Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 57


"Rey, bagaimana dengan penyelidikannya. Apakah sudah ada pengakuan dari para penjahat itu, siapa yang menyuruh mereka?" Mami Tiwi bertanya penuh harap, ingin cepat mengetahui pelaku kejahatan tersebut.


"Tidak, Mami. Mereka tetap kekeh, murni kejahatan mereka sendiri dan tak ada yang menyuruh."


Mami Tiwi berpindah posisi, duduk disamping Rey. "Rasanya tak mungkin, gelagat mereka seperti orang suruhan. Tapi tak apa, lambat laun kejahatan itu pasti terbongkar. Tinggal menunggu waktunya saja."


"Betul Mami, sepandai apapun tupai melompat akhirnya akan jatuh juga."


Mami Tiwi menepuk pundak Rey, sampai pria itu hampir tersedak kopi yang sedang diminumnya. Dan diakhiri dengan gelak tawa dari keduanya.


"Kamu benar, akan tetapi kita harus lebih waspada. Mami merasa Karlina lah dalang dibalik ini semua."


"Aku juga berpikir gitu, Mi. Pasti Karlina dendam sudah Mami usir."


"Mami geram sama si bule kampret yang belum sadar juga, harus dengan cara apa Mami mencuci otaknya si bule agar jernih." Mami Tiwi menghela napas berat. Ingin segera mendapatkan keajaiban atas sikap Alex.


Sampai kapan putra satu-satunya itu bersikap plin-plan. Sabrina tak mau dilepaskan, Karlina masih menjadi pujaan. Mantra apa yang ditiupkan Karlina kepada Alex, sampai putranya ragu untuk melepas wanita ular itu.


Mami Tiwi memijat pelipis, kepala berdenyut kencang jika memikirkan masa depan putranya yang belum sadar dari setiap kesalahan.


***


"Tuan, sudah belum?" Sabrina merasa heran dengan ketidak puasan Alex.


"Belum sebentar lagi, kamu diam jangan banyak bicara. Ini juga karena kamu sudah menggodaku." Napas Alex memburu, Sabrina kini menjadi candu yang tak bisa dilewatkannya.


"Katanya ada meeting?"


"Biarkan Rey yang menangani." Alex menempelkan bibirnya. Karena Sabrina tak hentinya bicara, agar kegiatan penuh kenikmatan itu tak terganggu.


Di puncak kegiatan Alex dengan Sabrina. Ponsel Alex yang berada di atas nakas berdering, mengganggu kegiatan yang sedang dilakukan. Alex mengerang kesal, selalu saja ada yang mengganggu. Tak peduli dan membiarkan suara getaran ponsel itu sampai berhenti sendiri.


"Ayo kita mandi bersama," ajak Alex pada Sabrina.


Belum di jawab pun oleh Sabrina tubuh kecilnya sudah melayang. Alex menggendong Sabrina ke kamar mandi.


Alex menyandarkan punggungnya ke tembok, melipat tangan di dada. Melempar senyum yang sulit diartikan, membuat Sabrina merasa ngeri melihatnya.


"Sudah kesekian kalinya masih saja malu, semua yang ada padamu tak asing lagi dimataku. Aku melihat semuanya dan tak satu pun yang terlewat."


Sabrina menyemprotkan air shower pada Alex. Pria itu sempat terkejut, tak lama membalas menyemprotkan air ke tubuh Sabrina.


"Hentikan, Tuan," ucap Sabrina Sambil tertawa.


"Kamu yang mulai," balas Alex sembari tertawa, "ternyata seru juga main air," ucap Alex lagi tak lepas menyemprotkan air pada Sabrina.


Suara tawa penuh bahagia itu sampai terdengar keluar kamar, Bibi An merasa senang. Kedua majikannya sedang akur dan melaporkannya kepada Mami Tiwi.


Tubuh Sabrina menggigil, lain kali ia tak mau lagi bermain air dengan Alex. Pria itu sangat berbahaya, mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Alex melempar senyum pada gadis yang kini sedang duduk ditepi dipan, tangannya berkutat dengan hair dryer mengeringkan rambut. Sabrina tak membalas senyum Alex, terlalu sebal pada pria yang berstatus suami itu. Karena sudah merasainya lagi dengan alasan Sabrina yang sudah menggodanya.


"Biar aku membantu mengeringkan rambutmu." tawar Alex berusaha meraih herdier tersebut.


Dengan nada ketus. Sabrina menjawab, tak perlu. Karena benar-benar merasa jengkel pada sikap pria yang tak ada puasnya.


Alex yang melihat Sabrina ketus, malah menggodanya. Menghujani gadis itu dengan kecupan di wajah.


"Nanti aku belikan hadiah, mau?" Alex menangkup wajah Sabrina.


Namun, Sabrina malah menggigit jari telunjuk Alex yang dengan nakalnya mengelus bibir Sabrina.


"Ish, main gigit terus kayak kucing saja," keluh Alex meniup jarinya yang terasa panas.


Sabrina tak peduli dengan keluhan Alex. Karena ia juga merasa tak nyaman dibagian pinggangnya. Dengan wajah kesal, Sabrina mengambil baju dari lemari. Karena ia masih menggunakan jubah mandi.


Sengaja Sabrina masuk ke kamar mandi, ia tak mau Alex melihatnya sedang berpakaian. Mata pria itu bagai kucing garang yang kelaparan.


Selamat membaca, semoga masih setia menunggu cerinya ini.