
Pagi-pagi sekali Mami Tiwi sudah berdiri didepan pintu rumah Alex, bersama Bibi Ar dan Bibi An. Semalam sewaktu Alex mengusir keduanya mereka pulang ke rumah Mami Tiwi dan mengadukan apa yang sudah terjadi di rumah Alex. Mami Tiwi sangat geram dan kedatangannya kali ini ingin memberikan pelajaran kepada si bule Arab itu.
Pintu rumah Alex berhasil dibuka dengan kunci cadangan yang Tiwi pegang. Ia bergegas masuk terburu-buru tak sabar ingin memberikan pelajaran, langkahnya terhenti saat melihat pasangan yang masih tidur nyenyak di sofa sambil berpelukan.
Suara deheman membuat Sabrina bangun dan terkejut pada sosok wanita yang kini sedang berdiri melipat tangan menyimpannya di dada.
Sabrina tersenyum kikuk pada Mami Tiwi, berusaha bangun. Namun, Alex tak mau melepaskan pelukannya dari pinggang Sabrina.
"Diam lah," ucap Alex.
Mata Sabrina terbelalak, tangan Alex menyelusup ke dalam bajunya. Mencari sesuatu yang bisa dimainkannya.
"Alex!" teriak Mami Tiwi.
Suara Mami sampai kebawa ke alam mimpi segala. Saking berisiknya bagaikan suara terompet saja.
Sabrina tergesa mendorong tubuh Alex sampai tubuh pria itu jatuh ke lantai.
"Cupu! Apa-apaan sih kamu ini? Sakit tahu."
"Ada Mami," jawab Sabrina memberi isyarat.
Alex seketika cengengesan menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal, ternyata benar ucapa Sabrina. Dan bukan maminya saja, kedua pembantu yang Alex usir semalam kembali lagi. Pasti mereka sudah mengadu, sial! Alex acuh kembali saat melihat Sabrina. Gengsi dong kalau sampai ketahuan maminya meluk-meluk Sabrina.
"Saking nggak levelnya sama gadis cupu, tidur pun sampai meluk-meluk dan main raba segala." Mami Tiwi menggelengkan kepala, putranya ini memang pandai ngeles.
"Dalam mimpi, Karlina yang sedang disampingku, Mi," ralat Alex.
"Jangan sebut nama wanita itu lagi didepan Mami, putuskan dia," titah Tiwi emosi, tak tahu lagi harus dengan apa memberi tahu putranya. Karlina itu bukan wanita yang baik.
"Bukan Karlina yang aku tinggalkan, tapi si cupu ini yang harus secepatnya aku singkirkan," tunjuk Alex kepada Sabrina. "Seharusnya bukan dia yang tinggal di rumah ini, tapi Karlina, Mi. Karlina!"
Plak.
"Gadis cupu ini memang pantas diperlakukan seperti itu!"
Amarah Tiwi sudah sampai ubun-ubun. Ingin sekali ia meledakkannya. Namun, ia tahan. Tiwi menarik tangan Sabrina agar ikut dengannya.
"Mami nggak ada hak untuk membawanya, ingat perjanjian sebelum pernikahan." Alex menarik tangan Sabrina kasar.
Tiwi menarik sudut bibirnya, menghela napas berat. Menyuruh Bibi An mengambilkan tongkat sakti dari dalam mobil.
"Jangan menguji kesabaran Mami, Lex." Mami Tiwi mengejar Alex yang lari terbirit karena takut kena pukul tongkat maminya. Alex lupa kalau maminya itu ahli bela diri dan menjuarai olahraga taekwondo, yang sekali pukul saja bisa membuat gigi Alex rontok.
"Ampun, Mi. Aku hanya bercanda ngomong kayak gitu sama si cupu."
Tiwi menangkap Alex dan menendang bokongnya sampai tersungkur ke sofa.
"Kamu mau melihat Mami cepat mati kan, Lex." Seketika air mata Mami Tiwi membasahi pipi.
Alex bersimpuh di kaki Tiwi. "Tidak, Mi. Aku sangat menyayangi Mami, harta yang paling berharga hanyalah Mami seorang."
Tiwi mengacuhkan Alex. "Jika kamu mau Mami cepat mati, nikahilah Karlina secepatna."
Alex mengepalkan kedua tangan menahan amarah yang membelenggu jiwa, maminya ini selalu saja memanfaatkan kelemahannya. Tak ada kata yang bisa diucapkan lagi olehnya. Alex menuju kamar sembari membanting pintu.
Kehadiranku membuat Tuan Alex tersiksa dengan perasaannya, aku hanya jadi penghalang untuk hubungannya dengan Karlina. Setiap sentuhannya hanya sebuah pelampiasan, dalam pikirannya hanya Karlina seorang. Sebaiknya aku mengalah dan lagi untuk apa aku disini, tak ada cinta diantara aku dan Tuan Alex. Aku nggak mau jadi pelampiasan kebuasannya lagi.
Tiwi membuyarkan ketertegunan Sabrina. Mengajak gadis itu pulang ke rumahnya, Sabrina sempat menolak. Namun, setelah dipikir-pikir lebih baik ia pergi. Agar Alex bisa punya waktu bersama wanitanya.
Sabrina mengemas pakaian dan segera pergi bersama Mami Tiwi. Alex hanya melihat kepergian Sabrina dari balkon kamarnya.
Pergilah cupu, itu jauh lebih baik.