu nggak salah lagi.


Rey dibantu beberapa warga menggotong tubuhnya dan yang lainnya berlari untuk meminta bantuan kepada warga yang memiliki kendaraan agar bisa membawa Rey secepatnya ke rumah sakit.


Sebuah mobil pick up datang. Bapaknya Arma yang menyetir, Rey duduk di kursi depan ditemani Arma. Sedangkan beberapa warga lainnya ikut dibelakang untuk berjaga-jaga.


Alex juga menyusul dengan menaiki motor setelah memberi tahu Mami Tiwi dan Sabrina. Semua panik dengan keadaan Rey.


Terlebih Sabrina yang sangat mengkhawatirkan Alex. Geram dengan kelakuan Andra yang terus menganggu, apa maunya? Sampai kapan pria itu akan terus mengusik, sedangkan semua yang Andra mau sudah ia dapatkan. Termasuk merebut apa yang menjadi milik Alex.


Apa semua ini ada hubungannya dengan Sabrina? Andra sampai tega melukai Rey.


Mami Tiwi duduk cemas di sofa, Sabrina tahu pasti menghawatirkan keselamatan Alex juga. Bahkan wajahnya sampai pucat basi.


"Mami tenang ya, jangan terlalu panik." Sabrina mencoba menenangkan. Walau nyatanya diri sendiri pun tak sangat khawatir.


"Bagaimana bisa tenang, Sabrina. Alex harta Mami satu-satunya, nggak peduli dengan harta karena masih bisa dicari. Tapi nyawa ...."


Air mata tertahan itu kini jatuh juga. Sampai tangisnya terdengar menyayat hati, tangisan seorang ibu yang begitu sayang pada putranya.


Pelukan yang bisa Sabrina berikan sebagai penenang. Dalam situasi seperti ini hanya itu yang bisa dilakukan.


Sabrina mengajak Mami Tiwi ke kamar. Kembali terserang sakit kepala jika terlalu banyak pikiran. Setelah diberi obat Mami Tiwi pun tidur.


Suara dering ponsel milik Alex tergeletak di nakas. Suaminya itu tak membawa hp, pantesan Sabrina mengirim pesan tak ada jawaban juga.


Semakin panik akan kondisi Alex. Kenapa bisa seceroboh itu? Lantas harus pada siapa Sabrina menghubungi suaminya.


Ponsel Alex yang dipegang oleh Sabrina bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Namun, tidak ada nama yang tertera hanya sekedar nomor saja. Sabrina pun mengangkatnya.


Bulir bening mulai berjatuhan membasahi pipi. Sabrina mengetahui suara tersebut adalah Andra. Kenapa dia jadi sejahat itu? Sampai tegak ingin menghilangkan nyawa suami dan Mami mertua yang sangat disayangi.


"Kenapa diam pria pecundang. Beraninya sembunyi dan pada akhirnya aku menemukan keberadaanmu." Andra tertawa keras, terdengar begitu puas.


"Sebelum kau mati, Lex ...."


"Cukup!"


"Sabrina, apakah itu kamu?"


"Aku jijik pada pria jahat sepertimu, tak punya hati sama sekali. Apa maumu, hah?"


Sabrina benar-benar murka.


"Kamu, adalah tujuanku," balas Andra memberi kecupan jauh.


Membuat Sabrina ingin muntah.


"Pria gila!"


"Karenamu, kembali padaku dan akan aku kembalikan apa yang menjadi miliknya. Sabrina rasakanlah detak jantungku yang rindu padamu."


"Sampai kapanpun aku tak akan pernah kembali padamu! Alex adalah suamiku yang aku sayang dan tak akan bisa tergantikan."


"Aku akan membuatnya semakin sengsara!" Ancam Andra disertai kepuasan.


"Berengsek!"


"Jangan salahkan aku jika malam ini Alex tak kembali pulang." Andra menutup pembicaraan mereka.


Sabrina duduk lemas dilantai. Sembari menangis, kini hanya isakan memilukan yang menemaninya dalam kamar.


"Sayang kenapa?"


Sabrina menoleh, segera berdiri dan berlari untuk memeluk pria yang dirindukannya dalam keadaan baik-baik saja.