Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 55


"Tuan, semua sudah siap. Tinggal berangkat." Rey memberi tahu dengan penuh semangat.


"Aku nggak jadi pulang, lagian tu si cupu kelihatannya baik-baik saja. Mami juga baik-baik saja, aku merasa tenang," jawabnya dengan ekspresi tanpa dosa.


Rey menghela napas berat, ingin sekali ia mengetok kepala Alex dengan martil. Agar otaknya itu tidak loading.


"Nggak usah emosi seperti itu," ucap Alex lagi, usai melihat raut wajah Rey tak biasa.


Jangan emosi! Seenak jidat ngomong kayak gitu, seolah tak punya salah. Aku capek-capek nyiapin semuanya. Dia tak menghargai sama sekali, aku sumpahin gila ditinggal Non Sabrina.


"Batalkan semua keberangkatanku malam ini, pekerjaanku jauh lebih penting, Rey," ucapnya lagi dan kembali fokus pada laptop di tangannya.


Bosnya ini sangat mempermainkan, hatinya seolah tertutup oleh kabut asap hitam pekat. Sampai cahaya cinta belum bisa menembus kesadaran dalam jiwa terdalam. Kapan cahaya cinta itu muncul kepermukaan hatinya? Jangan sampai setelah kehilangan baru menyadari pentingnya cinta dalam hidup.


Rey tak ingin bicara, malas berdebat dengan Tuannya yang maha benar. Ia memilih keluar dari hotel dan mencari kesegaran di luar. Menikmati malam Singapore yang indah.


Ponsel Alex berbunyi, ternyata Maminya lagi yang mengirim pesan. Apalagi? Padahal Alex sudah memberi tahu tak jadi pulang karena harus menyelesaikan kontrak kerja sama dengan Tuan William.


Mata Alex menyipit, setelah itu membulat sempurna menatap layar ponselnya. Apa-apan si cupu, makan sampai disuapi Andra. Gadis ini memang tak tahu diri, sudah punya suami masih bermesraan sama pria lain.


Alex mengepalkan tangan, seketika jadi emosi. Memanggil nama Rey sangat kencang, namun pria itu sama sekali tak kelihatan batang hidungnya. Ditelepon juga tak aktif.


Asisten tak berguna, dibutuhkan malah ngilang. Minta dipecat dia!


Alex gusar, mondar-mandir tak jelas. Lagi dan lagi, maminya mengirimkan foto kebersamaan Sabrina dan Andra. Perhatian Andra merawat dan membantu Sabrina saat di rumah sakit. Apa sebenarnya maksud maminya itu? Memanas-manasi, pastinya.


[ Hei, bule kampret. Contoh tuh Andra, cowok kayak gitu yang lebih pantas untuk Sabrina, perhatian dan pengertian ]


[ Silahkan saja, aku tak peduli ]


[ Baiklah, Mami aka menjodohkan Sabrina sama Andra ]


[ Andra itu tak suka bekas, lagian Sabrina itu bukan perawan lagi ]


Alex mengepalkan tangan, rahangnya ikut mengeras. Maminya sangat keterlaluan, bisanya menggertak saja dan mengancam.


[ Kalau Sabrina sama Andra, aku akan kembali pada Karlina ]


Alex membalas dengan ancaman lagi. Namun, Mami Tiwi tak membalas.


***


"Mami kenapa? Dari tadi Papi perhatikan senyum-senyum sendiri."


"Mami lagi manas-manasi si bule kampret, Pi. Anak kita itu bilang mau balikkan sama Karlina. Mami sudah tak tahu lagi harus menyadarkan Alex dengan cara apa. Sudah jelas Karlina itu selingkuh, masih saja di belain."


"Jika masanya sudah datang. Alex pasti berubah, kita tunggu waktu itu tiba dan jangan bosan mengingatkan."


"Semoga masa itu cepat datang, Mami ingin Alex dan Sabrina bisa rukun. Agar secepatnya Mami nimang cucu."


Mami Tiwi tersenyum sumringah, seolah masa itu akan cepat datang menghampiri. selesai berpamitan kepada sang suami Mami Tiwi menuju ke kamar Sabrina untuk melihat keadaannya. Karena kini Sabrina berada di rumah Mami Tiwi. Gadis itu dirawat di rumah sakit hanya satu hari saja, karena meminta pulang secepatnya. Dan saat berada di rumah sakit Sabrina mendapat perhatian dari Andra, pria itu benar-benar memperhatikan kesehatannya.


Sempat Andra menjelaskan kalau hubungannya dengan Sabrina hanya sebatas teman dekat. Namun, Mami Tiwi melihat dari sorot mata pria itu. Andra mencintai Sabrina. Mami Tiwi tahu kalau Andra seorang pria yang baik karena ia juga termasuk teman Alex, ya walaupun tidak terlalu dekat.