Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 2


Sabrina memeluk lututnya sambil menangis, mencengkeram erat selimut yang menutupi tubuh polosnya. Harga diri yang selama ini dipertahankannya sudah hancur dalam sekejap mata. Kini ia bagai sampah yang tak ada harganya sama sekali, menangis yang kini gadis delapan belas tahun itu lakukan. Mengingat kejadian semalam saat mahkota berharganya direbut paksa.


Rambut panjang berkepang dua itu terlihat acak-acakan, menangis yang kini mengiringi gadis itu saat berusaha berjalan untuk memunguti pakaian yang berserak dilantai. Sabrina bergegas memakai baju yang sudah robek itu. Berjalan tertatih menahan sakit menuju pintu keluar. Sabrina menoleh kebelakang melihat pria yang sudah merenggut segalanya, pria itu masih tertidur pulas dalam mimpi indahnya.


Gagang pintu dibukanya perlahan, berjalan keluar dari kamar tersebut sambil menangis. Pikirannya melanglang buana, harus apa? Bagaimana? Ia sangat bingung. Memikirkan nasibnya yang malang.


Sabrina berdiri di teras depan rumah, disandarkan punggungnya pada tiang berukuran besar itu. Tak lama terdengar suara deru mobil masuk pekarangan rumah. Mobil sedan warna hitam itu berhenti tepat di depan Sabrina, sontak membuatnya terkejut.


"Sabrina!" Panggil seorang wanita berusia empat puluh delapan tahun itu keluar dari dalam mobil dan menghampirinya. Ia terlihat kaget melihat penampilan keponakannya yang acak-acakan. Bajunya sobek dibagian tangan dan dada.


Sabrina segera memeluk wanita tersebut dan kembali menangis.


"Bibi aku takut," ucap Sabrina dalam pelukan bibinya yang bernama Eis.


"Tenang, Bibi ada disini." Eis menghapus air mata yang mengalir deras di pipi Sabrina.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya wanita berparas cantik itu dan mengajak Sabrina kembali kedalam rumah.


"Aku tidak mau," tolak Sabrina, wajah takutnya terpancar jelas.


"Ini pasti ada hubungannya dengan anak sontoloyo itu!" decak seorang pria yang sedari tadi memasang wajah kesal, seolah tahu apa yang sudah menimpa Sabrina.


Pria bernama Tanto Wijaya itu menggeleng setelah sampai di kamar mendapati putranya yang masih terlelap tidur. Saking kesalnya Tanto menuju kamar mandi mengambil ember berisi air dan menyiramkannya pada pria yang masih tidur itu.


"Arkh!" pekiknya, ia terbangun dari mimpi indahnya sambil memegangi kepala yang masih terasa pusing akibat minuman beralkohol yang sudah diminumnya. Mengusap wajahnya yang basah, rautnya wajahnya nampak kebingungan.


"Ada apa ini, Pi? Kenapa aku disiram seperti ini?" Protes yang kini dilakukannya, tak terima dengan perlakuan papinya.


"Pura-pura amnesia, bangun! Pakai pakaianmu sekarang, Papi tunggu diruang tamu." Tanto membanting pintu kamar saking kesalnya.


"Apa yang terjadi sama Papi, Mam? Papi sampai marah-marah nggak jelas."


"Belum sadar juga, masih mabuk?" Tanto kehilangan kesabaran dan ingin menampar putranya.


"Papi, sabar," ucap Tiwi, istri--Tanto.


"Gimana bisa sabar menghadapi anak kurang ajar ini, sudah bikin salah masih saja berpura lugu."


"Aku memang nggak ngerti dengan amarah Papi, lagian ini masih jam lima pagi. Aku masih ngantuk, kepalaku pusing banget."


"Pusing habis mabuk, bagus! Sudah berapa kali Papi bilang, kamu jangan mabuk-mabukan lagi dan sekarang bikin malu keluarga!"


Tak lama, Tanto memanggil Sabrina yang didampingi Eis. Gadis itu menunduk takut pada sosok pria yang kini membulatkan matanya.


Sial! Kini ia tak bisa mengelak lagi saat melihat gadis itu, ketidak sadarannya membuat Alex menyentuh Sabrina. Pergulatan dini hari tadi melekat dalam ingatan.


"Memangnya apa yang aku lakukan sama gadis ini." Alex berusaha mengelak, berharap sang mami akan membelanya.


Bukannya mendapat belaan. Tubuh Alex dipukuli oleh bantal kursi.


"Ampun, Mi, sakit."


Bukannya berhenti, Tiwi malah menjewer telinga Alex. Membuat putranya meringis sakit, namun tetap tak diberi ampun.


"Papi mau kamu bertanggung jawab!"


"Apa?!"